BNI kempit laba bersih Rp5 triliun di tengah pandemi, ini penopangnya

Selasa, 7 September 2021 | 10:21 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat laba bersih sebesar Rp 5 triliun sepanjang semester I-2021, atau meningkat sebesar 12,8% (yoy).

Peningkatan ini didukung kuatnya pondasi keuangan dalam bentuk pencadangan yang sebesar 215,3% dengan Cost to Income Ratio (beban operasional terhadap pendapatan bersih) berada di level 40,7% dan Capital Adequacy Ratio (rasio kecukupan permodalan) di level 18,2%.

Perseroan melaporkan pendapatan operasional sebelum pencadangan atau Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) sebanyak Rp16,1 triliun. Adapun PPOP ini didukung dari Pendapatan Bunga Bersih / net interest income (NII) mencapai Rp19,3 triliun naik 18,2% (yoy) dan Fee Based Income (FIB) naik 19,2% sebesar Rp6,8 triliun.

"Pencapaian ini diperoleh dengan tidak mudah, di tengah situasi Pandemi yang masih berlangsung dan masih berjalannya program restrukturisasi kredit bagi debitur yang bisnisnya terdampak pandemik. Terdapat tekanan terhadap pendapatan, namun dengan strategi yang tepat, perseroan dapat mempertahankan Net Interest Margin atau NIM pada kisaran 4,9%," kata Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini dalam pemaparan terbuka 'Public Expose Live 2021' BBNI, secara virtual, Senin (6/9/2021).

Sementara total kredit yang disalurkan BBNI naik 4,5% (yoy) dengan rata-rata pertumbuhan kredit sebesar 0,6%. Perseroan menegaskan bakal fokus menggarap sektor usaha prospektif dengan risiko rendah, baik melalui segmen Business Banking maupun Consumer Banking.

"Dana pihak ketiga (DPK) kami tumbuh sehat 4,5% year on year dengan fokus pada Giro dan Tabungan. Kualitas aset terus membaik. Jika memperhitungkan pencadangan atau CKPN yang telah dibentuk secara prudent sejak tahun lalu, maka Net NPL hanya 0,9%," tukas Novita. kbc10

Bagikan artikel ini: