China perketat persyaratan ekspor produk pertanian asal RI

Minggu, 8 Agustus 2021 | 11:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kebutuhan produk pertanian Indonesia ke China sebagai negara mitra dangang masih terbuka lebar.Hanya saja, pandemi Covid-19 menjadikan alasan bagi China memperketat persyaratan kualitas produk yang harus di penuhi eksportir.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan Abdul Rahman menyampaikan hal itu dalam webinar FORWATAN dengan tema "Mendorong Ekspor Berbasis Kawasan" di Jakarta, Sabtu (7/8/2021).

Permintaan negeri Tirai Bambu ini terkait tiga hal yakni food safety (keamanan pangan), food quality (mutu pangan), dan traceability (ketelusuran). Tak ayal, Abdul Rahman mengakui dampak pengetatan aturan tersebut menyebankan volume produk pertanian Indonesia seperti porang mengalami penurunan.

Atas hal ini, kata Abdul Rahman, pihaknya terus melakukan pembahasan bilateral dengan China guna membangun kerjasama strategis agar produk pertanian dapat diterima pasar China. Menurut Rahman, Badan Karantina Pertanian telah mempelajari dokumen risk management yang dipersyaratkan China dan segera menyosialisasikannya ke petani dan eksportir porang.

"Kami terus mendorong agar produk Porang Indonesia sejalan dengan Food Safety Law yang dikeluarkan pemerintah China, sehingga kembali dipermudah masuk ke pasar China," kata Abdul Rahman.

Dia meminta eksportir turut melakukan pendampingan kepada petani agar berbudidaya tanam sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Pracliices (GHP) yang dipersyaratkan negara mitra dagang tujuan ekspor. "Saya harap petani porang agar tidak menggunakan pupuk kimia sebagaimana yang disyaratkan dalam draf protokol ekspor chip porang ke Tiongkok," tegasnya.

Kepala Badan Karantina (Barantan) Bambang juga mengajak mengajak para pelaku usaha pertanian terus mencermati dan disiplin terhadap tuntutan pasar global. Tuntuntan gaya hidup sehat di saat pandemi adalah keniscayaan yang sulit dihidari. Permintaan yang diminta China adalah hal revelan juga terjadi di negara negara tujuan ekspor pangan lainnya.

"Saya ingin mengajak kawan-kawan kita semua untuk sadar diri untuk disiplin terhadap tuntutan pasar global. Setiap bangsa di dunia ini berupaya mengamankan warganya dari potensi bahaya bagi kesehatan. Saya pikir tanggung jawab ini juga melekat di kita terkait erat dengan tugas Balai Karantina yang juga bertangung jawab mengamankan resiko-resiko dari bahaya bagi kesehatan," kata Bambang.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pegiat Petani Porang Nusantara (P3N) Deny Welianto mengakui, pandemi Covid-19 membuat negara mitra dagang meningkatkan pengawasan produk pertanian. Misalnya, China lagi menginginkan penanaman porang tidak lagi menggunakan pupuk kimia.

Selain itu, pekerja di industri pengolahan diharuskan menggunakan masker. Bahkan, otoritas teknis China meningkatkan inspeksi kemasan produk ekspor karena dikhawatirkan terkontaminasi virus Covid-19.

Deny mengatakan, petani masih menghadapi kendala serapan di pasar. Saat ini belum ada klister khusus pabrik porang di wilayah tertentu. Dari kurang lebih sekitar 18-19 pabrik yang ada semuanya terpisah-pisah dan itu akan membuat jarak mobilisasi petani menjadi lebih berat, atau menambah biaya post produksi ketika panen.

"Di sektor budidaya, untuk mulai budidaya porang itu tidak harus skala besar atau satu hektar dua hektar. Memulai budi daya porang itu berkaitan dengan budget dan target," ujarnya.

Menurut Denny, produksi porang sekitar 12 ton/4.000 meter persegi. Sementara itu, biaya produksi Rp 3.800 per kg. Sedangkan harga jual porang di tingkat petani di Riau saat ini sekitar Rp 7.000-7.500 per kg.

Produk porang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik, penjernih air, bahan baku tepung, bahan baku pembuatan lem dan jelly. Sampai saat ini ada empat negara yang secara resmi mendapatkan akses ekspor porang ke China antara lain Belgia, Korea Utara, Myanmar dan Jepang.

Nilai pasar porang secara global terus mengalami peningkatan. Tahun 2019 lalu, seperti dikutip dari Growth Market Reports mencapai US $2.069,3 juta dan diperkirakan meningkat menjadi US $3.771 juta pada tahun 2027. Data Barantan menyebutkan ekspor porang Indonesia sendiri pada semester I 2021 mencapai angka 14,8 ribu ton atau naik 160% dibanding periode sama tahun lalu.

Presiden Direktur PT Gading Mas Indonesia Tegus (GMIT) selaku produsen sekaligus eksportir Edamame, Erwan Santoso mengatakan, saat ini terjadi disparitas tinggi sehingga membuat produk hortikultura dari Indonesia kalah saing. Erwan menilai dibutuhkan peran investor untuk bisa meningkatkan kemampuan industri dan petani dalam mendukung peningkatan kualitas produk asal Indonesia.

Sebab, dengan investasi, proses produksi dapat dibenahi dari sisi kualitas karena adanya konsep quality control yang lebih ketat. "Kesejahteraan petani bisa kita jaga dalam jangka yang lebih panjang," katanya.

Menurutnya, saat ini konsumsi kedelai edamame di Jepang sebanyak 70.000 ton/tahun. Sedangkan Indonesia baru mampu memasok sebesar 3-4% di bawah Taiwan, China dan Thailand.

Data otomasi sistem IQFAST Badan Karantina menyebutkan ekspor edamame tahun 2019 meningkat sebesar 10,5% dibandingkan tahun 2018 yang hanya mencapai 6.075,9 ton atau senilai Rp. 329,98 M.Untuk pasar domestik, GMIT telah memproduksi edamame segar yang dipasarkan di dalam negeri, seperti di Bali, Jawa Timur, Jakarta dan Jawa Tengah.

Hingga akhir 2020, produksi edamame segar meningkat 32,5% dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 710 ton menjadi 941 ton. Selain itu, GMIT juga memproduksi edamame beku dan edamame beku kupasan yang juga dipasarkan secara domestik.kbc11

Bagikan artikel ini: