Jadikan pertanian bukan sebatas bantalan hadapi turbulensi ekonomi

Minggu, 31 Oktober 2021 | 08:34 WIB ET
Bungaran Saragih
Bungaran Saragih

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tiga kali Indonesia terjerat ke dalam kubangan krisis ekonomi selama kurun waktu lebih dari dua dekade, dan terakhir tersulut dampak pandemi Covid-19. Namun, dalam situasi resesi ekonomi yang masih dirasakan ini membuktikan sektor pertanian menjadi bantalan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sayangnya, belajar dari pengalaman, ketika roda perekonomian mulai pulih  justru sektor pertanian tidak lagi menjadi mainstream kebijakan pembangunan nasional. Karenanya, pendekatan peningkatan produktivitas hasil tanam saja harus disudahi karena membuat sistem usaha tani skala mikro makin terpinggirkan. 

Pendekatan pembangunan pertanian nasional harus diubah menjadi pengembangan komoditas unggulan pertanian berbasis kluster (kawasan)  yang menjamin akses terpenuhinya petani akan kebutuhan mendasar yang memadai. Demikian benang merah webinar Bedah Buku Prof Dr.Ir Bustanul Arifin "Pertanian Bantalan Resesi: Resilensi Sektor Selama Covid-19", Sabtu (30/10/2021).

Merujuk laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sejak awal pandemi Covid 19 melanda Indonesia pada 2020, sektor pertanian berkontribusi 16,24% terhadap Produk Domesik Bruto (PDB) di saa sektor pertanian disaat sektor lainnya seperti industri dan jasa mengalami tekanan hebat.

Pertumbuhan ini ditopang kinerja ekspor yang tumbuh 16% dengan perolehan devisa Rp 451 triliun. Adapun pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2020 mengalami kontraksi ekonomi 2,07%.

Prof Bungaran Saragih, Menteri Pertanian di Kabinet Gotong Royong melihat meski sektor pertanian bukan menjadi masalah dari sumber krisis ekonomi. Namun pencapaian tersebut bukan sepatutnya menjadikan para pemangku kepentingan berpuas diri. Sektor pertanian semestinya bukan hanya sebatas sebagai bantalan, namun andalan pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika ditilik lebih dalam selama kurun waktu 1998- 2020, sektor pertanian hanya bertumbuh 1,7%. Meski masih berfungsi menjadi bantalan perekonomian, namun secara agregrat kinerja pertanian mengalami kontraksi hingga 3,5% atau setara growth anjlok 50% dibandingkan sebelum fase krisis ekonomi.

Pendekatan struktural yang menilik PDB industri dan jasa yang mengacu pemikiran ekonom yang dibangun sejak tahun 1950 harus disudahi. Karena itu, Bungaran menawarkan perubahan paradigma pembangunan pertanian berbasis kluster . Pembangunan nasional yang menitikberatkan kepada sistem usaha agribisnis ini meliputi sub sistem primer yang didukung secara terintegrasi sub sistem input, agroindustri, pemasaran dan jasa penunjang yang mengubah sumber daya menjadi produk agrobisnis.

Pengembangan usaha tani bukan lagi semata-mata menargetkan peningkatan produktivitas hasil tanam, namun  juga mencapai skala usaha yang efisien.Dengan begitu, kesinambungan usaha tani akan terjalin karena pendapatan petani yang lebih memadai.

"Kalau kita teliti mikro statistik  sektor industri dan jasa maka industri manufaktur masih didominasi agroindustri. Tidak ada industri kalau tidak ada pertanian. Industri pengolahanan (makanan dan minuman red), kalau dipisahkan (angka statistik, red) akan terlihat. Mungkin tidak minus.Sektor jasa yang melayani pertanian, industri pengolahan seperti industri pestisida, pupuk tidak mengalami penurunan," terangnya.

Bungaran menunjuk komoditas sawit sebagai contoh keberhasilan usaha tani berbasis kluster karena keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan termasuk dukungan perbankan. Mengutip data BPS,kontribusi sub sektor perkebunan mencapai 91% dari total ekspor dan lebih dari 85 % berasal dari komoditas sawit. Kemudian pertenakan yang berkontribusi 5%.

Untuk itu, pengusaha diminta jangan merasa terbebani melakukan kemitraan. "Kalau tidak bantu petani maka tidak ada industri sawit. Pengusaha jangan mau kaya sendiri. Sekarang,sekitar 42% usaha perkebunan sawit sudah dilakukan petani. Tidak akan berkembang industri pengolahan,tanpa dukungan pemerintah," terangnya.

Bungaran mengakui upaya tersebut tidak berlanjut di usaha budidaya peternakan ayam broiler. Tanpa ada semangat metode inklusif , dia mengkhawatirkan industr peternakan akan memasuki fase sunset karena ancaman masuknya  impor daging ayam dari Brasil dan Amerika Serikat yang tinggal menunggu waktu.

Terkait isi bukunya,Bustanul Arifin mengatakan terdiri dari 17 bab yang diantaranya membahas transformasi struktural sektor pertanian yang sudah dikritisi, perubahan teknologi pertanian, ancaman krisis dan, budidaya padi yang sangat bergantung perubahan cuaca. Selain itu buku ini juga mengulas kontroversi impor komoditas pangan strategis seperti beras, gula serta kedelai.

"Adapun terkait isu jagung pakan, di buku ini saya menawarkan selain peningkatan produktivitas jagung juga segera dikeluarkan data jagung yang mengacu Kerangka Sampel Area. Hal ini penting sebagai perencanaan lebih matang dan tidak ada kontroversi," terangnya.

Isue perunggasan dan ternak sapi di Tanah Air yang sangat bergantung dengan Australia juga diulas. Kemudian biofuel dan permasalahan pupuk turut menjadi ulasan. Korporasi pertanian melalui sistem inklusif pertanian yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan sistem mata rantai digital pertanian yang membutuhkan tokoh milienal guna mentransformasikan penyuluhan pertanian.kbc11

Bagikan artikel ini: