Kementan gencarkan digitalisasi pertanian hortikulura

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 08:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) menggencarkan pengembangan digitilisasi pertanian hortikultura di Tanah Air. Program ini menjadi strategi utama berbasis Internet of Thing (IoT), selain target pembangunan 1.000 kampung hortikulutra dan penumbuhan lebih 500 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Sesidtjen Hortikultura Dr Retno Sri Hartati Mulyandari menuturkan pihaknya menaungi pembinaan atas 569 komoditas seusai Kepementan 104/2020 , namun berfokus kerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) bagi 87 komoditas hortikulura. Diantaranya 26 jenis sayuran, 15 jenis tanaman obat, 27 jenis buah dan 19 jenis tanaman hias. .Operasionalisasinya melibatkan sinergi semua pemangku kepentingan guna meningkatkan produktivtas dan nilai tambah.

"Digitilisasi atau modernisasi di kampung hortikultura misalnya komoditas Pisang Mas Kirana,Kita upayakan pengembangan satu kampung dengan satu komoditas hortikultura unggulan," ujar Retno dalam webinar Suara Agrina di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Dengan digitalisasi, 1.000 kampung mampu Kementan registrasi. Data informasi terkait foto , lokasi perkebunan, waktu panen buah dapat terekam di database dan gilirannya dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas yang ingin mencari jenis dan hasil buah yang tengah panen.

Sementara untuk penumbuhan UMKM hortikulutra,sambung Retno, Kementan bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Strategi program ditujukan kepada berbasis korporasi petani sehingga memiliki skala usaha yang kompetitif dan berdaya saing. Penerapan digitalisasi dilakukan dari kegiatan budidaya pertanian sehingga sesusai prinsip Good Agriculture Pracitises (GAP).

"Dari hulu seperti pemilihan bibit melalui kultur jaringan. Kita sudah bisa memilih benih yang benar-benar unggul hortikultura dan tanaman spesifik yang dapat dikembangkan di green house,sehingga tanpa harus khawatir perubahan dan gangguan cuaca," terangnya.

Penerapan smart/presicion farming yang didukung sistem informasi hortikultura (Early Warning System) juga mampu memandu rekomendasi dosis nutrisi dan pengendalian ekologi dan ramah lingkungan. Fase paska panen (good handling practice) hingga peluang produk turunan juga dimungkinan karena dukungan IoT.

Adapun aspek promosi, melibatkan pasar tani dan market place dan horti trade room, Indonesian Map of Fruit Center dan , pengembangan dan pemasaran produk dengan melibatkan di market place dan start up. Satu data produksi komoditas hortikulutra dari satu tingkat kecamatan mencakup luas tanam dan produksi komoditas hortikultura sudah bekerja sama dengan BPS.

Kementan ,jelasnya sudah menerapkan sistem EWS untuk komoditas bawang merah dan cabai . Sistem informasi ini dapat mendeteksi potensi produksi apakah berlebih atau akan kekurangan dari kebutuhan.

"Jika berpotensi surplus , kita merekomendasikan agar gapoktan melakukan penyimpanan atau tunda jual atau pengolahan paska panen serta mendorong pengaturan pola tanam.Sebaliknya, kita dorong gerakan pertanaman dan liat daerah yang surplus," terangnya.

Antonio Marheunda, Co founder INTA crop Technology Spain, menuturkan sebagai perusahaan yang menyediakan sistem instalasi teknologi mitigasi irigasi berbasis IoT untuk greenhouse yang sudah diadopsi di 30 negara. Dukungan teknologi ini bertujuan guna memaksimalkan nilai ekonomi melalui efisiensi air, pupuk dan lingkungan.

Selain pengaturan pengairan , instlasi ini juga mengirimkan sensor pemberian nutrisi esensial baik mako element dan micro elemen. Terkait pengaturan pemupukan dilakukan langsung pada akar tanaman yang merupakan kombinasi prosesor fertilasi soluasi dan pH kontrol yang membuat maksimalisasi serapan bagi tanaman.

Kepala UPTD Balai Benih Tanaman Kentang Juju Rukman mengatakan pihaknya telah memggimalam IoT guna perbanyakan benih dasar G.0 dengan sistem penyiraman otomatis. Sistem IoT terdiri dari dua komponen utama, identifikasi kualitas tanah dan sistem penyiraman air.

"Ini dapat efektif dan efisiensi dalam mengontrol kebutuhan air, kelembapan tanah, ekonomisnya tenaga kerja sehingga alat yang bekerja," kata dia.

Menteri Pertanian di Kabinet Indonesia Bersatu Bungaran Saragih mengingatkan Indonesia lebih membutuhkan smart farming sebagai sistem agribisnis. Sistem informasi teknologi harus mampu mengintegrasikan setiap unit sarana pertanian seperti irigasi, pemumupukan terpisah,

Artinya kehadiran digitalisasi adalah suatu keniscayaan. Hanya saja, jangan sampai membuat petani Indonesia terjebak.Teknologi canggih hanyalah alat bukan tujuan.Tidak terkecuali bagi petani gurem, perannya harus memberikan kontribusi riil terhadap peningaktan pendapatan, efisiensi dan mencegah kerusakan lingkungan.

"Perlu dibantu penjelasaan sederhana tentang pertanian cerdas agar mudah dipahami, praktis, diajarkan kepada petani. Begitu di level petani kita alatnya harus disesuaikan," harapnya.kbc11

Bagikan artikel ini: