Lampu kuning! Varian Omicron berpotensi bikin ekspor RI tersendat

Selasa, 7 Desember 2021 | 14:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Varian baru Covid-19 Omicron mulai menghantui banyak negara di dunia. Varian baru ini pun dikhawatirkan ikut memberikan ancaman ke ekonomi global.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, varian Omicron bisa menahan momentum pemulihan ekonomi Indonesia karena bisa berpengaruh ke kegiatan ekspor impor.

Jika Omicron meluas, tak perlu masuk ke Indonesia saja, kemungkinan rantai pasok global bakal terhambat karena ada pengetatan di berbagai negara. Bisa-bisa ekspor terhenti dan kontribusinya ke ekonomi Indonesia berkurang.

"Misalnya dari sisi ekspor, selama ini sektor ini kan diandalkan di 2021 untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Takutnya ekspor ini jadi tertunda karena logistik terganggu imbas Omicron," ungkap Bhima seperti dikutip, Senin (6/12/2021).

"Rantai pasok pun jadi kacau. Ini bisa jadi berita buruk jadinya," imbuhnya.

Kinerja ekspor Indonesia memang terus moncer selama tahun ini. Terakhir, pada Oktober 2021 tercatat sebesar US$22,03 miliar. Angka ini naik 53,35% dibandingkan periode Oktober tahun lalu yang sebesar US$14,36 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kinerja ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penyebabnya adalah karena harga komoditas dari Indonesia yang mengalami kenaikan seperti minyak kelapa sawit yang tumbuh 22,54%, besi dan baja tumbuh 12,70% dan timah tumbuh 37,29%.

"Betul, ekspor Oktober merupakan yang tertinggi dalam sejarah dan sepanjang masa," kata Kepala BPS Margo Yuwono.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan saat ini dampak Omicron belum begitu dirasakan ekonomi Indonesia, karena varian itu belum masuk ke Indonesia. Meski begitu, kekhawatiran di dunia usaha diyakini sudah mulai kelihatan.

Dia mengatakan, pemerintah harus lebih waspada dengan varian yang satu ini. Jangan sampai virus ini mudah masuk ke Indonesia seperti saat varian Delta dulu.

"Dampak ke perekonomian memang belum ada cuma kekhawatiran sudah ada. Pemerintah jangan sampai lambat lagi kali ini seperti varian Delta, ini harus head the curve segala kemungkinan masuk harus ditahan," ungkap Faisal. kbc10

Bagikan artikel ini: