Jaga stabilisasi nilai tukar, BI baru akan naikkan bunga acuan di akhir 2022

Selasa, 31 Agustus 2021 | 08:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate kemungkinan baru akan dilakukan pada akhir 2022. Langkah itu dilakukan sambil bank sentral menjaga stabilisasi nilai tukar.

"Kenaikan suku bunga baru kami lakukan di penghujung akhir tahun depan," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (30/8/2021).

Perry menjelaskan, akan terdapat pengurangan likuiditas yang sudah sangat longgar pada 2022. Meski begitu, hal itu diyakini tidak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit.

Untuk diketahui, BI telah menyuntikkan likuiditas atau melakukan Quantitative Easing (QE) kepada perbankan sebesar Rp 844,4 triliun atau setara dengan 5,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 2020 sampai 27 Agustus 2021.

"Dengan demikian, kami yakin pengurangan injeksi likuditas pada tahun depan tidak akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit," jelas Perry.

Di sisi lain Perry memastikan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar dan inklusi keuangan pada 2022 akan tetap diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi.

"Koordinasi antara pemerintah, BI, dan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) terus kita lakukan kebijakan-kebijakan kami apakah di moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar maupun inklusi ekonomi termasuk UMKM dan ekonomi syariah itu bersama-sama mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan stabilitas," imbuhnya. kbc10

Bagikan artikel ini: