PLN: Akselerasi ekosistem mobil listrik butuh perluasan insentif fiskal

Minggu, 21 November 2021 | 17:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) meminta pemerintah membuat kebijakan tambahan untuk mengakselerasi ekosistem mobil listrik agar dapat diterima masyarakat secara luas.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, pihaknya optimistis mobil listrik akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, sehingga perlu kebijakan yang lebih menarik untuk membeli mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional.

"Kami berterima kasih pajak PPnBM mobil listrik sudah dihapus, tetapi ada dua pajak lain, yakni PPN dan PPH yang dinikmati mobil fosil yang saat ini belum dimiliki mobil listrik," kata Zulkifli di Jakarta, Minggu (21/11/2021).

Bagi PLN, kata Zulkifli, transisi sektor otomotif ke energi listrik bukan hanya meningkatkan demand listrik di saat kondisi suplai listrik mengalami surplus saja. Mobil listrik juga terbukti lebih unggul dibandingkan dengan mobil konvensional untuk dapat menuju Indonesia yang lebih hijau dan cerah di masa depan.

Dia menjelaskan, emisi karbon mobil listrik hanya 50% dibandingkan dengan mobil konvensional, meskipun listriknya berasal dari PLTU. Selain itu, sumber energi untuk mobil listrik juga diperoleh bukan dari produk impor, sehingga sangat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Disamping itu, uji jalan mobil listrik yang dilakukan langsung  jajaran direksi PLN beberapa waktu lalu juga membuktikan penghematan yang bisa didapat masyarakat dengan menggunakan mobil listrik. Pada uji jalan tersebut, pengendara mobil listrik hanya perlu merogoh kocek Rp 10.000 saja untuk menempuh jarak 72 kilometer.

Jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak (BBM), untuk jarak tempuh yang sama, masyarakat harus merogoh kocek sekitar Rp 60.000, dengan asumsi harga BBM Rp 9.000 per liter. Dengan menggunakan mobil listrik, pemerintah bisa mengurangi beban current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang terus tergerus dengan impor minyak mentah.

Terlebih, saat ini PLN memiliki cadangan daya atau reserve margin mencapai 35%. "Dengan reserve margin yang begitu tinggi, mobil listrik mungkin bisa membantu dari sisi current account deficit," ujarnya.

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah terus mendorong sektor transportasi untuk berpindah dari kendaraan berbasis fosil menjadi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Airlangga mengaku mobil listrik yang memiliki harga jual lebih tinggi 30 % dari harga mobil konvensional menjadi tantangan tersendiri. "Memang dari sisi harga, EV [Electric Vehicle] memang lebih mahal 30–40 persen dibandingkan dengan mobil ICE [Internal Combustion Engine]," terang dia.

Di sisi lain, lanjut Airlangga, Presiden Joko Widodo juga mendorong agar kendaraan yang beredar di Indonesia sebisa mungkin harus ramah lingkungan atau memiliki emisi rendah. Selain KBLBB, pemerintah juga masih melihat perkembangan teknologi kendaraan berbasis energi hidrogen.

"Sehingga teknologi itu bukan sesuatu yang statis, karena ke depan teknologi akan terus berkembang," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: