Anomali harga, BULOG akui setop pengadaan gabah

Kamis, 19 Agustus 2021 | 08:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Terjadi anomali pergerakan gabah sepanjang bulan Juli 2021. Harga gabah baik ditingkat petani maupun penggilingan anjlok. Padahal memasuki musim gadu, harga gabah bergerak beranjak naik karena berkurangnya pasokan gabah di pasar.

Mengacu data Badan Pusat Statisk (BPS), Gabah Kering Panen (GKP) pada Juli 2021 dihargai Rp 4.311 per kg, anjlok hingga 5,17% dari bulan sebelumnya sebesar Rp 4.546 per kg. Adapun GKG dihargai Rp 4.874 per kg, turun 1,81% dari bulan Juni yang sebesar Rp 4.964.

Bukan hanya di tingkat petani, penurunan gabah lantas terjadi di tingkat penggilingan. GKP tercatat dihargai Rp 4.408 per kg, turun 5,11% dari Rp 4.645 per kg. Begitu pula dengan GKG sebesar Rp 5.002 per kg, menurun 1,64% dari bulan sebelumnya Rp 5.085 per kg.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Mokhamad Suyamto menuturkan, BPS menemukan kasus harga gabah jatuh sebesar 40% dari lebih 1.000 pengukuran berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). "Karena stok bulan Juli, karena stok BULOG hampir mendekati 1,5 juta ton maka kita hentikan pengaaan maka banyak kasus harga gabah dibawah HPP. Ini kita tidak inginkan," ujar Suyamto dalam webinar Pataka dI Jakarta, Rabu (18/8/2021).

Suyamto mengakui, BULOG tidak dapat optimal menyerap gabah petani karena pemerintah menetapkan acuan pengamanan pengamanan stok beras 1-1,5 juta ton. Pengadaan lebih ditekankan kepada fungsi untuk penguatan stok, bukan lagi menjaga HPP.

Di satu sisi hilangnya outlet penyaluran BULOG sepertI Program Beras Sejahtera (Rasta) menjadi Bantuan Pangan Non Tunai di tahun 2019. Kondisi ini menyebabkan BULOG kehilangan 70% saluran distribusi terbesar berasnya.

Penyaluran untuk Rasta berkisar 275.000-350.000 ton per bulan yang notabene merupakan captive market. "Tren pengadaan BULOG terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, menyesuaikan dengan outlet penyaluran," kata dia.

Padahal BNPT, pemerintah membebaskan swasta juga menjadi penyalur beras. Adapun CBP saat ini hanya disalurkan untuk kepentingan stabilisasi harga, bencana alam, kerjasama dan banuan internasional. "Tidak ada lagi outlet rutin untuk penyaluran beras CBP BULOG," terang Suyamto.

Sumyato mengkhawatirkan, jika tidak terjadi perbaikan ekonomi atau perlakukan yang signifikan maka diperkirakan akan terjadi kasus harga gabah di penggilingan di setiap bulannya selama tahun 2021. Menurut Sumyato, pihaknya tetap melakukan pengadaan gabah petani , namun untuk kepentingan komersial.

Bukan pengadaan CBP yang diperuntukan kepada kegiatan Public Service Obligation (PSO) .Pasalnya, UU BUMN mengamanatkan operasional dan bisnis BULOG harus berorientasi meraih margin.

"BULOG tetap bertranformasi.Pararel kita lakukan. Proporsi dari kegaitan komersial sudah meningkat menjadi 55% dan pelayanan publik sebesr 44%," pungkas Suyamto.

Data pengadaan Perum BULOG mengungkapkan berada fase yang terus menerus turun setiap tahunnya. Pada 2016 hingga 2017, serapan gabah dari petani masih mencapai jutaan ton, masing-masing yakni 3,5 juta ton, 2,06 juta ton, dan 2,99 juta ton.

Namun, memasuki 2019 hingga sekarang, tren penyerapan terus turun. Pada 2019, pengadaan gabah oleh Perum BULOG hanya 958.300 ton, lalu turun di 2020 menjadi 752.250 ton. Sampai dengan 15 Agustus 2021 lalu, penyerapan gabah oleh Perum BULOG tercatat sebanyak 765.333 ton.

Ekonom pertanian Mohammad Hussein Sawit mengatakan, perubahan pola pengelolaan stok beras pemerintah yang membuat harga gabah anjlok di musim gadu merupakan anomali. Karena penurunan harga gabah hanya berlangsung tiga-empat bulan di musim panen raya.

Pemerintah harus memikirkan dampak anjloknya harga gabah dengan turunnya pendapatan petani. "Jangan hanya berhenti hanya pada urusan stabilitas harga beras yang memang berkontribusi terhadap deflasi," kata Hussein.kbc11

Bagikan artikel ini: