Bayar utang, Wahana Interfood bakal rights issue

Selasa, 24 Agustus 2021 | 11:36 WIB ET

JAKARTA - Perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi kakao dan cokelat, PT Wahana Interfood Nusatara Tbk (COCO) akan melakukan Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue dengan melepas sebanyak 331.764.555 lembar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Adapun dana hasil aksi korporasi itu sebagian besarnya akan digunakan untuk membayar utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (24/8/2021) disebutkan bahwa 85% dana hasil right issue tersebut akan digunakan untuk membayar utang pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sedangkan sisanya, yakni 15% dana right issue digunakan untuk modal kerja perseroan.

Right issue ini diharapkan dapat memperkuat struktur permodalan, sehingga diharapkan dapat memberikan dampak yang positif terhadap kegiatan usaha, kinerja dan daya saing dalam industri produksi kakao dan cokelat di Indonesia. Dengan meningkatnya kinerja dan daya saing, diharapkan pula dapat meningkatkan pendapatan dan laba bersih yang pada akhirnya akan memberikan imbal hasil nilai investasi bagi seluruh pemegang saham,” demikian penjelasan manajemen.

 

Adapun saham baru yang ditawarkan dalam HMETD I ini mempunyai hak yang sama dan sederajat dalam segala hal dengan seluruh saham lama Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk hak atas dividen. Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD-nya akan terkena dilusi kepemilikan saham dalam perseroan dengan sebanyak-banyaknya 37,04%.

Pelaksanaan right issue tersebut akan dilaksanakan dalam 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 29 September 2021 dan pernyataan efektif OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2021, Wahana Interfood Nusantara mencatatkan utang bank jangka pendek kepada BBCA senilai Rp 24,997 miliar untuk rekening koran dan term loan senilai Rp 84,973 miliar. Sehingga total fasilitas utang kepada BBCA senilai Rp 109,8 miliar.

Terkait target kinerja 2021, perseroan menargetkan adanya pertumbuhan pendapatan 10-15% dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu perseroan mencatat adanya penurunan pendapatan neto senilai Rp 171,04 atau turun 20,88% dibandingkan dengan tahun buku 2019 sebesar Rp 216,19 miliar.

Adapun untuk mendukung optimisme tersebut, perseroan akan menerapkan strategi e-commerce untuk membantu pemasaran produk perseroan. Hal ini dilakukan karena antusiasme pelanggan Schoko untuk berbelanja sangat tinggi. Adapun produk-produk yang diburu adalah cokelat, seperti Couverture, Compound, dan Cocoa Powder.

Di sisi lain, perseroan melihat adanya potensi bisnis dan peluang pasar di dalam negeri pada tahun ini, terutama pergerakan dari sisi belanja konsumen untuk produk-produk ritel. Perseroan juga akan merambah area distribusi baru yang belum tersentuh oleh Schoko. Rencana ini akan diwujudkan dengan memanfaatkan kapabilitas distribusi yang perseroan miliki.

Bagikan artikel ini: