Minat meningkat, tapi konsumen masih anggap bunga KPR tinggi

Rabu, 6 Oktober 2021 | 11:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Masyarakat dinilai sudah kembali berminat membeli properti sebagai kebutuhan pokok kendati pandemi Covid-19 belum usai. Hanya saja ada beberapa pergeseran sentimen konsumen yang harus disikapi pelaku industri baik pengembang maupun perbankan.

Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan, masyarakat kini juga mempertimbangkan lebih sedikit faktor ketika mengambil pinjaman rumah. "Namun faktor utama masih sama yaitu besaran angsuran, jangka waktu pinjaman, dan tingkat suku bunga KPR," ujar dia dalam webinar mengenai tren hunian di tengah pandemi dan prediksi pascapandemi, Selasa (5/10/2021).

Menurut Marine, tepat sebelum diberlakukannya PPKM Darurat pada Juli lalu, indeks harga sempat baik setelah mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut. Rumah.com lantas melakukan survei untuk menggali lebih dalam seperti apa perubahan sikap dan perilaku pencari hunian.

Rumah.com Consumer Sentiment Study merupakan survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun bekerja sama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Survei ini melibatkan 1.031 responden dari seluruh Indonesia.

"Di tengah berbagai kemudahan yang telah diberikan pemerintah melalui pembebasan PPN dan berbagai promosi yang diberikan pengembang, hambatan yang dianggap semakin menonjol sekarang adalah tingginya suku bunga," kata Marine.

Sebanyak 60 persen responden menganggap suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) saat ini berada pada level yang tinggi. Angka ini naik dibandingkan semester sebelumnya yang dinyatakan oleh 59 persen responden. Selain itu 88 persen responden juga berharap agar pemerintah mengambil langkah untuk membantu menurunkan suku bunga.

Masih tingginya tingkat suku bunga KPR juga mengakibatkan tingginya besaran angsuran KPR yang harus dibayar tiap bulan sehingga menjadi hambatan yang dihadapi ketika mengambil KPR. "Hal ini dinyatakan oleh sekitar sepertiga responden atau sejumlah 34 persen responden," kata Marine.

Temuan utama lain dari survei ini adalah pencarian properti oleh konsumen semakin merata keluar Jakarta. Adanya kebijakan perusahaan untuk menerapkan bekerja dari rumah atau (work from home) memengaruhi pencarian properti. "Hal ini membuat banyak orang menjadi sadar bahwa bekerja tidak harus di kantor atau tidak harus lagi tinggal di kota besar yang hiruk pikuk," ujarnya.

Lebih dari separuh atau sekitar 55 persen responden mengaku terpikir untuk mencari hunian di luar wilayah Jabodetabek jika bisa terus menjalani sistem kerja WFH atau remote working. Angka ini merupakan kenaikan dari 53 persen responden pada semester sebelumnya.

Wilayah-wilayah yang akan dipertimbangkan jika para pencari rumah bisa tinggal di luar Jabodetabek adalah Jawa Barat dinyatakan oleh 46 persen responden. Lalu Bali dinyatakan oleh 22 persen responden dan Yogyakarta dinyatakan oleh 21 persen responden. Sedangkan Jawa Tengah disebut oleh 16 persen responden. kbc10

Bagikan artikel ini: