Cegah masuknya mutasi varian Delta Plus masuk RI, ini langkah pemerintah

Jum'at, 5 November 2021 | 08:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah terus berupaya memperkuat pintu masuk negara guna mengantisipasi potensi masuknya varian AY.4.2 atau mutasi varian Delta Plus.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, varian ini tengah menjadi variant of monitoring oleh Badan Kesehatan Inggris dan hingga saat ini belum ditemukan di Indonesia.

Namun tidak menutup kemungkinan adanya potensi varian ini justru muncul karena mutasi di dalam negeri. Dimana di Indonesia sendiri telah ditemukan varian mutasi dari varian Delta sebanyak 22 mutasi.

"Tentunya ada dua sisi yang diantisipasi oleh pemerintah pertama untuk menangkal kemungkinan masuknya dari luar, tentunya penguatan daripada pintu masuk negara," jelasnya saat Dialog Produktif Kamis yang disiarkan FMB9ID _IKP, Kamis (4/11/2021).

Untuk penguatan pintu masuk negara, pemerintah menerapkan bahwa pelaku perjalanan luar negeri itu harus telah divaksinasi lengkap, minimal 14 Hari sebelum keberangkatan. Kemudian, pelaku perjalanan luar negeri harus menyertakan pemeriksaan PCR dengan hasil negatif Covid-19 3x24 jam.

Selanjutnya sesampainya di Indonesia harus melakukan karantina selama 5 hari bagi yang sudah divaksin dosis pertama serta 3 hari bagi yang sudah vaksin lengkap dan di hari pertama dan ketiga melakukan entry dan exit test.

"Kalau dia sudah mendapatkan vaksinasi lengkap maka karantinanya bisa cukup dengan 3 hari tapi kemudian di hari pertama dan hari ketiga itu melakukan tes yang kita sebut entry dan exit tes," imbuhnya.

Selain itu, Indonesia juga memiliki kriteria negara mana saja yang dapat masuk ke Indonesia sebagai upaya cegah tangkal masuknya varian baru. Adapun kriterianya ialah negara tersebut telah masuk dalam status PPKM Level 1 dan 2, serta positivity rate di negara tersebut di bawah 5%.

"Jadi ini upaya upaya kita untuk dalam rangka cegah tangkal di pintu negara selain tentunya seluruh kalau kita menemukan ada kasus yang positif itu dilakukan pemeriksaan whole genome squencing," imbuhnya.

Namun Nadia menegaskan, langkah cegah tangkal di pintu masuk negara juga harus sejalan dengan pemantauan kasus di dalam negeri. Mengingat mutasi varian Delta masih berpotensi berkembang.

Untuk antisipasi mutasi varian Delta di dalam negeri pemerintah akan mempercepat vaksinasi dan menekan laju penularan. Dengan demikian diharapkan tidak memberi kesempatan varian Delta di Indonesia untuk berkembang lebih lanjut.

Ketua Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane menjelaskan, mutasi pada virus Covid-19 sudah berlangsung cukup lama. Maka upaya yang harus dilakukan ialah bagaimana agar varian baru tidak tersebar antar negara.

"Maka yang harus dilakukan ialah menjaga pintu masuk kita. Yaitu dengan tiga kali testing, satu kali di negara asal kemudian dua kali test entry dan exit test di Indonesia. Tetapi diantaranya ada masa karantina," ujar Masdalina.

Pemerintah juga perlu memperbanyak squencing terutama bagi pelaku perjalanan dari negara yang sedang terinfeksi berat. Di mana Masdalina menyebut seperti Singapura Inggris dan sebagian besar Eropa termasuk Rusia merupakan wilayah yang perlu mendapat perhatian.

Pada dasarnya Masdalina mengatakan, varian mutasi Delta yaitu Delta Plus sudah ada di Indonesia. Hanya saja Masdalina menyebut untuk varian Delta Plus yang menjadi concern yaitu AY.4.2 belum ditemukan di Indonesia. Masdalina berharap varian AY.4.2 tidak masuk ke Indonesia.

"Delta dan Delta plus memiliki reproduktif number yang lebih tinggi dari varian lainnya antara 6-8. Jadi satu kasus bisa tularkan 6-8 orang. Bahkan dalam masa inkubasi 2-14 hari dia baru terinfeksi sudah dapat menularkan jadi ngga nunggu 2 hari terinfeksi sudah dapat menularkan. Jadi lebih cepat menularkan dan lebih banyak," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: