Bio pertanian presisi, upaya efisiensi produksi dan penyelamatan ekologi

Jum'at, 6 Agustus 2021 | 08:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Provitas hasil panen padi petani sebesar 5 ton gabah kering giling (GKG), mengalami stagnasi sejak kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal Ini disebabkan ketergantungan petani terhadap pupuk sintetis dan pestisida semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Gilirannya kondisi tanah semakin jenuh , kesuburan semakin berkurang karena kehilangan unsur hara.Persoalaan bertambah runyam, akibat perilaku petani yang cenderung tidak rasional mengkonsumsi pupuk urea (sintetis) melebihi dosis rekomendasi Kementerian Pertanian. Bukan hanya beban fiskal akibat menanggung subsidi pupuk Rp 25,3 triliun di APBN 2021.

Namun juga, ancaman kerusakan ekologi yang makin meluas akibat penggunaan pupuk sintesis dan pestisida.Melihat kompleksitas persoalaan ini, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) University berkolaborasi dengan PT Prima Agro Tech, produsen penyedia soslusi berbasis mikroba pertanian mengembangkan penelitian Sustainable Bio Precision Rice Farming atau teknologi bio pertanian presisi.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University Dr Sugiyanta menuturkan teknologi bio pertanian presisi sebagai terobosan peningkatan provitas, efisiensi biaya produksi dan ramah lingkungan berkelanjutan. Teknologi ini terdiri dari kombinasi penggunaan mikroba bermanfaat (beneficial microbes) dan optimasi penggunaan pupuk sintetis, pembenah tanah , serta pemanfaatan pestisida biologi dalam pencegahan dan pengendalian hama penyakit.

Menurut Sugiyanta, penelitan yang dilakukan mulai awal tahun 2021 ini menggunakan perbandingan penggunaan benih padi Inpari 31 dan 32 dengan IPB3S yang ditanam seluas 1 hektare (ha) berhasil meningkatkan provitas padi sebesar 9 ton gabah kering panen (GKP) atau setara 7,2 ton.Tentunya, pencapaian produksi itu lebih besar dari produktivitas padi nasional sebesar 5,12 ton GKG.

"Penggunakan pupuk sintetis tetap harus diberikan.Tapi tidak terlalu banyak," ujar Sugiyanta usai panen padi dari demplot di Desa Situdam, Jatisari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/8/2021).

Sugiyanta menambahkan, teknologi pertanian presisi bukan semata mata menekankan peningkatan provitas hasil panen. Peningkatan pendapatan petani yang diikuti pula perbaikan kualitas dan turunnya biaya sarana produksi usahatani menjadi kata kunci.

Dr Suryo Wiyono, Ketua Tim Penelitian yang juga Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB University mengatakan peningkatan provitas panen padi di lahan uji coba ini tidak terlepas dari peran mikroba bermanfaat yang masing masing memiliki fungsi berbeda. Seperti mikroba dekomposer yang berfungsi mengurai organisme mati dan mengubah residu organik menjadi siklus nutrisi yang menunjang siklus kesuburan tanah.

Selain itu, mikroba endofitik memiliki peran membangun imun pada tanaman. Kemudian mikroba entomopatogen (pengendali hama dan penyakit ) hingga mikroba biostimulant (penambah Nitrogen), pelarut fosfat dan penghasil hormon pertumbuhan). Peneliti mampu mengidentifikasikan masing-masing mikroba yang diyakini efektif dan aman.

Adapun mikroba dari komponen senyawa organik humat & fulvat serta pemupukan sintesik yang spesifik dan optimum. Penelitian teknologi bio presisi padi berlangsung selama dua musim tanam dari tahun 2021 hingga 2022 yang berlokasi di lima sentra budidaya padi, yakni Jawa Barat (Karawang & Subang), Jawa Tengah (Klaten) dan Jawa Timur (Bojonegoro dan Ngawi) serta lingkungan terkondisikan di stasiun lapang penelitian IPB.

Direktur Riset dan Marketing PT Prima Agro Tech Gunawan Sutio mengatakan, peneliitian bio pertanian presisi tanaman padi menekankan formula kebutuhan tanah dan pengendalian hama penyakit membutuhkan inovasi baru. "Intinya petani tidak akan mengadopsi apabila biaya input sarana produksi yang lebih mahal .Kita memberikan solusi komponen yang lengkap yang ramah lingkungan," ujar Gunawan.

Inovasi teknologi harus mampu menekan biaya input produksi atau paling tidak setara yang dikeluarkan petani. Untuk optimasi pupuk berpeluang menekan biaya produksi hingga 33%. Bahkan hasil penelitian penggunaan bio pestisida demplot di Bojonegoro, Jatim menekan biaya pengendalian hama hingga 100%.

Bio pestisida presisi, sambung Gunawan, bukan hanya menekankan presisi volume pemberian mikroba namun juga ketetapan waktu pengaplikasiannya. Penekanannya lebih kepada upaya preventif pengendalian hama.

"Penelitian dilakukan sebanyak dua-tiga kali perlakuan. Apabila trend hasilnya lebih baik maka dilanjutkan dalam hamparan luas tanah dengan formula yang lebih fokus," kata Gunawan.

Khusus daerah endemik mengalami Organisme Penyerang Tanaman (OPT), timpal Sugiyanta , harus dipetakan profil hamanya. Langkah penyehatan ekosistem secara bertahap dengan memperbesar jumlah mikro organisme yang berfungsi menjadi predator terhadap hama tanaman. "Tidak bisa menggunakan pestisida kimia. Ibarat menggunakan bensin. Nanti terbakar semua," pungkas Sugiyanta.kbc11

Bagikan artikel ini: