Tunggakan pemerintah dekati Rp4 triliun, arus kas BULOG terganggu

Senin, 30 Agustus 2021 | 19:54 WIB ET
Dirut Perum BULOG Budi Waseso
Dirut Perum BULOG Budi Waseso

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum Bulog mengungkapkan besarnya utang pemerintah kepada perseroan sudah hampir menyentuh Rp 4 triliun. Perseroan terus mengeluhkan kebijakan penyaluran yang tersendat akibat panjangnya arus birokrasi pemerintah.

Dirut Perum BULOG Budi Waseso menjelaskan, hingga kini penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) masih bermasalah.Buwas biasa disapa juga melaporkan, pemerintah juga belum kunjung memberikan kepastian penyaluran beras stok lama.

Setidaknya, rakortas di tingkat kementerian yang sudah berlangsung tiga kali belum menemui jalan keluar. "Ini bukan tanggung jawab Perum BULOG (penyaluran beras). Karena (stok tersisa) ini kan penugasan pemerintah dan impor juga penugasan CBP, tapi setelah itu tidak digunakan," ujar Buwas kala menjawab pertanyaan RDP Komisi IV DPR RI yang disiarkan secara virtual, Jakarta, Senin (30/8/2021).

Adapun, beban pengadaan beras jalur penugasan sejak 2018 terus menumpuk di gudang dan tidak kunjung terpakai. Konsekuensinya, beras tersisa dari pengadaan dalam dan luar negeri itu pun akan mengalami turun mutu, akibat tidak terpakai menahun lamanya.

Buwas pun secara berkala terus bersurat kepada Kemenko Ekonomi, Kemendag dan Kemenkeu untuk segera memberikan keputusan. Pasalnya, pengadaan beras sebesar itu menggunakan dana utangan berbunga komersial. "Sementara hitung-hitungannya Perum BULOG merugi terus," jelasnya.

Buwas pun menjabarkan sejumlah utang pemerintah kepada legislator. Mulai dari kondisi beras disposal sebanyak 20.000 ton yang belum terbayar, dari ini saja pemerintah memiliki utang Rp 173 miliar.

Belum lagi soal masalah pembayaran beras untuk kepentingan CBP-Bencana tahun lalu, penyaluran beras untuk PPKM, hingga Cadangan Stabilitas Harga Pangan (CSHP) untuk penugasan yang belum terbayarkan juga. "Jadi sampai saat ini utang pemerintah kepada Bulog hampir Rp 4 triliun...Dari yang belum dibayar ini saja bunganya berapa?" ujarnya.

Sejatinya, perusahaan secara komersial terhitung cukup untung. Namun, jika dihadapkan dengan penugasan persentase itu juga lebih kecil, sehingga dengan piutang yang belum dibayar pemerintah maka dengan sendirinya BULOG terus merugi.

Bahkan, pada beberapa kesempatan yang lalu juga, dirinya juga mengajukan Menteri BUMN untuk tidak menilai performa Perum BULOG berdasarkan untung-rugi semata. "Komersial nyatanya untung, tapi kan persentase lebih kecil dibanding penugasan. Begitu dikonversi dengan penugasan, untung kita tidak ada apa-apanya," terangnya.

Dirinya kembali mengingatkan pemerintah beban bunga komersial terus berjalan. Belum usai, perawatan beras yang sudah lama terbeli pastilah akan semakin mahal, sedangkan kualitasnya terus memburuk.

BULOG pun pasrah untuk bisa menjual komoditas tersisa itu dengan harga yang mustahil mahal. Karena itu, perseroan tidak ingin mengambil risiko lebih jauh dengan menagih keputusan konkret dari keputusan final Rakortas pemerintah. "Karena ini sudah rapat tiga kali tidak putus-putus, kita tidak mau ambil risiko (rugi)," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: