Raih cuan di era digitalisasi, saatnya UMKM bersahabat dengan teknologi

Jum'at, 9 Juli 2021 | 17:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai peluang UMKM untuk berkembang dengan digitalisasi sangat terbuka lebar.

Menurutnya, kondisi Covid-19 merupakan kondisi yang luar biasa, dengan di sisi lain ekonomi terpukul.Namun, di sisi lain menjadi peluang untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Tapi jika UMKM kita masih kedap teknologi, otomatis UMKM kita akan begini-begini saja. Yang masuk ke ekosistem digital tidak akan lebih dari 17%, atau paling top 20%," ujar Nailul dalam seminar virtual di Jakarta, Jumat (9/7/2021).

Nailul menambahkan ketika dihadapkan dengan ketimpangan digital yang tinggi, impor barang konsumsi tinggi, dan sumber daya manusia dengan pengetahuan finansial tidak diperbaiki, maka UMKM di Tanah Air akan stagnan selama lima tahun hingga 10 tahun ke depan.

Menurutnya, saat ini peluang bagi digitalisasi UMKM sangat terbuka. Dia mengingatkan UMKM sudah saatnya bersahabat dengan perkembangan teknologi. "Jangan lagi alergi dengan teknologi," tukasnya.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, saat ini baru 13% UMKM yang sudah terdigitalisasi.Bahkan, Kemenkop UKM mencatat 94% UMKM tidak menggunakan komputer dalam menjalankan usahanya dan 90% UMKM tidak menggunakan internet.

Sementara untuk peluangnya, Kemenkop mencatat terjadi pertumbuhan pengguna e-commerce sebanyak 13,5% di 2020, dengan transaksi e-commerce mencapai Rp 26,6 triliun. Pertumbuhan transaksi e-commerce juga tercatat naik 26,6% per tahun.

"Kalau bisa berpindah dari offline, itu sangat terbuka sekali peluangnya di Indonesia, dengan penduduk yang besar, dan potensi digital yang besar. Kue ekonomi digital harapannya tidak hanya dinikmati segelintir orang," ujarnya.

Untuk memperbaiki kondisi ini, Nailul mendorong pemerintah untuk mengadaptasikan teknologi ke sistem pendidikan Indonesia. Dia melihat, selama ini pendidikan Indonesia kurang adaptif dengan sektor ICT.

"Kementerian Pendidikan harus bisa mengadaptasikan teknologi ke sistem pendidikan Indonesia, karena adaptasi ICT masih sangat rendah di sistem pendidikan di Indonesia," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: