Menkeu: Defisit APBN per Agustus capai Rp383,2 triliun

Kamis, 23 September 2021 | 17:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 hingga akhir bulan Agustus 2021 mencapai Rp 383,2 triliun atau mencapai 2,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Defisit APBN pada bulan Agustus Rp383,2 triliun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp503,8 triliun. Tetap defisit namun penurunnya mencapai 23,9%," kata Menteri Keuangan dalam Konferensi Pers Virtual APBN KiTa, Jakarta, Kamis (23/9/2021).

Menkeu menuturkan, pendapatan negara mencapai Rp 1.177,6 triliun atau mencapai 67,5% dari target APBN, tumbuh 13,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Pendapatan negara terdiri dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp 899,3 triliun atau mencapai 62,3% dari target, tumbuh 12,7% yoy.

Jika dirinci, penerimaan perpajakan terdiri dari penerimaan pajak yang mencapai Rp 741,3 triliun atau 60,3% dari target, tumbuh 9,5% yoy.Sedangkan penerimaan perpajakan dari kepabeanan dan cukai mencapai Rp158,0 triliun atau mencapai 73,5% dari target, tumbuh 30,4%.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 277,7 triliun atau 93,1% dari target, tumbuh 19,6 yoy. "Jadi sisi pendapatan is the story of rebound recovery dan konsolidasi," kata Menkeu.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp 1.560,8 triliun atau baru mencapai 56,8% dari target, tumbuh hanya 1,5% yoy. Belanja negara dari pemerintah pusat mencapai Rp1.087,9 triliun atau baru 56,8% dari target, tumbuh 10,9% yoy.

Jika dirinci, belanja negara dari kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp628,6 triliun atau 60,9% dari target, tumbuh 21,5% yoy.Sedangkan belanja non-K/L mencapai Rp459,3 triliun atau 49,8% dari target, tumbuh hanya 0,9% yoy.

"Jadi komposisi tahun lalu dominasi non-K/L ini karena kita dan PEN dan yang lain-lain belum masuk ke dalam belanja K/L. Tapi secara overall belanja pemerintah pusat tumbuhnya tetap double digit 10,9%," ujarnya.

Sementara, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) mencapai Rp472,9 triliun atau baru 59,5% dari target, terkontraksi -15,2% yoy.Jika dirinci, transfer ke daerah mencapai Rp429,2 triliun atau 59,3% dari target, terkontraksi -15,0% yoy.

Sedangkan dana desa mencapai Rp 43,7 triliun atau mencapai 60,7% dari target, terkontraksi -17,0% yoy. "Kalau kita lihat dari sisi belanja, the story of APBN tetap support pemulihan ekonomi dan bekerja keras di depan untuk menjaga kesehatan, menjaga masyarakat, dan mendorong pemulihan dunia usaha," ujar Sri Mulyani.

Keseimbangan primer mencapai terkontraksi Rp170,0 triliun atau mencapai 26,8% dari target, terkontraksi -44,7% yoy di mana tahun lalu keseimbangan primer mencapai Rp 307,3 triliun. "Jadi mengalami kontraksi 44,7%, inilah yang disebut cerita tentang konsolidasi, kita tetap defisit tapi defisitnya menjadi kecil," ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan pengelolaan APBN yang hati-hati terlihat di dalam pembiayaan anggaran.Pembiayaan anggaran telah mencapai Rp 528,9 triliun atau mencapai 52,6% dari target, terkontraksi -20,6% yoy di mana tahun lalu pembiayaan anggaran telah mencapai Rp 666,3 triliun.

"Jadi dalam hal ini terjadi negatif growth 20,6% walaupun kita recover kita tetap suportif tapi defisit menurun dan issuance utang makin turun," imbuhnya.

Sri Mulyani menambahkan pemerintah masih memiliki Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp 145,7 triliun yang nantinya akan digunakan secara maksimal hingga tahun depan. Dikatakan hal tersebut cerita yang terus dijaga di mana APBN adalah instrumen untuk membuat keseluruhan pada saat masyarakat, ekonomi, pemerintah menghadapi guncangan yang luar biasa dahsyat dari Covid-19, yang menjadi buffer di semua tempat.

"Namun APBN harus kita jaga dan penjagaannya ini akan terus kita fokuskan sampai insya Allah tahun depan 2022 yang merupakan exceptional year untuk Indonesia," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: