Siantar Top bidik kinerja 2021 tumbuh dua digit, ini strateginya

Rabu, 1 September 2021 | 09:14 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Emiten makanan ringan PT Siantar Top Tbk (STTP) menargetkan kinerja penjualan dan laba bersih hingga akhir tahun 2021 bisa tumbuh dua digit ketimbang pencapaian tahun lalu. Membaiknya perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19 serta sejumlah pengembangan usaha dan pasar menjadi upaya perseroan dalam menggapai target tersebut.

Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Agus Suhartanto mengatakan, sepanjang semester I tahun 2021 penjualan masih bisa tumbuh 6,89% karena ekstensifikasi dan intensifikasi penjualan baik lokal maupun ekspor. Terutama penjualan ekspor yang memberikan kontribusi 10% dari total penjualan masih cukup stabil.

"Kita memprediksikan dan upayakan dua digit, itu yang kita pasang. Tapi kan kalau kita lihat di semester I-2021 ini sih tidak sampai dua digit (pertumbuhannya) tapi tetap tumbuh. Jadi kita pasang targetnya itu di dua digit, kita berupaya mencapai ke situ," katanya pada paparan publik usai RUPS perseroan di Surabaya, Selasa (31/8/2021).

Salah satu langkah strategus perseroan yang dijalankan di tahun ini adalah dengan melanjutkan perluasan pabrik baru di Beji, Pasuruan, Jawa Timur yang dananya memanfaatkan sebagian alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun 2021 sebesar Rp 450 miliar.

Agus bilang, perseroan telah memastikan rencana perluasan pabrik baru di Pasuruan pada 2019, menyusul sudah dibebaskannya lahan seluas 200 hektare. Pabrik baru tersebut nantinya akan digunakan untuk produksi crackers dan noodle.

"Tahun ini, perseroan masih akan tetap fokus melanjutkan rencana pengembangan pabrik yang berlokasi di Pasuruan. Belanja modal perseroan tahun 2021 sebesar Rp 450 miliar salah satunya dialokasikan untuk perluasan pabrik, disamping untuk anak perusahaan dan pelunasan obligasi," jelasnya.

Menurut Agus, perluasan pabrik baru itu merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja perseroan dengan menambah kapasitas produksi, mengingat kapasitas produksi pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur, saat ini sudah mencapai sekitar 85% hingga 90%.

"Sehingga, pabrik itu sudah tidak mungkin dikembangkan lagi. Tentu, diperlukan pendirian pabrik baru di luar Sidoarjo dan dipilihlah salah satunya di Pasuruan," jelasnya.

Menurut Agus, pembangunan pabrik baru itu sejalan dengan rencana perseroan untuk mengembangkan pasar baik di pasar domestik maupun ekspor yang permintaannya terus tumbuh serta memberikan peluang besar bagi pertumbuhan bisnisnya.

Saat ini perseroan memenuhi kebutuhan pasar dengan memanfaatkan pabrik dan cabang penjualan di Tambak Sawah, Sidoarjo yang berkontribusi pada penjualan sebesar 65%. Kemudian, di Bekasi yang kontribusi 24%, Medan 10%, dan Makassar sebesar 1%. "Pabrik baru di Pasuruan bertujuan untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan pasar," tandasnya.

Terkait pasar ekspor, Agus menyebut kontribusinya sekitar 10% terhadap total penjualan dan masih cukup stabil. Tujuan ekspor meliputi Taiwan, Korea Selatan, Tiongkok, Yordania, Thailand, Srilangka, Hong Kong, Palestina, Mauritius, Nepal, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Vietnam dan lainnya.

Ditambahkan Agus, sepanjang tahun 2020, perseroan hampir memenuhi target penjualan dengan peningkatan 10%, namun hal ini terkendala karena tertundanya pengiriman ekspor akibat kurangnya ketersediaan kapal kargo/vessel pada November dan Desember.

Agus mengungkapkan pula, tahun ini pihaknya hanya akan meluncurkan sejumlah produk baru, diantaranya Tic Tic Sambel colek cbp 2000 dan 7000, Gemez Spicy Polibag cbp 7000. Perseroan juga mempersiapkan launching product FF level III dan Twistko CBP 2000, Gemez Bumbu Tabur di semester II-2021.

"Sejauh ini respon pasar cukup bagus terhadap produk-produk baru tersebut," ujar Agus.

Sekadar informasi, sebagai emiten makanan ringan, STTP memproduksi berbagai snack atau camilan yang meliputi produk noodle snack, biskuit dan wafer, juga snack lainnya. kbc7

Bagikan artikel ini: