Ekspor batik tembus Rp7,6 triliun pada 2020

Rabu, 6 Oktober 2021 | 18:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor industri batik menembus angka US$533 juta atau sekitar Rp 7,6 triliun sepanjang tahun lalu. Sedangkan untuk industri kerajinan, nilai ekspor pada tahun 2020 hampir sebesar US$700 juta dengan ekspor utama barang kerajinan dari negara Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, Jerman, dan Korea.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan,  industri batik telah berperan penting bagi perekonomian nasional dan berhasil menjadi market leader pasar batik dunia. "Masih banyak hal atau pekerjaan rumah yang bisa kita lakukan yang bisa saya sampaikan yang mungkin menjadi agenda kita kedepan yaitu program promosi," kata Agus dalam Puncak Peringatan Hari Batik Nasional (PHBN) 2021 Kemenperin secara virtual, Rabu (6/10/2021).

Agus mengatakan, sektor ini didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 200.000 orang dari 47.000 unit usaha, tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia. Sementara itu, ekspor batik pada kuartal pertama tahun ini tercatat sebesar US$157,8 juta.

Menurutnya, industri batik mendapatkan prioritas pengembangan karena dinilai mempunyai daya ungkit besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Karenanya Agus mengimbau capaian tersebut harus didukung promosi semua stakeholder disamping memang pemerintah telah hadir.

Kehadiran pemerintah juga masih perlu ditingkatkan dengan bekerja sama dengan Dekranas, Yayasan Batik Indonesia, Kadin dengan para pelaku usaha. "Kita perlu secara intensif atau mungkin masif untuk melakukan promosi batik di kota-kota besar yang ada di dunia misalnya di New York, Los Angeles, Tokyo, Paris, London, dan kota-kota besar lainnya," ujar Agus.

Beberapa negara seperti Tiongkok dan Malaysia secara serius menjadikan batik sebagai komoditas ekspor. Negara-negara tersebut terus mengembangkan mesin batik printing dengan teknologi yang paling canggih. Mereka juga meniru desain dan corak batik Indonesia dengan tujuan merebut pasar pasar yang selama ini diisi  batik Indonesia.

"Dengan semakin populernya batik di dunia, persaingan global termasuk gempuran produk impor. Ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh industri batik nasional, namun harus bisa kita hadapi bersama," katanya.

Kemenperin mencatat jumlah pengusaha produksi kerajinan Indonesia lebih dari 700.000 unit usaha dan menyerap tenaga kerja lebih dari 1,5 juta orang.Dengan potensi besar tersebut, industri batik masuk sebagai salah satu subsektor prioritas dalam implementasi peta jalan integrasi Making Indonesia 4.0.

Industri batik mendapat pengembangan karena dinilai mempunyai daya unik besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.Selain itu, produk batik menjadi salah satu penyebab tumbuhnya sektor tekstil dan pakaian jadi di Indonesia.

Industri kerajinan dan batik juga merupakan salah satu sektor yang banyak membuka lapangan kerja dan merupakan sektor yang didominasi IKM. Agus pun berharap pembinaan kepada para pelaku IKM batik terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Pasalnya dengan jumlahnya yang besar dan merata di seluruh penjuru tanah air, industri batik bisa menjadi penggerak perekonomian daerah dan berpotensi menjadi pengungkit industri kecil dan menengah lainnya. Pada peringatan Hari Batik Nasional 2021, Kemenperin menggelar sejumlah acara diantaranya diskusi virtual bertajuk ngobrol pagi penuh Inspirasi (Nngoppi), workshop batik bagi penyandang disabilitas, seminar nasional industri kerajinan dan batik (SNIKB) 2021, serta penyelenggaraan inkubator bisnis melalui program Innovating Jogja 2021. Rangkaian acara tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemulihan industri kreatif.kbc11

Bagikan artikel ini: