Ada PPKM Darurat, Unilever kemas laba Rp4,4 triliun di kuartal III

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 17:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kinerja positif di kuartal III-2021 meski di tengah kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat yang ketat.

Meski pertumbuhan penjualan domestik melambat 7,4%, Unilever tetap berhasil mencatat penjualan bersih Rp30 triliun. Kategori Foods & Refreshment jadi penopang utama dengan pertumbuhan penjualan sebesar 9,8%.

Presiden Direktur PT Unilever IndonesiaTbk, Ira Noviarti menjelaskan bahwa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat pada kuartal III-2021 memberikan pengaruh yang tidak dihadapi pada kuartal sebelumnya. Meski begitu perseroan tetap mencatatkan laba bersih sebesar Rp4,4 triliun.

"Selain itu, kenaikan harga komoditas juga masih berlanjut dan semakin mempengaruhi biaya produk. Berbagai tantangan tersebut mempengaruhi konsumen dalam pemilihan pola konsumsi di berbagai kategori, dan mempengaruhi tingkat pertumbuhan perseroan," tambah Ira dikutip dari siaran pers, Kamis (21/10/2021).

Ira menjelaskan, dampak akibat volatilitas harga komoditas yang terjadi, dan bahwa perseroan harus tetap menjaga daya beli masyarakat agar tetap mampu menjangkau produk yang berkualitas.

Selama kuartal III-2021, Unilever telah meluncurkan beberapa inovasi produk untuk memperkuat segmen premium dan value, di antaranya: Ponds Skin Cooling dengan skin cooling technology yang dapat menurunkan suhu kulit hingga 5 derajat celcius; Vaseline Hijab Bright yang diformulasikan khusus bagi perempuan yang menggunakan hijab; Molto Spray Anti Kusut yang secara instan menghilangkan kusut hanya dengan usapan tanpa menyetrika; dan Sunlight Spray Disinfectant untuk memastikan alat makan tetap higienis.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey dalam diskusi interaktif menjelaskan, saat ini kondisi pasar ritel masih dalam pemulihan, dan belum ada ekspansi pasar yang signifikan, hal ini ditandai dengan seluruh pusat perbelanjaan masih menunggu momentum pemulihan agar dapat beroperasi secara optimal melayani masyarakat.

"Pemulihan pasar ritel baru akan optimal pada Q2-2022 dengan kondisi saat ini telah ada relaksasi di berbagai aktivitas masyarakat dan sektor ritel mulai bergelora, Namun, daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih. Apabila kelompok konsumen keluarga bisa memulai mobilitas, ini akan jadi stimulus positif terkait dengan konsumsi masyarakat," jelas Roy.

Di samping itu, Roy mengamati adanya pergerakan di sektor ritel modern kecil di wilayah-wilayah baru yang merupakan pertanda pemulihan. Secara umum, semua produsen dalam posisi menahan ekspansi dan hal tersebut yang menjadi dasar mengapa pasar belum menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan.

Sementara itu, Ira Novianti menambahkan bahwa Unilever tetap berkomitmen kuat untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk bangkit pasca pandemi melalui berbagai upaya baik yang dilakukan secara kolaboratif maupun secara mandiri.

"Kami optimistis bahwa perseroan sudah di jalur yang tepat untuk kembali menuju pertumbuhan yang konsisten dan berkelanjutan. Kami berharap bahwa situasi akan terus membaik, perekonomian Indonesia akan kembali bangkit, demikian pula halnya dengan perseroan," pungkas Ira. kbc10

Bagikan artikel ini: