RI pimpin pasar IPO di ASEAN tahun ini, kalahkan Thailand dan Singapura

Kamis, 30 Desember 2021 | 15:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia memimpin pasar initial public offering (IPO) di sepanjang tahun ini. Pasar Indonesia mencatatkan 55 IPO dan menghasilkan dana hingga US$4,8 miliar. Adapun posisi kedua adalah Thailand dengan 40 IPO yang menghasilkan US$ 4,1 miliar.

Sedangkan posisi berikutnya adalah Filipina (6 IPO menghasilkan US$2,4 miliar), Singapura (8 IPO menghasilkan US$1,2 miliar) dan Malaysia (23 IPO menghasilkan US$0,6 miliar).

EY Asean IPO Leader and Singapore and Brunei Managing Partner, Ernst & Young LLP, Max Loh menyebutkan, kinerja bursa efek di kawasan ASEAN pada tahun 2021 patut diapresiasi dengan 132 transaksi menghasilkan US$13,1 miliar. Jumlah itu naik dari 111 transaksi yang menghasilkan US$7,7 miliar pada tahun 2020.

Di tengah tantangan yang sedang berlangsung, ekonomi ASEAN terus menunjukkan harapan dengan ekosistem kewirausahaan, start-up dan private equity yang dinamis. Hal ini menjadi pertanda baik untuk kegiatan IPO, karena perusahaan yang sedang berkembang akan terus memanfaatkan pasar modal untuk mendorong ekspansi.

"Seperti pasar lainnya, nilai jangka panjang dan pertimbangan terkait keberlanjutan akan lebih menonjol untuk kandidat IPO ke depan," kata Max dalam pernyataan resmi, Rabu (29/12/2021).

Pada Q4/2021, pasar modal Indonesia kedatangan 17 emiten baru dengan perolehan dana sekitar US$2,5 miliar, sementara di Q4/2020 hanya lima perusahaan yang melangsungkan IPO dengan perolehan dana US$24 juta. Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan menutup tahun 2021 dengan 55 IPO dengan nilai penghimpunan dana US$4,8 miliar.

Lead Strategy and Transactions Partner PT Ernst & Young Indonesia, Sahala Situmorang mengatakan, selama Q4/2021, BEI mengalami lonjakan signifikan dalam perolehan dana IPO. "Ini bisa menjadi pertanda positif karena upaya vaksinasi mulai membuahkan hasil yang ditandai dengan penurunan tajam kasus baru Covid-19 dari puncak keduanya pada Juli 2021," kata dia.

Di tahun 2021, jumlah perusahaan yang masuk kategori kecil (32,7%), menengah (34,6%), dan besar (32,7%) dari segi pengumpulan dana cenderung merata di pasar modal Indonesia. Berbeda dengan tahun lalu, dimana 41,2% perusahaan yang go public masuk kategori kecil, 54,9% sedang, dan hanya 3,9% yang tergolong besar. Consumer cyclicals (sektor barang konsumsi non-primer) dan teknologi menjadi dua sektor yang paling ramai dalam IPO tahun ini, dimana masing-masing berkontribusi sekitar 21,8% dan 14,6% dari total IPO.

Pada akhir Desember 2021, BEI mengeluarkan peraturan pencatatan baru yang memberikan lebih banyak fleksibilitas dalam hal persyaratan pencatatan. Pendekatan ini diyakini akan memberikan akses yang lebih luas bagi berbagai jenis perusahaan untuk masuk bursa. Pada saat yang sama, BEI juga memperkenalkan pedoman bagi emiten untuk berpindah dari papan utama ke papan pengembangan dan sebaliknya.

Sahala menambahkan, pipeline IPO BEI untuk 2022 terlihat menjanjikan. Saat ini, ada sekitar 25 perusahaan baru yang berencana go public pada tahun depan, termasuk beberapa perusahaan BUMN dan unicorn. "Pasar berharap menyambut beberapa transaksi besar atau bahkan rekor baru di BEI," ujar dia. kbc10

Bagikan artikel ini: