Sistem Resi Gudang dan masa depan petani Indonesia

Rabu, 25 Agustus 2021 | 17:19 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Wajah Sumono, petani asal Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, terlihat ceria. Guratan kepuasan terlihat jelas dari senyum yang mengembang di bibirnya. Wajah tua yang kadang terlihat murung itu kini tak lagi mencerminkan kesedihan, karena hasil panen di tahun ini cukup bagus.

Pada panen raya bulan April hingga Mei 2021 yang lalu, hasil produksi padi di lahan miliknya cukup bagus. Dari satu hektar lahan yang ia miliki, Sumono bisa mendapatkan sebanyak 55-56 ton gabah kering panen (GKP) per hektar.  Walhasil, lahan padi seluas 1 hektar itu menjadi pelipur lara bagi kepedihannya di tahun lalu karena hasil produksi tidak cukup bagus. Banjir telah mengakibatkan panen padi  pada tahun 2020 tidak sesuai yang diharapkan. Dari lahan 1 hektar, ia hanya bisa mendapatkan 53 ton GKP per hektar.

“Alhamdilillah, tahun ini panen cukup bagus, sudah saya jual dan sebagian saya simpan untuk kebutuhan makan. Hasil penjualan saya buat untuk biaya sekolah anak, kebutuha sehari-hari dan sisanya saya simpan sebagai tabungan,” ucapnya seraya bersyukur.

Bagi Sumono, tidak jadi soal apakah harga padi saat panen turun ataukah naik, karena baginya mendapatkan panen jauh diatas biasanya itu sudah sebuah anugerah yang besar dari Tuhan. Sama dengan karakter petani lain yang serba menerima apa adanya, ia juga langsung menjual hasil panen padinya. Padahal saat panen raya, harga padi cenderung turun dan jika hasil panen dikeringkan dulu kemudian disimpan di gudang dalam Sistem Resi Gudang (SRG), pasti pendapatannya jauh lebih besar karena padi bisa dijual disaat harga cenderung membaik dan naik. Ia belum mengenal dan paham apa itu SRG karena di desanya belum ada yang menyampaikan. Ia hanya mengerti bagaimana merawat padi dengan sepenuh hati hingga bisa menghasilkan panen yang baik dan melimpah.

Kondisi seperti ini juga dialami banyak petani di seluruh nusantara. Ada banyak Sumono-Sumono lain yang membutuhkan uluran tangan para pemangku kepentingan agar kesejahteraan mereka sebagai petani kecil bisa terangkat.

Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Edi Purwanto mengungkapkan bahwa SRG memang sebuah konsep yang cukup bagus karena bertujuan memperbaiki sistem managemen pertanian nasional guna meningkatkan daya tawar dan kesejahteraan petani Indonesia. Melalui SRG, petani bisa menyimpan padi hasil panen mereka di gudang yang disediakan dan bisa dijadikan sebagai sebuah aguan atau menjualnya disaat harga sudah membaik.

“SRG ini diundangakan pada tahun 2006 tetapi kemudian lama terhenti dan baru dua tahun ini mulai digencarkan lagi. Kemudian diperkuat dengan adanya Permendag 33/2020. Dari sini bisa dibaca, ada banyak kendala dalam pelaksanaannya. Padahal melalui SRG, sistem perdagangan  hasil pertanian bisa lebih terkontrol dan tertata mulai tanam hingga pemasaran,” ujar Edi saat dihubungi kabarbisnis.com, Rabu (25/8/2021).

Beberapa kendala tersebut di antaranya adalah karakter petani yang cenderung apa adanya dan tidak sabar untuk tidak langsung menjual hasil panen, masih kurangnya ketersediaan gudang di setiap kabupaten yang menjadi sentra pertanian serta kurangnya sosialisasi kepada petani secara langsung di desa-desa. Terlebih karakter petani Indonesia adalah petani dengan lahan sempit.

“Petani kita ini rata-rata kepemilikan lahannya kecil, kalau ingin menggunakan sistem resi gudang, hasil panen harus dikumpulkan dulu di kelompok tani baru kemudian dikirim ke gudang. Ini yang juga menjadi problem dan harus dicarikan solusinya agar SRG ini bisa menyentuh petani kecil,” ujarnya

Petani kecil harus disiapkan agar mereka tidak bingung dan asing ketika diminta untuk melakukan pemeriksaan kualitas padi yang akan dimasukkan gudang. Sosialisasi kepada mereka harus dibarengi dengan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) petani. Dalam hal ini, keterlibatan koperasi tani dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) juga ditekankan karena kedua lembaga ini menjadi ujung tombak SRG agar bisa bersentuhan langsung dengan petani kecil.

Edi menaruh harapan besar agar PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI yang menaungi program SRG terus berinovasi. Kemudahan bagi petani kecil harus menjadi prioritas agar taraf hidup mereka bisa terus terangkat karena SRG adalah masa depan petani Indonesia.

Kliring Berjangka Indonesia terus berinovasi majukan SRG

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama KBI Fajar Wibhiyadi mngungkapkan bahwa PT KBI Persero terus melakukan inovasi dan perbaikan, selain juga terus melakukan sosialisasi program. Selain ini, KBI juga terus melakukan kolaborasi dan bersinergi dengan semua pemangku kepentingan untuk memperluas kemanfaatan dan mekanisme pemanfaatannya untuk petani.

KBI juga menyediakan sistem informasi yang terintegrasi dengan Pengelola Gudang, Lembaga Pembiayaan, Badan Pengawas dan Kementerian Keuangan. “Termasuk memberikan informasi dan data serta melakukan verifikasi dan konfirmasi transaksi Resi Gudang kepada pelaku pasar dan pemangku kepentingan,” ungkap Fajar Wibhiyadi dalam siaran resmi yang diterima kabarbisnis.com beberapa waktu yang lalu.

Selain itu, pada tahun ini KBI juga telah melaunching aplikasi IS-Ware NextGen, yang merupakan pengembangan dari aplikasi Resi Gudang yang telah digunakan sejak tahun 2010. Aplikasi yang berbasis blockchain dan smart contract tersebut, akan menjadikan pelaksanaan registrasi resi gudang menjadi lebih aman karena, didukung dengan teknologi yang handal dan terukur.

Aplikasi ini juga dikembangkan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada para pelaku resi gudang untuk melakukan registrasi. Dengan aplikasi tersebut, pemilik komoditas yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia dapat dengan mudah mendaftarkan komoditasnya ke dalam SRG untuk dapat diterbitkan dokumen Resi Gudang secara realtime dan relatif cepat. Sehingga pemilik komoditas dapat segera melakukan kegiatan penjaminan atau perdagangan agar nilai dari komoditas tersebut dapat termanfaatkan secara maksimal. Pengembangan ini merupakan upaya KBI sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang untuk meningkatkan ekosistem Resi Gudang nasional.

“Pengembangan aplikasi ini, tentu dalam upaya kami menghadapi industri 4.0, dimana semua sektor industri akan berbasis kepada Teknologi Informasi. Dengan perkembangan teknologi yang ada, mau tidak mau juga harus kita terapkan dalam hal registrasi resi gudang," kata Direktur Utama KBI Fajar Wibhiyadi.

Aplikasi IS-Ware NextGen yang dikembangkan KBI ini mengedepankan beberapa aspek teknologi, seperti keamanan informasi, peningkatan integrasi, pengembangan artsitektur, serta penggunaan teknologi  blockchain. “Dengan teknologi blockchain, ke depan sangat memungkinkan ekosistem resi gudang dapat menggunakan Resi Gudang Tanpa Warkat (scriptless)," tambah Fajar.

Dia menambahkan, Resi Gudang Tanpa Warkat (scriptless), akan sangat membantu para pelaku resi gudang. Ini karena, dari sisi biaya akan menjadi lebih ekonomis, aman karena tidak dapat dipalsukan, memiliki ketahanan karena tidak mudah rusak. Selain itu, proses registrasinya akan lebih cepat karena dilakukan secara online dan instan.

Penggunaan aplikasi IS-Ware NextGen ini juga sangat membantu pelaku resi gudang di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini karena bisa meminimalisir tatap muka secara langsung.

"Dengan transformasi teknologi yang dilakukan KBI, proses Registrasi Resi Gudang sangat meminimalisir pertemuan fisik. Upaya ini telah dilakukan KBI bahkan sebelum pandemi covid-19 masuk ke Indonesia. Dengan demikian, untuk saat ini bisa kami katakan untuk Registrasi Resi Gudang tidak ada kendala. Masyarakat petani dan pemilik komoditas dari seluruh Indonesia tetap bisa melakukan registrasi,” tambah Fajar.

Wajar jika kemudian pemanfaatan Resi Gudang selama pandemi Covid-19, khususnya di semester I 2021 tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Data dari KBI, BUMN yang berperan sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang menyebutkan, sepanjang semester I 2021, jumlah Resi Gudang yang di registrasi mengalami peningkatan sebesar 49 persen menjadi 230 resi gudang (RG) dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yang hanya mencapai 154 SR.

Dari sisi jumlah komoditas, sepanjang semester I-2021, jumlah komoditas yang masuk resi gudang sebanyak 10 komoditas. Angka tersebut juga naik dibanding tahun sebelumnya, yang hanya 6 komoditas. Dari sisi volume barang, total volume komoditas yang diresigudangkan mencapai 5.517 ton, atau melesat 44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 di mana tercatat sebanyak 3.823 ton. 

Sedangkan dari sisi nilai barang, sepanjang enam bulan pertama di tahun ini, total nilai barang yang diregistrasikan ke resi gudang mencapai Rp 170,99 miliar. Jumlah tersebut juga melonjak lebih dari 124 persen  secara year on year (yoy). Mengingat di periode yang sama tahun 2020 nilainya hanya Rp 76,186 miliar.

“Sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga, sudah selayaknya RG menjadi solusi bagi para petani dan pemilik komoditas. Selain itu, dengan memanfaatkan RG petani dan pemilik komoditas dapat menjaminkan RG-nya untuk mendapatkan pembiayaan,” katanya.

Fajar pun optimistis pemanfaatan resi gudang sampai dengan akhir 2021 akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2020. Sebagai catatan, sepanjang tahun 2020, jumlah resi gudang yang diregistrasikan mencapai 428 RG dari 8 komoditas dengan volume 9.593 ton senilai Rp 200,784 miliar.

“Sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang, kami bersama dengan otoritas serta pemangku kepentingan lainnya, akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait pemanfaatan Resi Gudang, termasuk juga memperluas wilayah sosialisasi ke berbagai daerah khususnya ke sentra-sentra komoditas unggulan. Dalam situasi pandemi seperti saat ini, kegiatan sosialisasi dan edukasi tetap berjalan meskipun dilakukan dengan cara daring," pungkas Fajar Wibhiyadi. kbc6

Bagikan artikel ini: