Survei persepsi publik soal pemberitaan Covid-19, ini hasilnya

Senin, 2 Agustus 2021 | 16:59 WIB ET

JAKARTA - Sebuah survei persepsi publik yang dilakukan tiga akademisi Universitas Multimedia Nusantara bekerja sama dengan Dewan Pers menunjukkan pemberitaan Covid-19 yang dilakukan media sudah memadai, dan informasi vaksinasi menjadi kebutuhan.

Dalam survei yang dilakukan pada Mei dan Juni itu, publik menilai media massa telah menjalankan peran pers dengan baik dan diseminasi informasi terkait pandemi Covid-19 sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 terkait fungsi informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

"Berdasarkan klasterisasi jawaban, media nasional menjadi rujukan utama publik terkait Covid 19. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap pers masih tinggi," demikian keterangan hasil survei yang diterima Senin (2/8/2021).

 

Penelitian dilakukan oleh tiga orang akademisi dan pengajar Universitas Multimedia Nusantara, yakni Albertus Magnus Prestianta, Sita Winiawati Dewi; dan Utami Diah Kusumawati.

Responden dalam survei ini adalah penduduk laki-laki dan perempuan berusia 15 tahun ke atas. Selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan kelompok baby boomer (BB) , generasi X, generasi Y Milenial, dan generasi Z.

Pengumpulan data dilakukan dengan online survei bekerja sama dengan JakPat Mobile Survey, dengan teknik nonprobability sampling. Total responden yang terkumpul sebanyak 1.119, margin of error plus minus 3%, serta level of confidence 95%.

Dijelaskan bahwa responden rata-rata mengakses berita soal pandemi berkisar kurang lebih 1 jam. Bila dipecah berdasarkan kelompok generasi, semakin muda generasi semakin pendek durasinya dalam mengakses berita.

"Publik juga berharap, khususnya di daerah, agar data terkait Covid 19 akurat, transparan dan bisa diakses."

Temuan menarik lainnya dari survei ini adalah mayoritas responden mengalami kelelahan emosional akibat terpaan berita Covid-19, sehingga publik membatasi diri dan lebih selektif dalam mengakses berita, secara kuantitas maupun durasi.

Diketahui bahwa mayoritas responden yang mengakses berita pandemi mengalami perubahan perilaku hidup menjadi lebih sehat. Yakni sebesar 58,7%. Sedangkan yang tidak ada perubahan perilaku hanya 5,8%.

Namun mayoritas responden 42,6% masih belum bisa menggambarkan realitas sebenarnya setelah membaca berita. Sedangkan yang dapat menggambarkan realitas sebenarnya sebesar 20,3%.

Publik membaca satu-dua artikel sehari sebanyak 52,3%. Yang membaca tiga-empat artikel sebanyak 30,1% , lima-enam artikel sebanyak 10,2% responden, dan sisanya yang membaca lebih dari tujuh artikel di bawah 10%.

"Publik mempersepsikan media sebagai agen komunikator kesehatan publik. Publik juga mempersepsikan media adalah ujung tombak dalam melawan penyebaran misinformasi dan disinformasi," demikian ditegaskan dalam survei itu.

Bagikan artikel ini: