BEI bidik rata-rata nilai transaksi harian tembus Rp14 triliun di tahun depan

Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bursa Efek Indonesia (BEI) meyakini rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di bursa akan meningkat di tahun depan. Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo memperkirakan, RNTH bisa menyentuh Rp 14 triliun pada tahun 2022.

Untuk diketahui, sejak Januari hingga Oktober 2021, rata-rata nilai transaksi harian di bursa mencapai Rp 13,5 triliun. Angka tersebut jauh lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu, yang tercatat di kisaran Rp 9 triliun.

Adapun capaian hingga bulan Oktober ini melebihi target awal bursa yang dipatok Rp 12 triliun. BEI berharap, rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 13,5 triliun itu masih akan bertahan hingga akhir tahun 2021 ini.

Laksono menjelaskan, peningkatan yang signifikan itu terdorong maraknya transaksi investor ritel. Menurut data bursa, 60% dari rata-rata nilai transaksi harian yang tercatat sejauh ini dihasilkan oleh investor ritel. Padahal sekitar lima tahun lalu, kontribusi investor ritel terhadap rata-rata nilai transaksi harian sekitar 30% hingga 35% saja.

Menguatnya investor ritel di bursa  terpicu oleh tren suku bunga yang rendah. Sehingga, investor terdorong mencari tingkat pengembalian yang lebih baik dibanding hanya menyimpan dananya dalam bentuk deposito.

Pandemi Covid-19  juga mendorong masyarakat yang memiliki kelebihan waktu untuk mencari alternatif investasi yang bisa dilakukan secara online. Apalagi saat ini,  transaksi saham secara online cenderung lebih baik dibandingkan dua atau tiga tahun yang lalu. Di sisi lain, harga dari bandwidth internet di Indonesia cukup murah daripada negara-negara lain.

"Sehingga, accessibility untuk masuk transaksi online itu sangat mudah," ujar Laksono seperti dikutip, Senin (25/10/2021).

Melihat perkembangan investor ritel yang pesat, bursa terus berupaya meningkatkan literasi investor melalui penyelenggaraan acara dan menggandeng influencer-influencer yang dianggap baik. Hingga Agustus 2021, BEI sudah menggelar 6.200 acara yang berhubungan dengan sosialisasi dan edukasi.

"Tujuan kami, supaya bisa semakin memasuki pangsa pasar di mana banyak anak muda. Kami melihat dari perkembangan dua tahun terakhir, investor milenial itu banyak sekali di bursa," imbuhnya.

Sepengamatan Laksono, faktor-faktor tersebut masih akan mengerek RNTH tahun depan hingga mencapai Rp 14 triliun. Faktor pendorong lainnya, kondisi ekonomi yang semakin membaik seiring dengan menurunnya kasus Covid-19.

Laksono menambahkan, IPO sejumlah perusahaan tahun depan, termasuk rencana IPO satu unicorn terbesar di Asia  akan menjadi faktor pengerek lainnya.

Kendati memiliki sederet faktor positif, bursa tetap mewaspadai sejumlah hal yang berpotensi menekan kinerja, seperti potensi gelombang ketiga pandemi Covid-19. Selain itu, situasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China yang berpotensi mempengaruhi kondisi perekonomian secara global.

Kemungkinan tapering off yang diambil oleh bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mengurangi pembelian aset-aset instrumen finansial. Hal ini akan mempengaruhi performa saham-saham di negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

Sekadar informasi, melihat prospek yang positif ke depan, Laksono berharap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini akan ditutup lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Adapun secara year to date (ytd), IHSG sudah meningkat 10,81% ke level 6.625,70 pada penutupan perdagangan Senin (25/10/2021).

"Harapan kami, indeks akan lebih baik dibanding tahun lalu, transaksi lebih tinggi, dan semakin tingginya partisipasi dari semua investor, utamanya investor ritel," pungkas Laksono. kbc10

Bagikan artikel ini: