Tahan bunga acuan di 3,5 persen selama 6 bulan, ini alasan BI

Jum'at, 20 Agustus 2021 | 08:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus 2021 memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau 7 Days Reverse Repo Rate (7DDR) di angka 3,50 persen pada Agustus 2021. Artinya, suku bunga acuan BI ini bertahan di level yang sama selama enam bulan atau setengah tahun.

Pada RDG Agustus 2021 ini, BI juga menahan tingkat suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility dengan masing-masing tetap sebesar 2,75 persen dan 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan di tengah perkiraan inflasi yang rendah, dan juga upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi termasuk dari Covid-19," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers, Kamis (19/5/2021).

Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan, serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut. Semua hal ini dilakukan melalui beberapa langkah.

Pertama, melanjutkan kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Kemudian juga melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif.

"BI juga mendorong intermediasi melalui penguatan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan penekanan pada transmisi SBDK pada suku bunga kredit baru khususnya segmen KPR," tutur Perry.

Akselerasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga diupayakan Bank Indonesia, termasuk QRIS antarnegara, dan mendorong implementasi Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) untuk perluasan integrasi ekonomi dan keuangan digital.

Perry menuturkan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk optimalisasi implementasi paket kebijakan terpadu KSSK dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM.

"Bank Indonesia juga meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan instansi terkait untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk koordinasi kebijakan moneter-fiskal, kebijakan untuk mendorong ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: