RI bakal kembangkan tiga proyek besar PLTS

Selasa, 10 Agustus 2021 | 19:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memaparkan tiga program besar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia yang kelak akan menjadi lokomotif peningkatan bauran energi bersih nasional.

"Pemerintah memprioritaskan pengembangan energi surya karena biaya investasi yang sekarang makin kompetitif, murah, waktu pelaksanaannya lebih cepat, dan kita memiliki sumber yang cukup banyak," ujar Arifin dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (10/8/2021).

Tiga program prioritas pemerintah dalam mendorong pengembangan PLTS, yakni PLTS atap, PLTS skala besar, serta PLTS terapung. Menteri ESDM Arifin menyebutkan kapasitas terpasang PLTS atap per Mei 2021 mencapai 31,32 megawatt (MW) dari 3.781 pelanggan yang tercatat oleh PLN. Pemerintah telah menetapkan target kapasitas terpasang PLTS atap sebesar 3,6 gigawatt (GW) pada 2030 dengan memanfaatkan gedung-gedung milik pemerintah, bangunan dan fasilitas milik BUMN, industri, bisnis, serta rumah tangga.

Kini Kementerian ESDM sedang merevisi regulasi PLTS atap yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 untuk memaksimalkan pemanfaatan energi surya baik rumah tangga maupun industri di Indonesia.Revisi peraturan yang memuat nilai keekonomian PLTS atap tersebut ditargetkan rampung tahun ini.

"Terus terang kita ketinggalan dengan Vietnam, karena Vietnam saat ini sudah memanfaatkan PLTS roof top sampai 17 GW, sementara kita masih ratusan MW," ujar Menteri Arifin.

Selain pengembangan PLTS atap, pemerintah juga mendorong pengembangan PLTS skala besar di area bekas tambang dan lahan nonproduktif.Kementerian ESDM menargetkan kapasitas terpasang PLTS skala besar mencapai 5,34 GW dengan potensi penurunanan emisi karbon sebanyak 7,96 juta ton.

Program PLTS skala besar tersebar merata di seluruh Indonesia mulai dari Sumatera berkapasitas 1.178 mw, Jawa-Bali 1.863 MW Kalimantan 563 MW, Sulawesi 781 MW, Maluku 426 MW, Nusa Tenggara 389 MW, dan Papua 141 MW.

Selanjutnya terkait program PLTS terapung yang terletak di waduk dan danau memiliki total potensi mencapai 28,20 gigawatt di 375 lokasi.Sementara itu untuk total potensi PLTS terapung di lokasi pembangkit listrik tenaga air sekitar 12,06 GW yang tersebar di 28 lokasi.

Dikatakannya, pembangunan PLTS terapung berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 17,8 juta ton karbon dioksida. "Banyak sekali water resources yang bisa kita manfaatkan di negara ini, di waduk dan danau alam yang kita miliki," ujarnya.

Dia melanjutkan, pengembangan EBTskala besar dengan menggarap potensi 50 gigawatt juga dilakukan melalui Program Renewable Energy Based Industry Development (REBID). Program REBID tersebut dicanangkan melalui integrasi antara sisi pasokan dan sisi permintaan untuk menciptakan pertumbuhan industri, seperti pemanfaatan PLTS skala besar yang terintegrasi dengan kawasan industri yang dapat menciptakan sinergi antara pengembangan energi bersih dan wilayah ekonomi.

"Ke depannya memang industri-industri ini pasti mewajibkan hasil produk industri yang memanfaatkan energi bersih. Untuk itu kita harus merespon tren ini ke depan sehingga industri industri kita produk-produknya bisa bersaing dengan pasar internasional," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: