Hilirisasi industri sawit gerus ekspor CPO tinggal 12 persen

Rabu, 24 November 2021 | 21:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia terus berbenah mengembangkan hilirisasi produk derivatif minyak sawit mulai tahun 2012. Akselerasi program yang ditopang investasi di lini midstream dan onstream ini membuat posisi ekspor minyak sawit mentah (Crude Palim Oil /CPO) tergerus hingga 12% saja di tahun 2021.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menerangkan, komoditas sawit memainkan peran penting dalam perekonominan nasional. Karena itu pihaknya perlu meluruskan sehubungan anggapan banyak elemen masyarakat yang menyebutkan industri sawit hanya terkait dengan CPO. Padahal dalam perkembangan industri sawit nasional anggapan ini jelas keliru. Sejak hilirisasi sawit mulai digencarkan di tahun 2011, kala itu posisi ekspor CPO masih sekitar 40%.

"Namun, di tahun 2021, sekarang posisinya (ekspor CPO red) tinggal 12%, Artinya, semakin banyak produk olahan yang dihasilkan dari CPO. Seperti Apical Group yang begitu cepat dalam beberapa tahun terakhir menghasilkan produk derivatif dari produk CPO," ujar Saat dalam sebuah media brefieng di Jakarta, baru baru ini.

Menukil data Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  menyebutkan porsi ekspor produk turunan kelapa sawit 80%, sementara ekspor CPO sebesar 20% di tahun 2021. Padahal, di tahun 2011 , porsi ekspor produk turunan masih sebesar 20%, sedangkan eskpor CPO sebesar 80% masih mendominasi.

Adapun, hingga Agustus 2021, rasio volume ekspor produk olahan sudah meningkat menjadi 90,7% dan ekspor CPO sebesar 9,27%. Hal tersebut sejalan dengan peta jalan pengembangan industri hilir kelapa sawit yang diatur Peraturan Menteri Perindustrian no 13 tahun 2010. Adapun kekuatan  industri  sawit nasional ditopang ketersediaan bahan baku yang melimpah. Di tahun 2020, produksi CPO dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) mencapai 52,14 juta ton.

Saat mengelompokkan produk olahan sawit kedalam tiga kategori besar yakni produk tidak berubah struktur kimianya (food), produk olahan sawit yang mengalami perubahan (fatty acid) dan ketiga adalah biodisel. Sementara dari regulator juga menyebutkan industri sawit nasional telah mampu menghasilkan 160 produk hilirisasi dari bahan baku CPO.

Adapun dalam kacamata perdagangan global produk minyak sawit tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan 17 jenis minyak nabati dunia lainnya. Setiap tahun pertumbuhan minyak nabati tumbuh 3,5% atau sektiar 7,4 juta ton.

Kontribusi sawit memainkan peranan besar turut mengisi kebutuhan lebih dari 7 miliar penduduk dunia. Apabila hanya mengandalkan minyak soya dan rapeseed,maka yang terjadi justru terjadi deforestasi besar-besaran. Pasalnya dengan produktivitasnya hanya 0,6 ton/hektare(ha)/tahun maka perlu penambahan areal 10 juta ha areal baru setiap tahunnya. “Atau setara 137 kali luas Singapura (728,6 km red)," tandasnya.

Sementara, dari minyak nabati dari sawit jauh lebih efisien dibandingkan minyak nabati lainnya. Karena, petani mampu menghasilkan 4,6 ton/ha. Perhitungan ini dengan asumsi rendemen 21%, hanya memerlukan pertambahan areal 1,3 juta/ha/tahun.

Saat memberikan catatan deforestasi tidak perlu terjadi. Dalam peta jalan investasi sumber daya alam , apabila dikaitkan pencapaian target Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar US$1,1 triliun maka pengelolaan sawit sebagai komoditas strategis harus ditekankan sejumlah aspek.

Pertama optimalisasi produktivitas petani hingga mampu mencapai lebih dari 20 ton tandan buah segar (TBS)/ha/tahun, dari kondisi real saat ini sebesar 9,2 ton TBS/ha/tahun. Luas areal pengelolaan sawit rakyat yang mencapai 6,8 juta ha, jika usaha budidaya petani memenuhi prinsip Good Agriculture Practices (GAP) maka dalam empat tahun ke depan produksi sawit nasional mampu mencapai 65 juta ton.

Kedua, pola kerja/pengelolaan yang berkelanjutan di seluruh alur industri sawit, ketiga kontribusi semua elemen untuk penurunan emisi gas rumah kaca (GRK), keempat inovasi produk sawit bernilai tambah tinggi. "Dana riset di Badan Penyelenggara Kelapa Sawit (BPDPKS) yang saat ini di level 2% harus ditingkatkan menjadi 7,5%," tegasnya.

Kemudian aspek kelima, hilirisasi teknologi produk bernilai tambah tinggi. Keenam, handling cost di pelabuhan Indonesia harus kompetitif dan kesiapan regulator menyiapkan kontainer, menilik kelangkaan di tahun 2020 dan awal tahun 2021. Adapun aspek ketujuh, perlu dibentuk badan khusus yang khusus menangani komoditas sawit. Institusi ini memiliki prinsip akuntabilitas tinggi dan indenpen guna mengindari tumpang tindih regulasi yang menghambat pertumbuhan industri sawit.

Produk Bernilai Tambah

Royal Golden Eagle Palm Business Director selaku Apical Group Bernard Riedo menuturkan pihaknya melihat upaya hilirisasi dapat menjadi peluang bagi industri kelapa sawit untuk mampu menghasikan produk bernilai tambah. Dalam hal ini, tujuan hilirisasi CPO dapat dioptimalkan melalui serangkaian investasi.Bernard pun mengakui hilirisasi produk olahan berkontribusi jauh lebih besar dari perusahaan.

Indikator keberhasilan hilirisasi industri minyak sawit dalam negeri adalah ratio volume ekspor antara bahan baku (CPO/CPKO) dibandingkan produk olahan. Pada kurun waktu 2016-2020, ratio volume ekspor bahan baku dengan produk olahan berada di tingkat 20% vs. 80%. Pada tahun 2021 s/d. Agustus 2021, ratio volume ekspor meningkat menjadi 9,27% vs. 90,73% (data GAPKI diolah Kemenperin).

"Saat ini, lebih dari 160 ragam jenis produk hilir olahan minyak sawit telah mampu diproduksi di dalam negeri, di antaranya untuk keperluan pangan, fitofarmaka, bahan kimia (oleokimia), hingga bahan bakar terbarukan (biodiesel). Angka ragam jenis ini mengalami peningkatan yang signifikan dari ragam jenis pada tahun 2011 yang hanya mencapai 54 jenis produk saja," tambahnya.

Bernard menjelaskan, Apical Group berupaya memanfaatkan peluang dengan meningkatkan kaspasitas dalam negeri untuk tetap memproduksi produk bernilai tambah berorienasi ekspor. "Karena kan kita lihat sebenarnya volume CPO sendiri sudah menurun di tingkat dunia, karena kebanyakan yang diekspor sekarang adalah produk turunan. Berarti, negara tujuan itu bisa dibilang cuma perlu satu-dua langkah lagi untuk sampai di konsumsi, sedangkan kalau CPO harus melalui serangkaian proses dulu," paparnya.

Bernard pun memberi apresiasi upaya pemerintah dalam rangka mendukung hilirisasi melalui serangkaian kebijakan seperti perbedaan pungutan tarif ekspor CPO dan produk turunannya secara progresif sesuai rantai nilai industri. Bernard meyakini penetapan struktur pentarifan ini akan mendukung pertumbuhan industri pengolahan sawit.

Ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai Tarif Pungutan Dana Perkebunan, yaitu PMK No 133/2015/Juncto PMK 76/2021 dan PMK tentang Tarif Bea Keluar yakni PMK No 128/2011 Juncto PMK 166/2020.

"Kita harus mengapresiasi semangat hilirisasi. Bagi Apical sendiri, itu merupakan suatu pencapaian bisnis model yang harus dijalankan Apical ke depannya, karena Apical tetap adalah bagian dari RGE Group dalam industri kelapa sawit yang berfokus pada midstream to downstream," terang dia.

Bernard mengatakan, komitmen keberlanjutan dalam operasional industri sawit merupakan sebuah keharusan. "Karena itu, aspek keberlanjutan menjadi inti transformasi positif dalam rantai pasok industri sawit RGE Indonesia," katanya.

Apical telah memasarkan produk olahan minyak sawit lebih dari 30 negara di lima benua. Komitmen dan praktik keberlanjutan membuat RGE Group dipercaya menjadi pemasok bahan baku oleh raksasa global seperti Unilever, Nestle, P&G, Kao, dan puluhan lainnya.

Menurut Bernard tantangan dalam bisnis sawit saat ini adalah harus bisa menjawab isu tentang keberlanjutan, bukan saja untuk memenuhi tuntutan pasar global, tapi juga menjalankan komitmen perusahaan. "Kami memegang prinsip 5C, yakni Climate, Country, Community, Customer, dan Company," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menghentikan CPO sebagai bagian dari rencana hilirisasi industri sawit. Sebagai gantinya, CPO harus diolah terlebih dahulu menjadi produk bernilai tambah, seperti kosmetik, mentega, dan biodiesel. kbc11

Bagikan artikel ini: