Kadin: Pembangunan MBR gunakan 100% produk lokal

Kamis, 14 Oktober 2021 | 16:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kepala Badan Pengembangan Kawasan Properti Terpadu Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Budiarsa Sastrawinata mengungkapkan pembangunan perumahan khususnya untuk hunian Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menggunakan material 100% berasal dari produk lokal.

Budiarsa mengatakan, komponen material 100% menggunakan produk lokal pada pengadaan rumah MBR. Produk lokal tersebut berada pada komponen bangunan itu sendiri mulai dari batu bata, genteng, cat, dan sebagainya.

"Tidak ada impornya untuk komponen pembangunan rumah. Meskipun produk lokal, ada standarisasi bahan bangunan dan spesifikasi yang digunakan," ujarnya dalam webinar Indonesia Housing Forum 2021, Kamis (14/10/2021).

Selain itu, untuk produk UMKM juga digunakan dalam pengadaan perumahan untuk mengisi di dalam rumah. Dia mencontohkan produk lokal yang digunakan tersebut seperti furniture. "Tidak semua perlengkapan rumah ini diisi oleh pengembang. Konsumen pun mengisi peralatan dan perlengkapan di dalam rumah juga menggunakan produk UMKM," katanya.

Karena itu, sektor properti memiliki multiplier effect yang ditimbulkan terhadap 175 industri lainnya serta 350-an UMKM terkait. Bukan hanya itu, penggunaan tenaga kerja dalam pembangunan rumah 100% berasal dari lokal. Adapun serapan tenaga kerja sektor properti mencapai 19 juta orang, dan untuk kegiatan tidak langsung sektor properti bisa mencapai hingga 30 juta orang.

"Karena multiplier efek yang besar dari sektor properti, Pemerintah pun memberikan sejumlah insentif selama Pandemi Covid-19 salah satunya PPN DTP agar sektor properti bisa bangkit kembali," ujarnya.

Ditambahkannya, industri properti punya kontribusi terhadap PDB Nasional sekitar 7–9% apabila dihimpun dengan sektor terkait secara keseluruhan, mulai dari perumahan, konstruksi, transportasi, penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang, jasa keuangan, hingga asuransi.

"Industri properti di Indonesia punya keterkaitan yang kuat dengan sektor konstruksi, infrastruktur, industri pariwisata, manufaktur," ungkapnya.

Keterikatan itu terlihat dari cakupan industri properti yang luas karena di dalamnya meliputi berbagai aspek, seperti permukiman yang terdiri dari perumahan, ruko, serta apartemen, hingga kawasan superblock yang terdiri atas pusat perbelanjaan dan perkantoran.

Bukan hanya itu, industri properti di dalamnya juga mencakup kawasan transit oriented development (TOD), seperti bandara dan pelabuhan, kawasan pariwisata yang terdiri atas resort, hotel, dan ecotourism, serta kawasan kota baru, peremajaan kawasan kota, dan kawasan industri, seperti KEK dan EPZ.

Semua cakupan itu pun turut terkoneksi dengan kebutuhan jasa keuangan, misalnya perbankan, pajak, REITs, Tapera, dan BPJS. Bahkan, lingkup industri properti juga terhubung dengan jasa penunjang lain, seperti brokerage, konsulten, hingga manajemen pengelola gedung dan perumahan.

Atas hal tersebut, Budiarsa menyerukan harus ada pembenahan ekosistem industri properti dalam rangka efisiensi pemenuhan kebutuhan properti, khususnya perumahan dan permukiman.Menurutnya kualitas ekosistem industri punya nilai cukup krusial, tak sebatas dalam pemenuhan kebutuhan permukiman, tetapi juga untuk menggerakkan perekonomian secara utuh.

"Karena industri properti beririsan langsung dengan industri ikutan dalam lingkupnya, ataupun industri penunjang berkaitan lainnya," jelas Budiarsa.

Budiarsa berpendapat rantai pasok industri properti harus diidentifikasi secara rinci guna membenahi problema yang kemudian dapat memudahkan untuk merumuskan kebijakan, mulai dari tata ruang, ketersediaan lahan, kepastian hukum tanah, kemudahan perizinan, insentif, pemasaran, bahan bangunan, hingga pembiayaan dan tata kelola operasional.

"Bila ekosistem industri propertinya baik, supply chain-nya juga baik, maka akan mempermudah akselarasi pengembangan kebutuhan di sektor ini," kata Budiarsa.

Dengan adanya ekosistem yang berkualitas dan rantai pasok yang baik, Budiarsa pun permasalahan yang ditemui di sektor properti dapat segera terjawab, termasuk menjawab tantangan yang ada, khususnya menekan kesenjangan backlog perumahan.

"Ekosistem yang berkualitas akan menjawab permasalahan yang ditemui di sektor properti, tanpa terkecuali menjawab tantangan di saat ini yaitu menurunkan kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan perumahan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: