Ajukan KUR, pelaku UMKM masih sering dipersulit

Minggu, 7 November 2021 | 07:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) mengungkap bahwa sebagian pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih dimintai agunan oleh penyalur kredit usaha rakyat (KUR) saat mengajukan permohonan fasilitas tersebut. Padahal, seharusnya fasilitas kredit 'wong cilik' itu tak butuh agunan.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM Eddy Satriya mengatakan, temuan ini didapat dari laporan yang masuk ke kementerian. Kementerian pun mencoba berkoordinasi dengan lembaga penyalur KUR untuk memastikan aduan tersebut.

"Kita dapat masukan, laporan, dalam perjalanan ini masih ada debitur yang dipersulit, baik yang KUR mikro, super mikro, diminta pakai agunan. Berbagai kendala ini langsung kita komunikasikan ke stakeholder," ungkap Eddy di konferensi pers virtual, Jumat (5/11/2021).

Kendati begitu, Eddy tidak mengungkap laporan ini berasal dari masyarakat yang mengakses bank penyalur mana. Begitu pula dengan daerah asal pelapor.

"Tapi kami akui masih ada beberapa lokasi, daerah, kami tidak tahu apa karena ada oknum yang nakal beri syarat tambahan agunan atau bagaimana, padahal seharusnya tidak perlu dan ini mempersulit," katanya.

Saat ini, laporan ini masih harus menunggu hasil penelusuran di lapangan. Namun, ia memastikan kementerian sudah secara paralel menghubungi sejumlah bank penyalur.

Kementerian, sambung Eddy, akan menindaklanjuti berbagai laporan ini dengan lebih serius. Caranya dengan mendirikan sebuah portal pengaduan atau call center yang bisa diakses masyarakat.

Dengan begitu, masyarakat yang menjadi korban permintaan agunan saat mengakses KUR bisa langsung melaporkan ke kementerian. Rencananya, call center ini akan diluncurkan pada 1-2 minggu ke depan.

"Kami serius sekali pada hal ini (mendirikan call center). Paling tidak dua minggu, mudah-mudahan bisa cepat sekitar satu minggu," jelasnya.

Eddy mencatat, realisasi penyaluran KUR mencapai Rp237,08 triliun per 3 November 2021. Realisasinya mencapai 83,19 persen dari pagu Rp285 triliun pada tahun ini.

"Realisasi ini diberikan kepada 6.282.042 debitur," ungkap Eddy.

Realisasi ini terdiri dari KUR mikro mencapai Rp147,82 triliun kepada 4,84 juta debitur, KUR kecil atau khusus Rp80,22 triliun ke 413,88 ribu debitur, KUR super mikro Rp9,02 triliun ke 1,02 juta debitur, dan KUR penempatan TKI Rp17,29 miliar ke 1.123 debitur.

Sementara dari tingkat bunga, pemerintah memberikan subsidi bunga kepada penerima KUR, yakni untuk KUR super mikro 13 persen, KUR mikro 10,5 persen, KUR kecil 5,5 persen, dan KUR penempatan TKI 14 persen. Dengan subsidi ini, maka bunga yang diterima nasabah cuma 3 persen.

Di sisi lain, kementerian menyatakan ada peningkatan penyaluran KUR syariah, khususnya di Aceh. Pasalnya, pemerintah setempat mengeluarkan aturan bahwa bank yang boleh beroperasi di provinsi itu hanyalah bank syariah. Kendati begitu, belum ada data rinci yang bisa dibagi oleh kementerian. kbc10

Bagikan artikel ini: