Tak semua anak 6-11 tahun bisa divaksin Covid-19, ini yang dikecualikan

Rabu, 3 November 2021 | 18:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperbarui rekomendasinya terkait vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun. Hal ini usai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat dosis CoronaVac, vaksin Covid-19 dari Sinovac, untuk anak usia 6-11 tahun.

"Rekomendasi terbaru ini dikeluarkan karena anak juga dapat tertular dan atau menularkan virus corona dari dan ke orang dewasa di sekitarnya walau tanpa gejala," ujar Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, dalam keterangannya, Selasa (2/11/2021).

Dia mengutip sejumlah laporan hasil pembelajaran tatap muka dari beberapa negara di dunia yang menyatakan adanya peningkatan kasus rawat inap pasien anak dengan Covid-19. Sedang di Indonesia, per 1 November 2021, menunjukkan proporsi kasus anak terinfeksi Covid-19 sebesar 13 persen.

Atas dasar itu, mengikuti EUA dari BPOM, IDAI merekomendasikan imunisasi Covid-19 anak usia 6-11 tahun menggunakan Coronavac. Vaksin Sinovac itu sama, diberikan secara intramuskular dalam dua kali suntikan yang berjarak 4 minggu, hanya dengan dosis tiap suntikan 3 mikrogram (0,5 ml).

IDAI juga mengingatkan bahwa vaksinasi ini tidak direkomendasikan bagi anak yang memiliki atau mengalami kontraindikasi seperti defisiensi imun primer. Anak-anak dengan penyakit autoimun tidak terkontrol, penyakit Sindrom Gullian Barre, mielitis transversa, acute demyelinating encephalomyelitis juga termasuk yang tidak diharapkan menerima suntikan vaksin itu.

"Selain itu, juga tidak dianjurkan untuk anak pengidap kanker yang sedang menjalani kemoterapi/radioterapi dan anak yang sedang mendapat pengobatan imunosupresan/sitostatika berat," katanya.

Vaksin juga diminta tidak diberikan kepada anak yang sedang mengalami demam 37,5  derajat Celsius atau lebih, anak baru sembuh dari Covid-19 kurang dari tiga bulan, atau pascaimunisasi lain kurang dari sebulan. Apabila ada anak yang memiliki hipertensi dan diabetes melitus, dan atau penyakit-penyakit kronik atau kelainan kongenital yang tidak terkendali, mereka juga dikecualikan dari vaksinasi.

Rekomendasi juga memberi catatan bahwa imunisasi untuk anak dengan kanker dalam fase pemeliharaan, penyakit kronis atau autoimun yang terkontrol dapat mengikuti panduan imunisasi umum dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien sebelumnya.

IDAI juga mengingatkan bahwa sebelum dan sesudah vaksinasi semua anak tetap memakai masker dengan benar, menjaga jarak, tidak berkerumun, jangan bepergian bila tidak penting. Semua dokter anak anggota IDAI dikatakan Piprim juga diharapkan mengikuti panduan pelaporan imunisasi dan pemantauan setelahnya.

Sekjen IDAI, Hikari Ambara Sjakti menambahkan, rekomendasi vaksinasi ini sifatnya dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan bukti-bukti ilmiah yang terbaru. kbc10

Bagikan artikel ini: