Melantai di bursa, OYO incar dana segar Rp16,1 triliun

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: OYO, jaringan layanan hotel murah asal India, berencana go public alias menawarkan saham ke publik (Initial Public Offering/IPO) pada akhir tahun ini. Perusahaan mengincar dana senilai 84,3 miliar rupee India atau setara Rp16,1 triliun (kurs Rp191 per rupee India).

Melansir CNN Business, OYO berencana melantai di bursa India untuk mengumpulkan dana agar bisa membayar sebagian utang, meski tidak diketahui jumlah pastinya. Utang itu muncul karena bisnis perusahaan tertekan dampak pandemi Covid-19.

Tekanan pandemi bahkan sempat membuat OYO melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan. Dampak lain, valuasi perusahaan dikabarkan turun dari US$10 miliar atau Rp142,7 triliun (kurs Rp14.270 per dolar AS) pada 2019 menjadi US$9 miliar atau Rp128,43 triliun pada 2021.

Selain itu, perusahaan juga akan menggunakan dana yang terkumpul untuk menumbuhkan bisnis ke depan. Hal ini sejalan dengan visi misi perusahaan yang ingin meningkatkan profitabilitas, pertumbuhan bisnis jangka panjang, dan tata kelola yang lebih kuat.

Di sisi lain, perusahaan ingin menghimpun dana sendiri karena kepercayaan investor dikabarkan sempat goyah terhadap OYO karena tekanan pandemi. Salah satunya dari SoftBank, investor terbesar yang memegang 47 persen dari kepemilikan perusahaan.

Namun, rencana IPO ini disambut baik oleh CEO SoftBank Masayoshi Son belum lama ini. Ia menyebut IPO ini sebagai panen dari telur emasnya melalui kepemilikan di perusahaan.

Lebih lanjut, perusahaan menargetkan dana 70 miliar rupee India atau Rp13,37 triliun akan terkumpul dari hasil penawaran saham perdana. Sementara sisanya 14,3 miliar atau Rp2,73 triliun akan datang investor yang menjual sebagian saham mereka.

Kendati begitu, rencana OYO untuk IPO sejatinya bukan satu-satunya di India. Beberapa perusahaan rintisan (start up) dengan valuasi saham lebih dari US$1 miliar alias unicorn di India juga sudah melantai di bursa negeri Bollywood itu.

Untuk diketahui, OYO yang semula bernama Oravel Stays Limited merupakan perusahaan yang didirikan Ritesh Agarwal pada 2012. Saat itu, ia masih berusia 19 tahun dan berstatus putus sekolah.

Namun, bisnisnya ternyata sukses menciptakan jaringan waralaba di 35 negara di dunia, seperti Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Total kamar yang dimiliki mencapai 157 ribu kamar.

OYO bahkan sempat menyabet status tiga besar jaringan hotel teratas di dunia. Bahkan, perusahaan tengah mengincar status jaringan hotel terbesar dan paling disukai di dunia. kbc10

Bagikan artikel ini: