Perilaku menyisakan makanan rugikan ekonomi RI hingga Rp551 triliun per tahun

Selasa, 12 Oktober 2021 | 19:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebagian orang beranggapan tidak menghabiskan makanan bukan suatu persoalan. Namun hasil riset menunjukkan sebesar 48 juta ton per tahun makan terbuang percuma akibat pola makan yang mubazir dengan nominal kerugian ekonomi mencapai Rp 551 triliun per tahun.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam menuturkan, menyisakan makan (food waste) ini fase distribusi hingga ritel. Hal ini dapat dijumpai di perhelatan acara, respesi pernikahan ataupun di hotel, restoran dan kafe (horeka). "Padahal apabila ada makanan sisa, karyawannya tidak boleh membawa pulang," ujar Medrilzam dalam webinar di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Menurutnya, perilaku membuang-buang makanan ini pada gilirannya juga berdampak pada perubahan iklim karena sampah makanan bisa menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK). Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,7 giga ton CO2e (karbon dioksida ekuivalen) hanya dari buang-buang makanan (food loss and food waste).

Sementara hal ini juga terjadi di tahapan produksi,paska panen, penyimpanan serta pemrosesan dan pengemasan (food loss) . "Kalau dikaitkan dengan emisi GRK, hampir mencapai 1,7 giga ton CO2e diakumulasi dari 2000-2019 atau setara 7 persen dari total emisi Indonesia secara tahunan. Ini signifikan," kata Medrilzam.

Berdasarkan hasil laporan Food Loss and Waste (FLW), makanan yang terbuang di Indonesia selama 20 tahun terakhir mencapai 184 kilogram (kg) per kapita per tahun. Meski angka ini lebih rendah dari laporan Economist Intelligence Unit sebesar 300 kg orang per tahun.

Menurutnya, makanan yang terbuang itu berada di rentang 23-48 juta ton per tahun setara dengan porsi makan 125 juta orang per tahun atau secara nominal Rp 213 triliun-Rp 551 triliun. "Ini secara ekonomi akan sangat merugikan sekali. Kalau dihitung-hitung dari sisi ekonomi sampai 4-5 persen PDB kita, itu setara dengan yang terbuang tadi, bisa feeding orang yang butuh makanan sampai 125 juta orang," terangnya.

Lebih mengkhawatirkan, persentase food waste dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dibanding persentase food loss. Hal ini dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang tidak berubah, sedangkan food processing semakin efisien dengan bantuan teknologi. Medrilzam mengungkapkan, food waste pada tahun 2019 setara dengan 55-60 persen dari total food loss and waste 184 kilogram per orang per tahun.

Sedangkan di tahun 2000, persentase itu terbalik dengan food loss mencapai 55-60 persen dari total food loss and waste. Besarnya food waste juga diafirmasi dengan kajian awal terkait dominasi sampah makanan di beberapa provinsi, termasuk provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dari total sampah yang dihasilkan, 40-50 persennya bersumber dari sampah makanan.

"Jelas implikasinya ke emisi sangat besar, apalagi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semua pengolahannya amburadul. Sampah makanan ini kalau tertumpuk di TPA akan terurai, menghasilkan gas metana yang lebih parah dari CO2. Overall secara rata-rata lumayan besar, 7,3 persen dari total emisi," terang Medrilzam.

Lebih lanjut Medrilzam menyampaikan, sangat penting bagi Indonesia untuk menerapkan strategi pengelolaan food loss and waste. Bappenas sendiri telah menyetujui lima arah kebijakan strategi pengelolaan food loss yaitu, perubahan perilaku, pembenahan penunjang sistem pangan, penguatan regulasi dan optimalisasi pendanaan, pemanfaatan food loss and waste, dan pengembangan kajian dan pendataan food loss and waste.

Strategi ini diharapkan bisa diterapkan untuk 25 tahun ke depan hingga 2045 atau tepat pada 100 tahun Indonesia merdeka. "Makanya kami bilang harus ada afirmatif action karena implikasinya bisa kemana-mana, bisa ke ekonomi dan kemiskinan. Walau lebih di bawah apa yang disampaikan Economist Intelligence Unit, tapi ini kita harus benahi," pungkas Medrilzam.

Annisa Ratna Putri, Ketua Team Food Loss & Waste Studi Waste4Change menuturkan, pihaknya mengidentfikasi penyebab food loss and waste. Lima penyebab besar antara lain terutama di bagian food loss itu kurangnya good handling practices, kurang baik dalam memperlakukan makanan ketika didistribusikan atau ketika setelah panen.

Penyebab terbuangnya bahan pangan lainnya yaitu penyimpanan yang kurang baik sehingga menyebabkan pangan rusak dan terbuang. Hasil kajian menemukan tidak sedikit masyarakat yang menyimpan bahan makanan di dalam kulkas hingga busuk dan terbuang.

Selain itu, preferensi konsumen dalam memilih bahan pangan atau makanan juga bisa menjadi penyebab food loss dan food waste. Annisa menyebutkan hal ini biasanya terjadi di pedagang atau toko bahan pangan di mana bahan baku makanan yang tidak lazim oleh masyarakat Indonesia tidak dibeli sehingga akhirnya terbuang.

Penyebab keempat adalah kurangnya edukasi masyarakat baik dari sisi konsumen maupun petani yang memproduksi bahan pangan. "Masih perlu banyak edukasi, karena kalau masyarakat dan pekerja pangan di lapangan kurang paham, itu menyebabkan cara simpan yang salah, dan perlakuan kurang baik dalam proses produksi," katanya.

Terakhir adalah perilaku konsumen yang mengambil porsi berlebih sehingga menyisakan makanan yang pada akhirnya terbuang. Menurut Annisa, masyarakat Indonesia harus mengevaluasi pola pikir lebih banyak itu lebih baik daripada kurang dalam hal makanan yang menyebabkan food waste.

"Kalau tidak sanggup menghabiskan sebaiknya tidak dipesan sebanyak itu. Kalau memang bersisa, usahakan dibawa pulang untuk dikonsumsi kembali," ujar Annisa.kbc11

Bagikan artikel ini: