Agar Indonesia sejahtera, HIPMI harus jadi pionir munculnya entrepreneur baru

Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:35 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pendiri Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Abdul Latief menegaskan bahwa keberadaan HIPMI sangat penting dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia untuk menyejahterakan masyarakat. Karena kesejahteraan sebuah negara salah satunya ditentukan dari jumlah entrepreneur yang ada dalam negara tersebut.

Dalam acara Diklatda III BPD HIPMI Jatim Abdul Latief mengungkapkan bahwa ada beberapa tanda atau faktor yang menjadikan sebuah negara dikatakan sebagai negara maju. Di antaranya adalah pendapatan penduduk perkapita mendapai diatas US$55.000 per tahun, sementara pendapatan perkapita masyarakat Indonesia hanya bisa mencapai US$3.000 - 4.000 per tahun.

"Dan jika kita lihat dari sisi manusianya, tanda negara maju di antaranya adalah sekitar 12-14 persen dari jumlah penduduknya adalah enterpreneur. Sementara kita masih dibawah 3 persen. Waktu saya mendirikan HIPMI tahun 1972, saya ingin 50 tahun ke depan jumlah pengusaha Indonesia harus mencapai 8 persen. Tetapi sampai sekarang baru 3 persen, artinya cuma 8 juta. Itupun itupun 65-70 persen adalah UMKM. Praktis level pendidikan dibawah SD. Maka itu kita harus bekerja sungguh-sungguh. Ini harus dipikirkan dan inilah tujuan saya mendirikan HIPMI, untuk mencetak entrepreneur muda," ujar Abdul Latief.

Untuk itu, ia bersama dengan beberapa tokoh HIPMI saat ini menyusun roadmap HIPMI 50 tahun ke depan, salah satunya harus mampu menciptakan enterpreneur baru. Dalam roadmap tersebut ditegaskan bahwa 50 tahun ke depan jumlah enterpreneur di Indonesia harus mencapai sekitar 12 hingga 14 persen.

"Tujuan Organisasi HIPMI ini didirikan untuk melahirkan entrepreneur nasionalis. Patriot yang mengisi kemerdekaan, menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita sudah merdeka 76 tahun, tetapi hingga saat ini kita belum merdeka secara ekonomi. Kalau kita lihat sejarah, kita dijajah 350 tahun, maka artinya di bidang ekonomi kita dijajah 426 tahun. Putra-putra bangsa belum menyelenggarakan ekonomi nasional. Kita masih butuh modal asing, butuh teknologi asing. Oleh karena itu cita-cita menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah cita-cita Bung Karno yang saya teruskan dalam hal ekonomi," tandasnya.

Agar keinginan tersebut tercapai, ujarnya, maka pelatihan enterpreneur terus digalakkan karena program pembangunan itu adalah program pendidikan. "Sehingga Diklat dan pelatihan seperti ini harus dilakukan terus menerus. Kepengurusan HIPMI hanya 3 tahun karena ini adalah sekolah, bagaimana membangun bisnis, bagaimana membangun sales, bagaimana membangun organisasi modern, dan bagaimana membangun nertworking. Itulah tujuan HIPMI," tegasnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto bahwa tujuan dan visi misi HIPMI sebenarnya sama dengan Kadin, yaitu membantu mendorong percepatan pemulihan ekonomi di Jatim maupun di Indonesia.

"Bagaimana HIPMI bisa berperan ikut dalam percepatan pembangunan ekonomi yang menjadi cita-cita kita semua, itu yang harus dipahami secara secara utuh, tidak hanya dimengerti tetapi juga harus dirasakan dan dilakukan. Salah satunya dengan menciptakan wirausaha. Wirausaha baru ini diharapkan akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau ada wirausaha baru, maka ada penyerapan tenaga kerja, tenaga kerja bisa menabung, bisa investasi, dan seterusnya. Bahkan, akan muncul pasar dan permintaan baru selanjutnya akan muncul lagi wirausaha baru. Siklusnya seperti itu," jelas Adik.

Namun ada beberapa kendala yang dihadapi untuk menciptakan enterpreneur tersebut, salah satunya adalah kurangnya dukungan sistem Pendidikan di Indonesia. Banyak pengusaha juga mengeluhkan rendahnya kualitas SDM lulusan SMK dan Perguruan Tinggi. Padahal harusnya mereka diciptakan untuk menjadi enterpreneur atau tenaga kerja yang siap kerja.

"Lulusan SMK dan perguruan tinggi, menurut kami belum begitu sesuai dengan kebutuhan industri dan wirausaha. Pada prinsipnya, pendidikan di SMK dan PT terdistrupsi semua. Mereka harus berubah. Begitu juga dengan organisasi, baik itu Kadin ataupun HIPMI sudah terdistrupsi. Oleh karena itu kita harus memiliki cara pendekatan-pendekatan, solusi yang berikan untuk meningkatkan jumlah enterpreneur dan percepatan pemulihan ekonomi dengan gaya baru. Dan saya memiliki harapan besar terhadap HIPMI Jatim," ungkap Adik saat menjadi keynote speaker dalam acara Diklatda III BPD HIPMI Jatim.

Diklatda III BPD HIPMI Jatim diselenggarakan secara virtual dengan tema "Jatim Bangkit dan Beraksi" pada Sabtu (23/10/2021). Acara yang diikuti oleh sekitar 300 pengurus BPD HIPMI Jatim dan BPC HIPMI kabupaten/kota di se-Jatim tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh daerah dan nasional, di antaranya adalah pendiri HIPMI Abdul Latief, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno, Guru Besar Ilmu Pertahanan dan Maritim Universitas Pertahanan Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr Marsetio, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak serta PLT Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Jumadi serta Ketua BPP HIPMI yang diwakili oleh Dewan Kehormatan BPD HIPMI Jatim Muhammad Ali Affandi.kbc6

Bagikan artikel ini: