RUPTL PLN 2021-2030, Porsi EBT Digenjot

Selasa, 5 Oktober 2021 | 21:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah telah menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 dengan memperbesar porsi pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT). Realisasi EBT hingga 2020 yang jauh dari target yang telah ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) menjadi perhatian serius dari Pemerintah untuk penyediaan tenaga listrik ke depan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada konferensi pers virtual ,Selasa (4/10/2021) di Jakarta. RUPTL PLN di sahkan melalui keputusan Menteri ESDM nomor 188.K/HK.02/MEM.L/2021.“RUPTL PLN 2021–2030 saat ini merupakan RUPTL lebih hijau karena porsi penambahan pembangkit EBT sebesar 51,6%, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4%,” ujar Arifin.

Sebagai informasi, target bauran EBT dalam dalam RUKN adalah 23% pada 2025. Sementara realisasi yang hingga akhir 2020 baru mencapai sekitar 14%.Pemerintah Indonesia, sebut Arifin, terus terlibat aktif dalam memenuhi Paris Agreement. Dalam hal ini, Indonesia berkomitmen di sektor energi untuk dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai dengan Nationally Determined Contributions/NDC pada 2030 sebesar 29% dari Business as Usual dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan Internasional.

Saat ini komitmen untuk mengatasi perubahan iklim disikapi dengan roadmap menuju Net Zero Emission (NZE).Ia menilai, tuntutan untuk industri menggunakan energi yang hijau dan penyediaan listrik dari sumber energi yang rendah karbon menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan energi di Indonesia.

Di sisi lain, pertumbuhan perekonomian yang terdampak pandemi covid-19 juga menyebabkan pertumbuhan listrik lebih rendah. Jadi, beberapa sistem besar seperti sistem kelistrikan Jawa-Bali dan sistem Sumatra berpotensi over supply.

"Karena itu pertumbuhan listrik pada RUPTL sebelumnya sudah tidak sesuai, untuk itu pada RUPTL PLN 2021–2030 diproyeksikan hanya tumbuh rata-rata sekitar 4,9%, dari yang sebelumnya 6,4%," sambung Arifin.

Meski porsi EBT meningkat, ia menegaskan Program 35.000 MW juga berjalan terus. Dalam dua tahun ke depan akan masuk sekitar 14.700 MW yang sebagian besar dari PLTU batu bara.

"Selain itu, data per akhir Juni 2021, Rasio Elektrifikasi rata-rata nasional telah mencapai 99,37%. Namun masih terdapat beberapa provinsi yang masih perlu perhatian khusus yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua," jelas Arifin

Tantangan-tantangan tersebut menjadi pertimbangan dalam penyusunan RUPTL PLN 2021-2030. Dari serangkaian diskusi yang cukup panjang antara Pemerintah dan PT. PLN (Persero), serta memperhatikan masukan dari Kementerian dan Lembaga terkait maka dirumuskan RUPTL PLN 2021–2030 yang disahkan melalui Keputusan Menteri ESDM nomor 188.K/HK.02/MEM.L/2021 tanggal 28 September 2021. "Dengan memperhatikan kondisi PLN, RUPTL PLN 2021-2030 dapat menjawab semua permasalahan di sektor ketenagalistrikan," tambah Arifin.

Guna mencapai target penambahan pembangkit sebesar 40,6 GW selama 10 tahun ke depan dan mempertimbangkan keterbatasan kemampuan investasi PLN, pemerintah memutuskan bahwa RUPTL ini membuka peran IPP lebih besar termasuk dalam pengembangan pembangkit berbasis EBT.

Dalam RUPTL ini tidak ada lagi rencana PLTU baru kecuali yang sudah committed dan konstruksi, hal ini juga membuka ruang yang cukup besar untuk pengembangan EBT menggantikan rencana PLTU dalam RUPTL sebelumnya.“Dengan kecenderungan harga PLTS yang semakin murah dan masa pembangunan lebih cepat, untuk pencapaian target 23% bauran EBT pada 2025, porsi PLTS didorong lebih besar dibanding RUPTL sebelumnya.

Selain itu, pencapaian target bauran EBT akan dipenuhi oleh co firing PLTU dengan biomassa dengan tetap memperhatikan lingkungan untuk ketersediaan feedstock,” ungkap Arifin.Selanjutnya, untuk meningkatkan keandalan listrik dan meningkatkan penetrasi EBT yang lokasi sumber energinya jauh dari pusat demand listrik, pemerintah mendorong pengembangan interkoneksi ketenagalistrikan dalam pulau maupun antarpulau.

Arifin berharap, interkoneksi di dalam Pulau Kalimantan dan Sulawesi sudah terwujud pada 2024, sebagai bagian dari rencana Pemerintah untuk interkoneksi seluruh pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.“Selanjutnya dilakukan kajian untuk interkoneksi antar-pulau yang disebut dengan Super Grid yang menghubungkan antar pulau besar di Indonesia. Dalam hal ini, selain meningkatkan keandalan juga dapat mengatasi adanya over supply di suatu sistem besar,” tandasnya.

Pemerintah juga terus berupaya agar seluruh desa di daerah 3T dapat memperoleh akses listrik untuk mendukung target Rasio Elektrifikasi 100% pada 2022. Masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pasang baru daya listrik pun menjadi perhatian pemerintah.

Direncanakan pada 2022 terdapat sebanyak 80.000 sambungan dengan Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) melalui anggaran APBN yang direncanakan Kementerian ESDM.Untuk meningkatkan bauran energi terbarukan dan penyaluran tenaga listrik bagi masyarakat pedesaan di 3T yang selama ini dilayani oleh pembangkit listrik diesel, pemerintah mendorong Program Dedieselisasi melalui penggantian PLTD dengan Pembangkit EBT sesuai dengan potensi energi terbarukan setempat.

Selain itu, pemerintah juga mendorong Program PLTS Atap dalam rangka meningkatkan peran serta konsumen dalam penggunaan energi bersih.

Transmisi Listrik

Kesempatan sama, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana menyampaikan selain perencanaan pembangkitan, rencana pembangunan transmisi juga menjadi perhatian khusus pemerintah.Hal tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan keandalan, menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP), penyaluran energi listrik dari daerah yang over supply ke daerah yang defisit, penyaluran listrik ke daerah Kawasan Industri, Kawasan Ekonomi Khusus, Smelter, dan lain-lain.

“Pemerintah juga fokus meningkatkan pemanfaatan sumber daya EBT ke pusat beban, mengingat potensi EBT jauh dari pusat beban listrik. Rencana pembangunan jaringan distribusi bagi masyarakat yang belum teraliri listrik dan peningkatan jam nyala menjadi 24 jam pada sistem isolated, juga menjadi perhatian dari Pemerintah dan PLN,” tambah Rida.

Ia menegaskan pemerintah dan PLN sangat berhati-hati menyusun RUPTL PT PLN (Persero) 2021-2030, baik dari sisi kebutuhan demand listrik maupun dari sisi perencanaan pembangkitan, transmisi, dan distribusi.Mempertimbangkan keterbatasan kemampuan investasi, saat ini PLN didorong untuk lebih fokus berinvestasi pada pengembangan dan penguatan sistem penyaluran tenaga listrik serta peningkatan pelayanan konsumen.

Direktur Utama PT. PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan PLN akan berupaya melakukan peningkatan demand dengan program pemasaran yang agresif seperti kompor induksi, dan kendaraan listrik (EV). Serta upaya lainnya dengan bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar terciptanya demand baru di Kawasan Industri (KI), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dan yang lainnya.

"Pada sisi infrastruktur PLN akan meminimalkan penambahan kapasitas infrastruktur baru dan melaksanakan relokasi pembangkit PLTG/GU ke daerah-daerah yang membutuhkan. Untuk meminimalkan biaya investasi dan meningkatkan utilisasi aset serta melaksanakan negosiasi penyesuaian jadwal, baik itu kepada IPP pembangkit maupun penyedia bahan bakar," sambung Zulkifli.

Menurutnya, pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL ini memerlukan sinergi antara PLN dan peran serta seluruh pemangku kepentingan.Pihak Swasta, badan usaha pengembang/IPP, dan Lembaga Pendanaan juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung penyediaan kebutuhan investasi yang sangat besar dalam mewujudkan instalasi ketenagalistrikan yang aman, andal, dan ramah lingkungan.

"Terakhir, kami mengimbau seluruh stakeholders untuk saling bersinergi, bahu membahu mewujudkan instalasi tenaga listrik yang aman, andal, ramah lingkungan, dan lebih hijau sesuai RUPTL PLN 2021-2030. Kami imbau agar PLN dapat melaksanakan RUPTL ini sesuai dengan rencana, akan sia-sia jika RUPTL yang telah disepakati bersama, tidak dilanjutkan ke tahap pengadaan dan direalisasikan. Kami minta seluruh infrastruktur yang direncanakan dalam RUPTL ini dapat COD tepat waktu," tutup Arifin.kbc11

Bagikan artikel ini: