Fasilitasi UMKM Go Global, Kadin Jatim gelar INAPRO EXPO 2021

Kamis, 25 November 2021 | 19:53 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dalam rangka pemulihan ekonomi nasional serta mengakselerasi dan pendampingan produk export non-migas di wilayah Indonesia bagian timur, diperlukan wadah untuk bertemunya pelaku usaha ekonomi masyarakat untuk dapat berdiskusi dan bertukar pengalaman, dan untuk promosi produk unggulan di Jawa Timur.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional didampingi dengan Gubernur Jawa Timur dan juga Ketua Kadin Indonesia resmi membuka pameran INAPRO EXPO 2021. Pelaksanaan pameran akan berlangsung selama 4 hari yaitu 25-28 November 2021 di Grand City Convex, Surabaya.

Pameran yang didukung penuh oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jatim yang bekerjasama dengan berbagai asosiasi di Jawa Timur untuk mensukseskan acara ini. INAPRO EXPO diikuti kurang lebih 100 stand yang terdiri dari Organisasi Peringkat Daerah (OPD) pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten/Kota Seluruh Jawa Timur, Bumn/Bumd, Asosiasi, Pelaku usaha, dan masih banyak lainnya. INAPRO EXPO 2021 merupakan pameran produk lokal Hybrid terbesar yang mengangkat tema "Product Local to Global Market" yang dilakukan secara Online dan Offline.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi Peningkatan Ekonomi Nasional (PEN) menyambut baik pelaksanaan pameran ini untuk pemulihan ekonomi nasional dalam mendukung kemajuan UMKM, dukungan dari semua pihak terlibat dan ikut bergerak. Caranya dengan memberikan tempat-tempat terbaik bagi UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produk-produknya.

Pameran ini merupakan ajang yang menarik untuk semakin meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai produk-produk unggulan daerah khususnya dari Jawa Timur dan juga memberikan gambaran tentang bagaimana pelaku usaha dapat menjual produknya hingga kancah internasional sehingga nantinya kegitan kegiatan ini dapat membantu mempercepat pemulihan ekonomi nasional khususnya Jawa Timur.

Didi Sumedi mengungkapkan pada triwulan III/2021 Indonesia tumbuh sebesar 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dan selama 19 bulan terakhir neraca perdagangan mengalami surplus. Bahkan pada Oktober 2021 surplus perdagangan Indonesia mencetak rekor tertinggi sebesar US$ 5,7 miliar dan secara kumulatif kinerja ekspor Januari hingga Oktober 2021 mencapai US$ 186,3 miliar naik 41,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Jika peningkatan ekspor ini konsisten sampai akhir tahun, maka Indonesia akan mendapatkan ekspor tertinggi dalam sejarah. Karena sebelumnya ekspor tertinggi sebelumnya terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar US$ 203 miliar. Tren positif ini tidak lepas dari peran vital pengusaha secara konsistensi bersama pemerintah melakukan perbaikan  kinerja ekspor," ujarnya.

Namun Indonesia harus tetap waspada terhadap tantangan perdagangan global saat ini yang semakin kompleks. Kemungkinan ancaman krisis energi, krisis pangan, persaingan era digital, kenaikan harga komoditas, perubahan global suplai change, isu lingkungan serta perubahan iklim.

"Dalam mendorong kinerja perdagangan kementerian perdagangan mempunyai beberapa strategi antara lain memelihara pangsa pasar ekspor tradisional dan menjaga nilai ekspor produk utama dan sekaligus memanfaatkan peluang ekspor di pasar non tradisional sebagai ekspor pasar alternatif, antara lain Afrika timur tengah eurasia Amerika latin melalui kegiatan partisipasi aktif pameran dagang dan misi dagang. Dan mendorong pelaku usaha untuk melakukan ekspor ke negara yang telah memiliki perjanjian dagang dengan Indonesia," tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa Jawa Timur ekonomi Jatim adalah yang terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Dan pada triwulan III/2021 kontribusi ekonomi Jatim terhadap nasional mencapai 14,54 persen. Sedangkan kontribusi Jatim terhadap ekonomi Jawa mencapai 25,33 persen. Tetapi posisi ekspor luar negeri mengalami defisit. Untuk itu perlu upaya meningkatkannya.

"Dan saya sangat berterima kasih karena Kadin telah menyiapkan tutor, asesor yang bersertifikat. Dan apa yang coba kita lakukan dengan berbagai ikhtiar dari lokal produk ke global market menjadi suatu harapan baru. Strong partnership harus terus diperkuat," tandasnya.

Senada, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsyad Rasyid mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi dua peperangan, yaitu perang melawan pandemi dan perang ekonomi. Perang melawan pandemi harus dimenangkan karena kalau tidak memenangkan maka roda ekonomi tidak bisa jalan dan semua tidak akan merasa aman.

Yang kedua adalah perang ekonomi, bagaimana perang dagang antar China dengan Amerika serta Rusia sehingga menimbulkan berbagai dampak positif dan negatif.

Dia menyontohkan industri mebel dimana pad hari ini mendapatkan demand sangat besar dari Erika yang tidak pernah mendapatkan demand dari Amerika serikat sebesar hari ini. "Ini adalah sejarah, karena adanya perang dagang antara China dengan Amerika. Dan pada saat ini produk Indonesia banyak yang diinginkan diantaranya adalah apparel dan tekstil yang selama ini dianggap sunset industri. Tapi pada saat ini menjadi industri yang dilirik. Peminatan dari luar negeri sangat besar. ini adalah suatu peluang yang tidak boleh diabaikan," kata Arsyad.

Dan kekuatan ekonomi Indonesia adalah UMKM. "Di sisi ini saya bangga apa yang dilakukan Jatim karena UMKM sebagai fondasi kekuatan Jatim dan Indonesia. Dengan adanya INAPRO EXPO ini bagaimana produk Indonesia bisa dilihat dunia," ujar Arsyad.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengungkapkan bahwa Pameran INAPRO Expo 2021 adalah akumulasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Kadin Jatim untuk membantu percepatan ekonomi Jatim dan dukungan atas program Jatim Bangkit yang dicanangkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Adik menegaskan, sejauh ini Kadin telah melakukan berbagai kegiatan untuk penguatan UMKM agar bisa naik kelas, diantaranya adalah membimbing dan menciptakan pendamping UMKM bersertifikat. Selain itu, bersama Bank Indonesia dan Pemprov Jatim, Kadin Jatim juga telah mendirikan Rumah Kurasi yang bertugas menstandarkan produk UMKM agar bisa diterima di pasar global.

"Agar Rumah Kurasi ini bisa bekerja maskimal membantu UMKM, Kadin Jatim bersama BNSP telah membimbing dan melatih serta mensertifikasi sekitar 5 kurator di setiap kabupaten kota di seluruh Jatim. Dan kami menargetkan ada sekitar 1.000 produk yang bisa dikurasi," tandas Adik.

Kadin Jatim bersama Kementerian Perdagangan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim juga telah mendirikan Export Center Surabaya sebagai upaya membawa produk UMKM "Go Global Market". "Ini menjadi paket lengkap yang dimiliki Kadin Jatim untuk membawa produk dalam negeri ke pasar global," katanya.

Di sisi lain, Adik juga mengajak kepada seluruh masyarakat Jawa Timur bersama-sama menggelorakan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia atau Gernas BBI. Karena Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang mencapai 272 jiwa, menjadi pasar yang sangat potensial untuk dipertahankan dan dimaksimalkan agar bisa menjadi tuan di negeri sendiri.

Dengan memilih produk lokal, maka akan ada banyak pengusaha UMKM dan petani kecil yang terbantu. "Jangan sampai pasar Indonesia yang sangat besar ini justru dikuasai produk asing," tegas Adik.

Untuk itu, dia berharap bahwa pameran kali ini bukan sebagai puncak melainkan baru permulaan sebagai momentum lahirnya era baru pameran hybrid yg berkualitas dan menjadikan agenda tahunan yang ditunggu masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Kadin Jatim  melakukan penandatanganan kerjasama dengan perbagai pihak. Diantaranya dengan Bank Indonesia dan Universitas Ciputra terkait pembentukan "House of Enterpreneur". "Ini kami anggap penting karena kemajuan dan kesejahteraan bangsa terletak dari seberapa besar jumlah rakyatnya yang menjadi enterpreneur atau wirausaha," ungkapnya.

Adik menegaskan, saat ini jumlah wirausaha Indonesia baru mencapai sekitar 3,47 persen dari total penduduk. Jumlah ini jauh dibawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, dimana tingkat kewirausahaanya sudah berada di angka 4,74 persen dan 4,26 persen. Sedangkan, Singapura menjadi yang tertinggi yakni sebesar 8,76 persen.

Kadin Jatim juga menandatangani MoU dengan Persatuan Wartawan Indonesia Jatim dan HIPMI Jatim sebagai dukungan atas Gernas BBI. Adik mengungkapkan, peran media sangat penting karena mereka adalah ujung tombak yang bisa mengubah opini masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri. "Kami berharap, para awak media juga akan tertarik menjadi enterpreneur, menjadi wirausaha di masa kini dan masa depan," katanya.

Selanjutnya Kadin Jatim telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan Pasca Sarjana Unair terkait pengembangan SDM dan dengan HM Sampoerna terkait pembinaan UMKM serta pemagangan Mahasiswa dalam rangka menyukseskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Sementara Kadin Institute melakukan penandatanganan kerjasama dengan UNESA terkait pelatihan dan pemagangan Mahasiswa dan dosen juga dalam kerangka Merdeka Belajar Kampus Merdeka.kbc6

Bagikan artikel ini: