Target investasi 2022 dipatok Rp1.200 triliun, ini strategi Menteri Bahlil

Selasa, 23 November 2021 | 20:35 WIB ET
Bahlil Lahadalia
Bahlil Lahadalia

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, target investasi tahun depan mencapai Rp 1.200 triliun. Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN), target realisasi investasi pada 2022 sebesar Rp 968,4 triliun.

Namun, berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, target yang harus dicapai sebesar Rp 1.200 triliun. Sebagai catatan, pada tahun 2021, target investasi ditetapkan sebesar Rp 900 triliun. Hingga kuartal III atau Januari-September, realisasi investasi mencapai Rp 659,4 triliun atau 73,3% dari target 2021.

"Memang ini bukan pekerjaan gampang, tapi saya punya keyakinan dengan pengalaman 2021 dan target 2022, dengan satu kombinasi sektor hilirisasi, maka Insha Allah akan tercapai," kata Bahlil dalam Economic Outlook 2022, Selasa (23/11/2021).

Sejumlah strategi pun disiapkan Bahlil untuk mencapai target Rp 1.200 triliun. Pertama, dengan melakukan promosi untuk meyakinkan para investor bahwa Indonesia merupakan negara yang ramah investasi. Kedua, mempermudah dan membantu pelayanan izin.

Ketiga, membantu proses financial closing jika memang dibutuhkan. "Kemudian kita bantu lagi sampai dengan eksekusi konstruksi di lapangan. Kita bantu dia sampai dia berproduksi," katanya.

Sebelum akhir tahun ini, BKPM telah mengamankan sejumlah kesepakatan investasi dalam jumlah besar, termasuk di sektor hilirisasi. Pada awal November, perusahaan bidang pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat (AS), Air Products and Chemicals Inc (APCI), akan berinvestasi sebesar US$15 miliar atau setara Rp 210 triliun untuk pembangunan industri gasifikasi batu bara dan turunannya di Indonesia.

Bahlil juga berharap pandemi Covid-19 bisa terus dikendalikan untuk semakin mempercepat pemulihan ekonomi sekaligus menarik investasi. Dia memproyeksikan kondisi dan situasi perekonomian dalam negeri pada 2022 akan lebih cerah dibandingkan dengan 2021.

"Catatannya adalah Covid harus kita kendalikan. Jangan kita berargumentasi dengan hal-hal tidak produktif karena dunia akan melihat. Jadi, membangun optimisme tidak cukup oleh pemerintah," katanya.

Terkait realisasi hingga kuartal III tahun ini, Bahlil mengatakan porsi realisasi investasi di luar Jawa baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kian besar dari waktu ke waktu.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya pemerataan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Dari realisasi investasi periode Januari-September 2021 sebesar Rp 659,4 triliun, sebanyak 51,7% atau setara dengan Rp 340,7 triliun masuk ke luar Pulau Jawa. Sementara, 48,3% atau setara dengan Rp 318,7 triliun masuk ke Pulau Jawa. "Ini menandakan bahwa, pembangunan infrastruktur oleh pemerintahan Pak Joko Widodo di periode pertama itu betul-betul sudah kita rasakan hasilnya," kata Bahlil.

Investasi tidak akan masuk ke sebuah daerah jika daerah tersebut tidak memenuhi syarat tertentu seperti, sumber daya alam dan infrastruktur yang memadai. Karena itulah, menurutnya, pembangunan infrastruktur menjadi instrumen dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi baru. kbc11

Bagikan artikel ini: