Prediksi Bank Dunia, ekonomi RI 2021 tumbuh 3,7% dan tahun depan 5,2%

Jum'at, 17 Desember 2021 | 10:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2021 akan tumbuh kisaran 3,7 persen dan kembali meningkat pada tahun depan menjadi 5,2 persen.

Menurut Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen, pemulihan ekonomi di tahun depan dapat dicapai apabila Indonesia tidak mengalami gelombang Covid-19 serta akibat munculnya varian baru.

Selain itu, Bank Dunia melihat risiko adanya virus varian baru Omicron yang telah menyerang beberapa negara di dunia, di tengah vaksinasi yang masih belum merata akan memberikan dampak melemahnya lagi perekonomian RI tahun depan.

"Jika faktor itu dikombinasikan dengan global yang lebih lemah, maka dapat menurunkan pertumbuhan Indonesia menjadi 3,3 persen pada tahun 2022 sebagaimana dirinci dalam laporan utama," katanya secara virtual, Kamis (16/12/2021).

Namun demikian, untuk proyeksi kinerja ekonomi 2022 Bank Dunia menilai tidak ada yang berubah.

Bank Dunia mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi dapat berlangsung optimal disertai percepatan vaksinasi Covid-19, hingga mencapai 70 persen dari populasi pada tahun depan.

"Proyeksi mengasumsikan bahwa vaksin peluncuran akan berkembang dengan sebagian besar provinsi mencapai cakupan vaksin 70 persen pada 2022, dan Indonesia tidak akan mengalami gelombang baru Covid-19 yang parah," kata dia.

Dia menambahkan, ketidakpastian pandemik masih menjadi tantangan bagi semua negara dan bahkan mencuat istilah bahwa Covid-19 berpotensi menjadi endemik. Lantaran Covid-19 tidak akan hilang begitu saja dalam waktu cepat.

"Istilah Covid-19 bisa menjadi endemik yang akan menimbulkan tantangan baru seperti mempertahankan vaksin yang memadai dan tindakan kesehatan lainnya," tuturnya.

Di sisi lain, Bank Dunia meminta arah kebijakan moneter dan fiskal domestik yang tetap akomodatif dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun depan. Dengan dukungan pertumbuhan perdagangan global dan kenaikan harga komoditas yang moderat di tengah pengetatan kondisi keuangan global.

"Konsumsi rumah tangga dan intensif dunia usaha diperkirakan rebound lebih kuat karena vaksinasi yang lebih luas meningkatkan sentimen konsumen dan beberapa permintaan akan meningkat," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: