92% Petani di sektor kehutanan belum mampu akses pasar

Rabu, 25 Agustus 2021 | 16:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pertumbuhan bisnis produk hutan berbasis masyarakat masih sangat rendah. Petani di pedesaan yang menjadi pelaku usaha hutan banyak tidak memiliki akses ke pasar.

Direktur Program MFP4 (Multistakeholder Forestry Programme Phase 4), Tri Nugroho mengatakan, 92% dari total 7.529 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Indonesia, yang dapat mengakses pasar. Upaya meningkatkan hidup masyarakat yang bergantung pada hutan, MFP4 bekerja sama dengan Market Access Player (MAP) yang mampu menjembatani masyarakat pelaku usaha hutan dan pasar.

Menurut Tri, MAP berbeda dengan pedagang biasa. Pedagang biasa hanya membeli satu komoditas serta membawa dan menjual ke pasar, lalu mengambil margin keuntungan. "Market Access Player tidak demikian. Dia membeli, memberikan nilai tambah, memperkuat masyarakat, dan menjualnya dengan pesan-pesan kepada pasar yang menceritakan the story behind the commodity," ujar Tri dalam webinar SAFE Forum 2021 Collaboration for The Future Economy, Rabu (25/8/2021).

Salah satu bentuk MAP ialah Sekolah Seniman Pangan (SSP). Partnership Director SSP, Etih Suryatin mengatakan, awal terbentuk SSP dari ada kekhawatiran dan potensi sumber daya alam yang luas, namun terlupakan serta belum diolah menjadi produk yang punya nilai ekonomi tinggi.

SSP merupakan sekolah kewirausahaan berbasih pelatihan berorientasi pada praktik langsung untuk mengasah kemampuan kewirausahaan petani, nelayan, dan food artisanal di Indonesia. "Kami mengembangkan wirausaha pedesaan, termasuk pengembangan produknya. Kami bersifat action based learning," kata Etih.

Berbagai produk unik khas Indonesia pun sudah berhasil dipasarkan SSP. Seperti, garam dari Nypa, kulit kayu yang rasanya mirip bawang untuk dijadikan penyedap masakan, sampai chips yang dihasilkan dari tanaman keladi. Semua dikemas dan dibranding secara modern, menarik, serta tulisan cerita menarik di balik produk-produk istimewa.

MAP lainnya yakni Nares Essential Oils. Founder and CEO Nares Essential Oils Khafidz Nasrullah mengatakan keberadaan Nares berawal dari kejelian melihat potensi dari sampah daun cengkeh yang selalu terbuang di Kendal. "Di situlah saya mulai mengolah sampah sisa daun cengkeh menjadi essential oils," ujar Khafidz.

Khafidz menyampaikan, sejak lama sisa daun cengkeh dimanfaatkan sebagai essential oil, sehingga ini bukan hal baru. Namun, Khafidz berupaya mencari pasar luar negeri dengan cara menelepon dan e-mail ke luar negeri.

Kemudian, dia mulai mengenal pasar yang lebih luas. Dia pun kini punya 21 produk essential oils yang semua berasal dari alam Indonesia, seperti bunga-bunga, rempah-rempah, dan buah asli Indonesia, yang diproduksi standar internasional.

Khafidz menjelaskan, marketnya sudah sangat besar. Kini, pasarnya mencapai 600 ton dari berbagai belahan dunia. "Dan yang menarik, bisnis model kami menggunakan pendekatan yang berbasis masyarakat. Karena sedikit saja essential oil ini membutuhkan bahan yang banyak, sehingga tidak mungkin dikerjakan sendiri," kata Khafidz.kbc11

Bagikan artikel ini: