Pakai skema imbal dagang, Meksiko beli mi instan Indonesia

Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Skema imbal dagang menjadi salah satu pilihan bagi kerjasama bilateral perdagangan Indonesia dengan Meksiko. Kali ini, Indonesia menjual produk mi instan dan rempah-rempah.

Adapun total nilai produk dalam perjanjian imbal dagang tersebut mencapai US$150.000 atau setara Rp 2,12 miliar (kurs Rp 14.169). Imbal dagang dari pihak Indonesia dilalukan oleh BUMN PT Perusahaan Perdagangan Indonesia serta dari Meksiko yakni Cluster de I+D y TICs.

Kontrak ditandatangani Direktur Komersial dan Pengembangan PPI Andry Tanudjaja dan Direktur Cluster de I+D y TICs Myrhge del Carmen Spross Barcenas.Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Didi Sumedi mengatakan kontrak tersebut merupakan yang pertama kali bagi kedua negara.

Kontrak senilai US$150.000 merupakan bukti nyata keseriusan Indonesia dan Meksiko dalam meningkatkan on-top export melalui kerja sama imbal dagang business-to-business. Sementara produk dari Meksiko yang akan diimbaldagangkan yakni biji wijen, minyak wijen, minyak kanola, dan minyak alpukat.

"Pengiriman produk-produk tersebut dari dan ke masing-masing negara ditargetkan akan mulai dilakukan pada November 2021 sampai dengan Juni 2022," kata Didi di Jakarta, Selasa (26/10/2021).

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana menambahkan, pemerintah Indonesia senantiasa berkomitmen penuh mendukung dan memberikan perhatian khusus dalam implementasi di lapangan. "Kontrak jual beli melalui imbal dagang ini merupakan transaksi perdana yang dilakukan Indonesia dengan mitra dagangnya, sejak rencana imbal beli atas pembelian Sukhoi Su-35 dan program pengembangan pesawat KFX/IFX yang masih tertunda," ujar dia.

Wisnu mengatakan, transaksi kontrak masih terbilang kecil, namun tidak menutup ruang adanya penambahan produk dan volume dari nilai transaksi.Duta Besar RI di Mexico City, Cheppy T Wartono mengungkapkan salah satu kendala utama dalam peningkatan perdagangan Indonesia-Meksiko adalah kekurangtahuan para pelaku usaha di kedua negara atas potensi yang dimiliki mitra dagang masing-masing.

Pencapaian hingga kontrak jual beli antara kedua badan pelaksana bukanlah suatu hal yang mudah dan proses ke depan mungkin akan lebih sulit. "Untuk itu, KBRI dan ITPC di Mexico City siap mendukung dan siap berkoordinasi untuk menjadikan kontrak dimaksud hingga tahap final," ujarnya.

Sebagai informasi, saat ini Indonesia telah memiliki perjanjian imbal dagang dengan empat negara. Yakni dengan Meksiko, Rusia, Jerman dan Belanda. Adapun transaksi dengan Meksiko senilai US$150.000 merupakan yang kali pertama dari empat negara yang sudah terdapat perjanjian.

Kemendag mulai tahun ini tengah menjajaki skema imbal dagang business to business (B2B) atau barter dengan 10 negara. Skema itu diyakini dapat meningkatkan kinerja ekspor nasional sekaligus menghemat devisa negara sistem perdagangan dilakukan dengan cara pertukaran barang yang senilai.

Pemerintah telah menawarkan skema tersebut kepada 35 negara. Namun, dari 35 negara tersebut, terdapat 10 negara yang memiliki keinginan kuat untuk membuka kerja sama imbal dagang dengan Indonesia.

Kemendag pun menunjuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) sebagai badan pelaksana dalam program kerja sama imbal dagang B2B. Adapun ke-10 negara tersebut di antaranya, Meksiko, Italia, Prancis, Belanda, Jerman, Turki, Kenya, Rusia, Afghanistan, dan Filipina.kbc11

Bagikan artikel ini: