Bangun RS bertaraf internasional, pemerintah ingin orang RI tak lagi berobat ke luar negeri

Selasa, 28 Desember 2021 | 09:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, jumlah masyarakat Indonesia yang melakukan pengobatan di luar negeri tercatat cukup banyak. Jumlahnya bisa mencapai 2 juta orang per tahun.

Seiring dengan hal tersebut, devisa negara yang keluar juga tercatat sangat banyak.

"Hampir 2 juta masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri, dan ini tentunya devisa kita yang keluar sangat banyak," ujar Erick dalam groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali, Senin (27/12/2021).

Sejumlah negara tujuan berobat warga Indonesia antara lain seperti Singapura, Malaysia, Jepang, hingga Amerika Serikat.

Untuk itu, pemerintah kini membangun Rumah Sakit Internasional Bali.

Erick mengatakan, rumah sakit internasional ini mempunyai dua fungsi.

Selain membantu Bali untuk mempunyai pariwisata baru dan pariwisata kesehatan, rumah sakit ini juga diharapkan bisa mendukung pelayanan kesehatan bagi para investor yang pekerja atau profesionalnya berada di Indonesia.

"Karena investasi itu artinya juga mereka ingin memastikan kesehatan mereka terjamin, standar kesehatan internasional untuk pekerjanya ataupun para profesional yang ada di Indonesia," pungkas Erick.

Dalam kegiatan ground breaking RS Internasional Bali yang terletak di Kawasan Wisata Sanur ini, dihadiri pula Presiden Joko Widodo. Di kesempatan tersebut dia mengharapkan, warga negara Indonesia (WNI) tak akan lagi berobat ke luar negeri.

"Kita harapkan nanti Sanur ini menjadi KEK kesehatan dan kita harapkan tidak ada lagi, kalau ini jadi, tidak ada lagi rakyat kita, masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan," papar Presiden.

Indonesia bakal memiliki rumah sakit bertaraf internasional yang bisa bersaing dengan rumah sakit terkenal di luar negeri.

Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Internasional Bali.

Bahkan pembangunan Rumah Sakit Internasional Bali ini diawali dengan groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo.

Pembangunan rumah sakit tersebut akan bekerjasama dengan Mayo Clinic Amerika Serikat.

Nantinya kawasan tersebut juga akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan.

"Kita harapkan, kalau ini jadi, tidak ada lagi rakyat kita masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan," ujar Jokowi saat groundbreaking, Senin (27/12/2021).

Jokowi bilang, setiap tahunnya terdapat 2 juta orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Sehingga dengan adanya rumah sakit bertaraf internasional tersebut diharapkan dapat mengurangi hal itu.

Bahkan adanya Rumah Sakit Internasional Bali akan membuat orang dari luar Indonesia datang.

"Setiap tahun ada kurang lebih 2 juta masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan, baik itu ke Singapura, baik itu ke Malyasia, baik itu ke Jepang, baik itu ke Amerika dan tempat-tempat lainnya. Dan kita kehilangan (potensi pendapatan) Rp 97 triliun karena itu," ungkap Jokowi.

Jokowi mendorong Indonesia menjadi destinasi wisata kesehatan. Sehingga kehadiran rumah sakit internasional akan meningkatkan kunjungan ke Bali.

Ditargetkan Rumah Sakit Internasional Bali akan rampung dan beroperasi pertengahan tahun 2023. Selain rumah sakit, Jokowi juga mendorong pengembangan industri obat dan alat kesehatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan keinginannya agar pemerintah dapat menghentikan impor baik alat kesehatan, obat-obatan, maupun bahan baku obat.

Presiden berharap, barang-barang tersebut dapat diproduksi sendiri di Tanah Air. 

"Alat-alat kesehatan, obat-obatan, bahan baku obat, kita harus berhenti untuk mengimpor barang-barang itu lagi dan kita lakukan, kita produksi sendiri di negara kita," ujar Presiden.

Guna menekan impor bahan baku obat, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa BUMN Indofarma akan fokus dalam pengembangan industri herbal pada pengobatan.

Erick menilai Indonesia memiliki alam dan kultur yang mumpuni guna mengembangkan industri tersebut. "Industri herbal sendiri kita punya kekuatan Pak, memang kita mempunyai alam dan punya kultur mengenai industri herbal ini. Karena itu Indofarma kita akan fokus pengembangan industri herbal daripada pengobatan," jelas Erick.

Erick Thohir mengatakan bahwa saat ini jajarannya telah mengonsolidasikan klaster kesehatan BUMN.

Hal tersebut merupakan bagian dari pembentukan ekosistem guna memperkuat ketahanan dan kemandirian kesehatan.

"Kita tahu ekosistem ini menjadi kunci. Kalau kita berdiri sendiri-sendiri, akhirnya tentu kita tidak punya kekuatan yang terpadu untuk menahan gelombang yang terjadi ke depannya," ujarnya.

Kementerian BUMN juga telah berhasil menggabungkan Bio Farma sebagai perusahaan induk (holding company) yang membawahi Kimia Farma, Indofarma, dan sejumlah rumah sakit yang berada di bawah Indonesia Healthcare Corporation (IHC).

Selain itu, secara bisnis Bio Farma diharapkan mampu membuka peluang baru dalam industri kesehatan seperti industri vaksinasi.

"Karena itu kita coba sekarang bekerja sama dengan berbagai pihak apakah merupakan vaksin mRNA atau protein rekombinan yang hari ini memang masih terus kita jajaki," lanjutnya.

Terkait vaksinasi, Erick menjelaskan bahwa pada 13 Desember 2021 telah dimulai uji klinis vaksin produksi Bio Farma.

Dengan dimulainya uji klinis tersebut, Erick berharap tahun depan Indonesia mampu memproduksi vaksin secara mandiri.

"Tentu kita harapkan dengan uji klinis ini kesatu lalu kedua dan ketiga, kita juga bisa menekan impor vaksin di tahun depan. Kita siap memproduksi 77 juta (dosis) untuk langkah awal yang bisa mulai insyaallah di bulan Juli," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: