Miris! Ada 5.733 anak di Jawa Timur jadi yatim piatu gegara Covid-19

Selasa, 10 Agustus 2021 | 09:55 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat, hingga Minggu (8/8/2021) jumlah kematian akibat Covid-19 di provinsi tersebut sebesar 22.932. Dari jumlah itu 125 di antaranya anak-anak. Rinciannya, usia 0-5 tahun sebanyak 59 jiwa dan usia 6-18 sebanyak 66 jiwa.

Berdasarkan estimasi jumlah kematian akibat Covid-19 di Jawa Timur itu, sekitar 5.733 terdapat anak-anak yang menjadi yatim/piatu/yatim piatu.

"Pendataan anak-anak tersebut masih dalam proses di kabupaten/kota, yang kemudian akan dilakukan intervensi berupa antara lain pemberian bantuan sosial spesifik, pendampingan psikologi, peningkatan kapasitas ekonomi anak, pemberian hak sipil anak dan lain-lain," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK)  Jawa Timur Andriyanto, Senin (9/8/2021).

Menurut Andriyanto, upaya intervensi kepada anak-anak itu dilakukan secara paripurna dan berkelanjutan, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, seperti lembaga masyarakat dalam dan luar negeri, pengusaha, media, perguruan tinggi, Himpunan Psikologi Jawa Timur, UNICEF dan lain-lain.

Sebelumnya, Adriyanto menuturkan bahwa anak-anak yatim piatu itu rentan menimbulkan masalah sosial bila keliru dalam menangani. Misalnya terjerumus dalam pekerja anak setelah putus sekolah lantaran tak ada lagi yang membiayai. "Rawan dieksploitasi tenaganya, tanpa upah layak," kata Andriyanto.

Jika kelak mereka berumah tangga, maka akan menambah jumlah angka kemiskinan. Kerawanan lainnya, ujar Andriyanto, mereka dapat terjerembab ke dunia kriminalitas, seks bebas, prostitusi anak, budak narkoba, bahkan terorisme. "Dalam kondisi putus asa, mereka mudah dipengaruhi orang lain," tuturnya.

Dengan menggandeng seluruh pemangku kepentingan, DP3AK Jawa Timur berusaha mengurangi beban mereka. Anak yatim piatu usia SMP dan SMA akan dibekali ketrampilan kerja yang dapat menghasilkan uang. Mereka bakal disalurkan ke balai latihan kerja sesuai bakat dan kemampuannya. "Dalam inisiasi kegiatan dan program-program melindungi anak-anak tersebut, kami lakukan antara lain hal tersebut," kata dia.

Salah satu nasib getir dialami empat orang anak warga Kebraon, Surabaya. Dalam waktu sekejap, mereka menjadi yatim piatu karena ayah ibunya meninggal lantaran terinfeksi Covid-19. Keempatnya pun akhirnya terpaksa keluar dari rumah kontrakan yang selama ini ditinggali bersama ayah ibunya. kbc10

Bagikan artikel ini: