APPBI ungkap banyak mal diobral akibat kehabisan dana cadangan

Senin, 1 November 2021 | 09:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejumlah pusat perbelanjaan atau di Tanah Air terpaksa harus dijual murah oleh pengelolanya. Salah satunya adalah Mal Cibinong Square di Bogor, Jawa Barat.

Langkah ini dilakukan karena para pengelola kehabisa dana cadangan akibat pandemi Covid-19, meski saat ini pelonggaran telah dilakukan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, kebijakan ketat akibat pandemi Covid-19 memberi dampak signifikan terhadap keuangan perusahaan. Tidak ada pilihan lain, ketika dana cadangan dari aset tersebut mulai habis.

"Pandemi yang berkepanjangan dengan berbagai pembatasan yang diberlakukan membuat banyak pusat perbelanjaan kehabisan dana cadangan untuk bertahan," kata Alphonsus seperti dikutip, Minggu (31/10/2021).

Kondisi keuangan yang berbeda dari setiap pengelola mal membuat kemampuan bertahan di tengah krisis juga sarat dengan perbedaan.

Alphonzus membaca bahwa tekanan yang berat justru dialami para pengelola pusat perbelanjaan yang telah terpuruk pada masa sebelum pandemi. Sehingga, tantangan mereka jauh lebih besar saat ini.

"Kemampuan pusat perbelanjaan tidak sama satu dengan yang lain. Demikian juga bagi pusat perbelanjaan yang sebelum pandemi memiliki kinerja kurang maksimal, maka akan mengalami tekanan yang lebih berat untuk bertahan selama pandemi," katanya.

Namun, Alphonzus meyakini prospek usaha pusat perbelanjaan bakal meningkat sejalan dengan kembali aktifnya masyarakat bepergian ke luar, melakukan aktivitas belanja dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

"Prospek usaha pusat perbelanjaan ke depan masih sangat baik mengingat pusat perbelanjaan adalah salah satu fasilitas masyarakat untuk memenuhi keperluan dasar dan kebutuhan hidup masyarakat. Sektor usaha ritel adalah termasuk dalam sektor konsumsi masyarakat yang masih mendominasi perekonomian Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mencermati penjualan mal umumnya dilakukan pengusaha dalam rangka asset recycling.

Monetisasi aset baik dalam bentuk penjualan maupun penyewaan dinilai perlu apabila ingin mendapatkan dana segar, khususnya untuk mengalihkan portofolio investasi yang dinilai lebih aktif saat pandemi. Inilah yang membuat harga-harga properti mal cenderung tertekan alias lebih murah dari harga wajar.

"Fenomena penjualan mal di tengah pandemi adalah opsi yang dipilih oleh pengembang dalam melakukan asset recycling. Umumnya opsi ini dipilih untuk mendapatkan dana segar dan mengalihkan portofolio ke aset yang dinilai lebih aktif di tengah pandemi," katanya.

Untuk diketahui, sejumlah pusat perbelanjaan dan mal belakangan ini banyak diobral murah oleh para pengusaha. Kabar penjualan tersebut sempat heboh di media sosial. kbc10

Bagikan artikel ini: