Dinilai rugikan UMKM lokal, apa itu praktik cross border?

Senin, 11 Oktober 2021 | 10:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Praktik cross border disebut merugikan keberlangsungan UMKM lokal. Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengatakan, hal ini karena pemain e-commerce asing menjual produk dengan harga sangat murah.

Diketahui cross border merupakan perdagangan berbasis elektronik atau e-commerce dengan layanan pengiriman tujuan ke luar negeri dan sebaliknya.

"Dalam perdagangan cross border terjadi tindakan splitting atau memecah transaksi pembelian barang impor agar bebas bea masuk. Hal ini tentu membuat UMKM lokal kalah saing sehingga muncullah istilah e-commerce domestik dan cross border," kata Ikhsan dikutip dari keterangannya, Minggu (10/10/2021).

Dia menjelaskan, splitting tidak terjadi dalam layanan e-commerce domestik. Impor barang dilakukan melalui bea dan cukai dan seluruh penjual berasal dari dalam negeri sehingga ada kontribusi ke pendapatan Indonesia.

Adapun praktik e-commerce cross border memungkinkan untuk melakukan splitting. Hal ini, kata Ikhsan, karena impor barang bisa langsung dilakukan dari penjual luar negeri yang bertransaksi dengan konsumen domestik sehingga transaksi sama sekali tidak berkontribusi ke pendapatan dalam negeri.

"Jika praktik cross border tidak diregulasi secepatnya, maka akan merugikan banyak pihak. Pengusaha akan mengalami kerugian karena produk mereka akan kalah bersaing dengan produk cross-border ilegal yang harganya jauh lebih murah," katanya.

Dia juga menegaskan, regulasi impor barang melalui sektor perdagangan e-commerce dinilai masih belum terlihat. Padahal saat ini Indonesia dianggap sebagai surganya e-commerce cross-border.

"Mengenai cross border di e-commerce, saya telah diundang Mendag (Menteri Perdagangan) dan salah satu Dirjennya. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut merevisi Permendag Nomor 50 Tahun 2020. Jadi di mana keberpihakan pemerintah dalam melindungi UMKM lokal," kata Ikhsan. kbc10

Bagikan artikel ini: