Bayar tol tanpa berhenti ditargetkan dimulai 2023

Jum'at, 30 Juli 2021 | 14:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan modernisasi layanan jalan tol seperti implementasi sistem transaksi nirsentuh/Multi Lane Free Flow (MLFF) mulai diterapkan pada 2023.

Upaya modernisasi sistem operasi jalan tol juga akan dilakukan dengan pemanfaatan teknologi pengawasan (surveillance) untuk kendaraan-kendaraan berdimensi lebih (overdimension), maupun yang bermuatan lebih (overload) untuk meningkatkan kelancaran jalan dan keselamatan serta kenyamanan terutama dalam pemeliharaan jalan.

"Saya ingin menegaskan kembali hasil kesepakatan bersama antara Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian dan Menteri PUPR pada rapat 24 Februari 2020 silam, bahwa kendaraan yang overdimension-overload atau kendaraan ODOL tidak diperbolehkan beroperasi di jalan tol mulai 1 Januari 2023," ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan resmi, Kamis (29/7/2021).

Basuki pun menginstruksikan seluruh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) agar memasang instalasi teknologi Weight in Motion (WIM) dan overdimension detection yang ditargetkan rampung pada akhir 2022.

"Sehingga 1 Januari 2023 sudah mulai ada penindakan pelanggar ODOL. Teknologi ini akan terkoneksi dengan sistem penegakan hukum elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang dioperasikan oleh Korlantas Polri," ungkapnya.

Basuki pun mendorong seluruh BUJT untuk terus meningkatkan tata kelola sistem layanan jalan tol termasuk dengan memanfaatkan teknologi menuju modernisasi Sistem Operasi Jalan Tol (Intelligent Tollroad System).

"Saya berkeyakinan bahwa masa pandemi ini merupakan momentum untuk memperbaiki tata kelola pelayanan publik dan menyehatkan perusahaan operator jalan tol, seperti yang sudah terjadi pada sistem pelayanan kesehatan yang terus ditingkatkan dengan adanya pandemi," ujar Basuki.

Basuki menjelaskan, semakin banyaknya ruas tol yang beroperasi sehingga banyak tantangan yang muncul. Seperti manajemen lalu lintas jalan tol yang semakin kompleks hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kinerja operasi jalan tol menjadi kebutuhan.

Tercatat hingga akhir 2020, telah dioperasikan 2.346 km jalan tol oleh 40 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), yang meliputi 60 ruas di seluruh Indonesia.

"Tantangan manajemen lalu lintas jalan tol tidak hanya untuk kebutuhan mengelola 1,3 miliar transaksi pada 2020 dengan nilai Rp 22 triliun, tetapi juga termasuk tata kelola pengoperasian lalu lintasnya untuk menekan/ mengurangi fatalitas kecelakaan yang ada. Inilah yang menjadi bagian penting dari The Intelligent Tollroad System yang merupakan bagian dari Intelligent Transportation System," ujarnya.

Menurut Basuki, Intelligent Toll Road System atau Tollroad 4.0 akan menjadi fitur pengoperasian jalan tol di masa depan, dan akan diawali dengan implementasi sistem transaksi nirsentuh dan teknologi pemantauan kendaraan berat ke depan.

Inovasi-inovasi diharapkan bisa terus dilahirkan, tentu saja dengan dukungan dari Intelligent Transport System (ITS) Indonesia. kbc10

Bagikan artikel ini: