Ekspor batu bara diprediksi melandai dalam 5 tahun, ini pemicunya

Senin, 13 September 2021 | 16:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Energi Surya Indonesia memperkirakan bisnis ekspor batu bara akan menurun dalam lima tahun ke depan, seiring dengan maraknya kampanye menurunkan bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.

Ketua Umum AESI Fabby Tumiwa mengakui bahwa saat ini harga batu bara mengalami lonjakan pesat sepanjang 2021. Bahkan Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk kebutuhan ekspor mencapai US$150,03 per ton.

"Tetapi lima tahun ke depan saya perkirakan ekspor batu bara akan menurun seiring negara-negara mulai meninggalkan PLTU, menutup, tidak membangun kembali dan membatasi," katanya seperti dikutip, Minggu (12/9/2021).

Selain itu, dia mendukung upaya sejumlah perusahaan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pembangkit ini disebut sebagai proyek yang mudah dilakukan serta memerlukan waktu pembangunan lebih singkat dibandingkan pembangkit lainnya.

Meski begitu dia menyadari bahwa perkembangan PLTS di Indonesia cukup lambat dan masih menghasilkan daya yang terbilang kecil. Saat ini total energi yang dihasilkan dari PLTS hanya 200 megawatt. Belakangan pemerintah akan membangun PLTS di Waduk Cirata dengan nilai investasi mencapai US$129 juta. Pembangkit tersebut dapat menghasilkan energi listrik hingga 145 megawatt.

Selain itu PLTS di Bali juga masih dalam proses power purchase agreement (PPA) dan baru beroperasi pada 2023 dengan daya 2x25 megawatt. Ada pula PLTS terapung yang dilakukan oleh perusahaan tambang PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

"Kita selama ini kecil, tapi minat meningkat sehingga saya kira dalam waktu 5 tahun ini perkembangan PLTS akan sangat masif. Dan kalau saya liat draf RUPTL pemerintah bersama PLN ada peningkatan jumlah yang sangat signifikan PLTS," terangnya. kbc10

Bagikan artikel ini: