Bank Jatim dorong usaha AMKE Batu bangkit dari pandemi

Rabu, 15 Desember 2021 | 09:43 WIB ET
Sri Asih (kiri) saat menerima kunjungan jajaran direksi Bank Jatim di AMKE Batu.
Sri Asih (kiri) saat menerima kunjungan jajaran direksi Bank Jatim di AMKE Batu.

PANDEMI Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Salah satunya objek wisata dan edukasi Area Model Konservasi Edukasi (AMKE) di Desa Oro Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Tidak adanya aktivitas akibat pembatasan kegiatan masyarakat membuat pengelola usaha ini harus merumahkan lebih dari 30 karyawannya.

Akibat pandemi, tidak ada lagi pesanan bibit dan pupuk. Tidak ada lagi kunjungan dan pengunjung.

"Selama pandemi hampir dua tahun, pengunjung warga sekitar pun hanya sesekali. Semua mengikuti aturan yang terkait pandemi. Seperti saat PPKM, harus tutup tidak boleh ada kunjungan. Kemudian setelah ada pelonggaran, kembali membuka kunjungan lagi. Dan ini sejak November 2021, kami sudah mulai mendapat kunjungan dan pesanan bibit dan pupuk lagi. Dan kunjungan dari warga sekitar Batu, Malang dan sekitarnya sudah mulai berdatangan," ungkap Sri Asih, Penyuluh Kehutanan dan Pendamping serta Pimpinan Pengelola AMKE saat menerima kunjungan media bersama jajaran direksi Bank Jatim, Minggu (12/12/2021).

Meski tidak ada pesanan hingga kunjungan, lanjut Sri Asih, AMKE tetap berkreasi untuk bisa mendapatkan pemasukan.

Dari 17 wahana edukasi yang mereka bangun sejak tahun 2019, masih ada 7 wahana yang bisa dikunjungi.

Pihaknya juga menyediakan area kuliner dan wahana permainan anak-anak, termasuk pembibitan untuk tanaman hias.

"Dari itu kami masih ada pemasukan. Meski dari 50 karyawan hanya 15 yang bisa digaji. Tanaman hias yang sedang naik daun saat pandemi, berhasil membuat pendapatan bersih kami bisa di kisaran Rp 4 jutaan per minggu," ungkap Sri Asih.

Tak hanya itu, untuk usaha minyak atsiri, budidaya kambing etawa, dan madu, juga mengalami peningkatan, termasuk sentra kuliner yang menyediakan aneka produk cemilan dan yang paling terbaru adalah olahan dari umbi porang.

"Kami bisa produksi pentol, siomay dan tahu bakso dari tepung umbi porang," beber Sri Asih.

AMKE Batu sendiri merupakan kawasan wisata yang dikelola secara mandiri oleh warga Kelompok Tani Hutan (KTH) Panderman, Oro-Oro Ombo, Kota Batu sejak 2018. Awalnya, pengelola wisata ini hanya terdiri dari 32 kelompok tani, tetapi kini berkembang menjadi 72 kelompok.

Kawasan wisata yang memanfaatkan tanah desa seluas 10 hektare ini digarap dengan konsep wisata edukasi mulai dari edukasi pembibitan, pembuatan pupuk organik hingga pengembangan kandang komunal untuk hewan seperti kambing.

Pada tahap awal usahanya adalah menyediakan aneka macam bibit dan pupuk tanaman. Untuk melayani pengadaan dari kegiatan tanam pohon masal oleh instansi pemerintah maupun swasta.

Dari kegiatan itu, omzet yang didapat bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan, dengan rata-rata per minggu antara Rp 150-250 juta.

Di tahun 2019, mereka menambah fasilitas dengan wahana edukasi bagi pelajar hingga instansi.

Selain karyawan di AMKE juga ada sekitar 72 petani yang ikut mengurus lahan di bawah kaki gunung Panderman tersebut.

Mereka yang mengurus tanaman bibit pohon, tanaman hias, porang, budidaya jamur, budidaya kambing etawa, dan lainnya.

Paket edukasi dikenakan biaya Rp2,5 juta untuk 20-30 orang dan akan mendapatkan fasilitas materi, praktik, suvenir, konsumsi dan sertifikat. Jika peserta hanya di bawah 20 orang, maka biaya dikenakan Rp125.000/orang, dengan durasi edukasi selama 3 jam.

Selain itu, juga terdapat area camp permanen yang dapat disewakan seharga Rp180.000/tenda untuk 4 orang. Jika hanya ingin berkunjung saja, tiket masuk dihargai Rp10.000/orang. 

"Pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Batu dari Panderman, dan juga bisa menikmati cafe yang ada dengan hidangan olahan seperti bakso, siomay, es krim dari porang. Ke depan rencananya kami juga akan kembangkan tempat pengolahan hasil panen jamur, diolah jadi makanan langsung agar bisa dinikmati pengunjung," imbuh Sri Asih.

UMKM Bank Jatim Award

Inovasi dan potensi usaha yang dimiliki membuat AMKE berhasil menjadi salah satu pemenang UMKM Bank Jatim Award dan telah mendapatkan hadiah berupa alat penyulingan minyak atsiri dan pengolahan madu.

"AMKE memenangkan UMKM Bank Jatim Award ini karena memiliki model usaha yang cukup unik dan bagus dengan memberdayakan masyarakat sekitar Oro-Oro Ombo. Harapannya AMKE bisa dikembangkan lagi, tentunya dengan peran perbankan dalam hal permodalan," kata Direktur Risiko Bisnis Bank Jatim, Rizyana Mirda.

Selain menerima hadiah, AMKE juga telah mendapatkan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Jatim dengan realisasi sebesar Rp275 juta. Rencananya, dana KUR tersebut dikembangkan untuk rumah produksi berbagai tanaman hasil hutan, dan hasil olahan bisa dijual kepada pengunjung. Ke depan, AMKE juga akan mengembangkan program penggemukan kambing dan sapi.

"Kita semua berharap agar pandemi terus membaik, dan AMKE bisa semakin dikenal orang, dan kunjungan bisa meningkat. Dengan berkunjung ke AMKE ini juga bagian dari upaya membantu pemulihan ekonomi nasional," imbuh Mirda. kbc7

Bagikan artikel ini: