Akankah pertanian masih jadi penopang pertumbuhan ekonomi di saat pandemi?

Kamis, 5 Agustus 2021 | 19:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengungkapkan pertanian menjadi sektor yang tumbuh konsisten sejak pandemi Covid-19.

Bahkan ketika pada triwulan II 2020, perekonomian Indonesia terkontraksi secara dalam sebesar -5,32%, laju pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap bisa tumbuh 2,20% saat itu. "Bila kita lihat polanya, Triwulan 2 itu seharusnya perekonomian bisa tetap tumbuh positif. Tapi karena pandemi, pertumbuhan kita pada Triwulan 2-2020 justru mengalami kontraksi," jelas Margo dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (5/8/2021).

Konsistensi pertumbuhan positif pada sektor pertanian terus berlanjut pada kuartal-kuartal berikutnya. Tercatat pada Triwulan III dan Triwulan IV tahun lalu, sektor pertanian mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 2,16% dan 22,59%. Sementara pada Triwulan I- 2021, pertumbuhan sektor pertanian mencapai 3,33%.

Pada triwulan II -2021, sektor pertanian tercatat tumbuh sebanyak 0,38% secara y-on-y. Sedangkan bila dibandingkan kuartal sebelumnya, pertumbuhannya bahkan mencapai 12,93%. "Kontribusi pertumbuhan sektor pertanian dating dari subsektor peternakan tumbuh 7,07%. Pertumbuhan didorong oleh meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan di dalam maupun luar negeri," sebut Margo.

Selain peternakan, hortikultura dan perkebunan tumbuh masing-masing sebanyak 1,84% dan 0,33%. Peningkatan permintaan komoditas sayuran dan buah-buahan disinyalir turut mendorong pertumbuhan sub setor hortikultura. Sementara pertumbuhan positif perkebunan dipacu oleh peningkatan produksi komoditas kelapa sawit.

Sementara itu, sub sektor tanaman pangan terkontraksi sebesar 8,16%, meskipun bila dibandingkan triwulan sebelumnya tetap tumbuh sebanyak 10,50%. "Tapi hal tersebut wajar karena telah berlalunya puncak panen raya yang bergeser ke Triwulan I-2021," tutur Margo.

Margo juga turut mencatat, pertumbuhan perekomian Indonesia tak bisa dilepaskan dari peningkatan kinerja ekspor. Pada Triwulan 2-2021, transaksi ekspor Indonesia mencapai US$ 53,97 miliar. "Perlu digarisbawahi, ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan positif. Hal tesebut menyebabkan perdagangan kita dengan negara-negara tesebut pun meningkat," imbuhnya.

Harga komoditas makanan, seperti minyak kelapa sawit dan kedelai di pasar internasional pada Triwulan 2-2021 mengalami peningkatan baik secara q to q maupun y-on-y. Ekspor pertanian sendiri mengalami pertumbuhan hingga 13,24% secara y-on-y. "Ekspor pertanian pada Triwulan 2-2021 mencapai US$ 906,7 juta , meningkat 13,24% dibandingkan Triwulan 2-2020 yang transaksinya senilai US$ 800,7 juta," kata Margo.

Meski begitu, Margo juga melihat lapangan usaha sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan mendapatkan angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) terkecil selama kuartal II-2021 dari 16 sektor lapangan usaha. Margo menuturkan sektor pertanian pada kuartal II tahun ini hanya mampu tumbuh 0,38% secara yoy.

Angka itu jauh lebih kecil dari pertumbuhan pada kuartal I tahun ini yang mencapai 3,33%. Tercatat, hanya sektor pertanian yang mendapatkan pertumbuhan di bawah 1% disaat sektor lapangan usaha lainnya paling tumbuh di atas 2%.

Margo mengatakan, rendahnya pertumbuhan sektor pertanian juga menjadi salah satu faktor yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II belum normal meski kembali pada level positif. Diketahui, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 7,07 persen secara yoy. Meski angka pertumbuhan melesat, Margo menilai, pertumbuhan tersebut belum pada kondisi normal seperti sebelum masa pandemi Covid-19.

"Lapangan usaha sektor pertanian, perdagangan, dan industri yang biasanya menjadi penyerap terbanyak lapangan pekerjaan juga menjadi sektor yang pertumbuhannya paling kecil," ujarnya.kbc11

Bagikan artikel ini: