Kemenkes larang patok tarif tes PCR di atas Rp275.000 apapun alasannya

Kamis, 28 Oktober 2021 | 08:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan aturan tarif baru batas atas tes swab polymerase chain reaction atau tes PCR, berlaku mulai Rabu, 27 Oktober 2021. Harga tes PCR ditetapkan menjadi Rp275 ribu untuk Pulau Jawa dan Bali, serta Rp300 ribu untuk luar Pulau Jawa dan Bali.

"Tarif batas tertinggi ini mulai berlaku saat dikeluarkannya surat edaran dari Kementerian Kesehatan. Dan hari ini edaran itu telah kami keluarkan. Dengan demikian, berarti mulai berlaku pada saat hari ini," ujar Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir dalam konferensi pers daring, Rabu (27/10/2021).

Selain itu, Kadir menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan juga melarang ada laboratorium menetapkan harga tes PCR dengan paket hasil keluar per jam. "Kami tidak mengizinkan dan tidak membenarkan ada harga di atas batas tarif tertinggi apapun alasannya. Termasuk alasan tadi bahwa bisa keluar satu, dua, tiga jam itu," ujar Kadir.

Pemerintah mengatur pemeriksaan tes PCR dengan besaran tarif tertinggi tersebut harus dikeluarkan dengan durasi maksimal 1x24 jam dari pengambilan swab pada pemeriksaan real time PCR.

"Jadi maksimal satu hari harus keluar hasilnya. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi," ujar Kadir ihwal ketentuan tes PCR.

Menurut Abdul, harga baru ini telah dievaluasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dari hasil investigasi BPKP, kata dia, ketersediaan alat dan bahan habis pakai (BHP) tes PCR di pasar Indonesia saat ini juga masih mencukupi.

Sehingga, Abdul menyebut tidak ada alasan bagi penyedia tes seperti rumah sakit hingga laboratorium untuk tidak melakukan tes PCR. Sebaliknya, ada konsekuensi bagi mereka yang ngotot memasang harga tes di atas batas tertinggi yang baru ditetapkan ini.

Pertama, bakal ada pembinaan dari dinas kesehatan setempat. Kalau tidak juga taat, maka lokasi penyedia tes PCR tersebut akan ditutup dan izin operasionalnya akan dicabut.

Sebelumnya sejak 17 Agustus, tarif tertinggi RT-PCR sudah ditetapkan Kemenkes sebesar Rp 495 ribu (Jawa Bali) dan Rp 525 ribu (luar Jawa Bali). Karena penggunaan tes PCR dipeluas di berbagai moda transportasi, maka Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta harganya bisa turun sampai Rp 300 ribu. kbc10

Bagikan artikel ini: