Terimbas lonjakan varian Delta, realisasi investasi kuartal III turun 2,8%

Rabu, 27 Oktober 2021 | 17:38 WIB ET
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada kuartal III-2021 turun 2,8% atau menjadi sebesar Rp 216,7 triliun. Meski turun realisasi ini tetap tumbuh 3,7% jika dibandingkan dengan periode tahun lalu.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, penurunan investasi disebabkan melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia pada periode Juli-Agustus 2021 lalu. Hal ini turut berimbas pada kinerja perusahaan yang merealisasikan investasinya.

"Ini lebih disebabkan karena memang selama tiga bulan ini kami bisa bekerja maksimal hanya satu setengah bulan, satu setengah bulannya pandemi Covid-19. Tapi kita tetap kerja terus, kita kawal perusahaan end to end, dan kita turunkan tim ke lapangan," katanya dalam video conference, Rabu, (27/10/202).

Dari realisasi investasi ini, Bahlil menambahkan penyerapan tenaga kerja yang dihasilkan mencapai 288.687 orang. Ini baru jumlah penyerapan tenaga kerja langsung, belum termasuk tenaga kerja tidak langsung yang diperkirakan bisa empat hingga lima kali lipat dari jumlah tersebut.

Disebutkannya, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal III adalah Rp 103,2 triliun atau turun hingga 11 dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun demikian, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp 113,5 triliun atau tumbuh 6,8%.

"Artinya sebenarnya kita ini sepert teori bermain bola yang ala Juventus itu, menggaet investasi di Indonesia itu seperti Juventus bertahan dan menyerang. Jadi kalau saat penyerangan enggak bisa pada saat Covid, kita hajar di dalam negeri, tapi begitu longgar kita hajar untuk luar negeri," terangnya.

Selain itu, realisasi investasi di luar Jawa juga tercatat naik 1,9% dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi Rp 112,5 triliun atau 51,9% dari total realisasi investasi. Sedangkan realisasi investasi di Jawa tercatat sebesar Rp 104,2 triliun atau 48,1% dari total investasi dan tumbuh 5,7%.

"Lagi-lagi saya mengatakan hari ini atas pembangunan infrastruktur yang masif di pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di periode pertama dan dilanjutkan di periode kedua itu berdampak sangat positif bagi memikat para investor," terang dia.

Meski begitu, Bahlil tetap optimis target realisasi investasi sebesar Rp 900 triliun yang dicanangkan Presiden Joko Widodo tahun 2021 akan mampu tercapai. Sejak Januari hingga September realisasi investasi tercatat Rp 659,4 triliun atau sudah 73,3% dari target.

Dia mengakui untuk dapat mencapai target tersebut bukan pekerjaan yang gampang sehingga membutuhkan kerja keras. Namun dengan optimisme yang kuat dan didasari oleh realisasi yang sudah ada, dia meyakini target Rp 900 triliun itu tetap realistis untuk bisa dicapai sampai dengan akhir tahun.

"Kami telah lakukan kalkulasi, mapping, terhadap beberapa calon investasi yang sudah realisasi, dan calon yang akan masuk di kuartal IV dengan peluang yang ada. Doakan bisa tercapai di angka Rp 900 triliun. Ini kita harus optimis jangan pesimistis," kata Bahlil.

Bahlil menambahkan pencapaian target realisasi investasi tahun ini akan memudahkan Kementerian Investasi/BKPM untuk mengejar target lebih tinggi tahun depan. Dengan keinginan Presiden Jokowi untuk pertumbuhan ekonomi mencapai diatas lima persen, maka dibutuhkan investasi antara Rp 1.000 triliun hingga Rp 1.100 triliun.

"Kita minimal itu untuk investasi langsung minimal Rp 1.000 triliun sampai Rpb1.100 triliun. Berarti kita harus membuat target Rp 1.200 triliun, dengan catatan di sektor konsumsi, ekspor impor, spending government itu stabil, baru bisa pertumbuhan ekonomi kita capai 5,5 sampai enam persen," kata dia.

Tak hanya itu, Bahlil juga menargetkan agar mampu menarik investasi dari negara-negara yang selama ini belum masih sedikit investasinya di Indonesia. Selain itu, kepastian dan kemudahan perizinan juga akan menjadi 'senjata' bagi Indonesia menarik minat investasi dari negara lain didukung juga kepastian hukum dan stabilitas politik.

"Strategi yang dilakukan adalah salah satunya membangun strategi baru untuk negara-negara lain bisa masuk ke Indonesia. Strateginya di antaranya adalah pertama, bagaimana memberikan jaminan kepastian dan efisiensi dan perizinan. Kedua, menjaga kepastian hukum. Ketiga, bagaimana menjaga stabilitas politik dan keamanan kita," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: