Fintech P2P lending melejit di tengah pandemi, FinPlus & UKU jadi solusi keuangan

Kamis, 15 Juli 2021 | 17:10 WIB ET
Marketing Komunikasi Manager FinPlus, Yulia Inggit Palupi.
Marketing Komunikasi Manager FinPlus, Yulia Inggit Palupi.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia sangat berdampak kepada sektor ekonomi. Sebagian besar bisnis terdampak, baik perusahaan besar, bisnis mikro maupun individual. Kendati terdampak pandemi Covid-19, fintech lending mampu merealisasikan akumulasi pinjaman signifikan.

Lojakan tersebut didukung oleh kenaikan akumulasi rekening dan transaksi baik dari pemberi dana dan peminjam dana. Tren kenaikan tersebut terus berlanjut hingga April 2021 dengan nilai akumulasi penyaluran pinjaman nasional mencapai Rp 182,62 triliun dengan nilai outstanding pinjaman mencapai Rp 20,61 triliun.

Selain tindakan tegas dengan memblokir dan mengumumkan daftar fintech ilegal, kegiatan edukasi dan kampanye untuk mengajak masyarakat tidak menggunakan layanan pinjaman online (pinjol) ilegal juga sangat penting untuk menyadarkan dan meningkatkan literasi masyarakat sehingga bisa membedakan fintech yang berizin dan mana yang tidak resmi.

Sebuah gerakan yang melibatkan asosiasi, pelaku fintech pendanaan legal, dan masyarakat untuk memberi edukasi sangat diperlukan agar masyarakat secara luas memiliki pemahaman yang baik dalam menggunakan layanan fintech pendanaan agar terhindar dari jeratan pinjaman online ilegal.

Untuk mendukung tujuan tersebut platform fintech P2P lending terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) PT Rezeki Bersama Teknologi (Finplus) dan PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU) menyelenggarakan talk show bersama mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo pada Kamis (15/7/2021) secara daring.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending serta pemahaman inovasi yang dilakukan fintech untuk tetap melayani masyarakat selama masa pandemi.

Marketing Komunikasi Manager FinPlus, Yulia Inggit Palupi berharap dengan kehadiran layanan dari fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital dan membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending terutama untuk UMKM.

Chief Executive Officer UKU, Tony Jackson menambahkan, dengan adanya edukasi daring ini, pihaknya juga berharap masyarakat Gorontalo dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi dan tetap waspada terhadap fintech ilegal.

Sementara itu guna memboikot pinjaman online illegal dan menciptakan budaya yang bertanggung jawab sosial, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) turut berkampanye menyuarakan Gerakan 5M, yakni mengabaikan iklan menggiurkan dan pinjaman dengan bunga besar, melakukan pengecekan pinjaman dari situs resmi OJK dan AFPI, memastikan legalitas dan rekam jejak digital platform pinjaman online, meneliti syarat dan ketentuan pinjaman, dan ewaspadai penyalahgunaan data pribadi.

Kedua narasumber pada acara juga menerangkan di tengah kinerja industri yang meningkat, tetap masih maraknya  pelaku pinjaman online (pinjol) ilegal. Satgas Waspada Investasi (SWI) saat ini telah melakukan pemblokiran pada 3.193 pinjol ilegal di Indonesia. kbc10

Bagikan artikel ini: