Harga telur ayam naik, kemitraan peternak rakyat dan besar harus dievaluasi

Jum'at, 31 Desember 2021 | 06:50 WIB ET

Jakarta – Kenaikan harga telur ayam yang mencapai Rp 34.000 dalam beberapa minggu terakhir membuktikan adanya persoalan  pada pola kemitraan antara peternak rakyat dengan peternak menengah dan besar. 

“Tidak mulusnya pola kemitraan itu membuat sistem produksi peternak rakyat tidak kuat,” katan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Bustanul Arifin, di gedung Bina Graha, Kamis (30/12), menanggapi naiknya harga telur ayam. 

Menurutnya, lemahnya ketahanan sistem produksi membuat peternak rakyat gulung tikar saat dihantam pandemi COVID19 varian Delta pada pertengahan tahun 2021. “Sehingga saat permintaan naik seperti saat Nataru peternak kesulitan memenuhinya," tutur Bustanul. 

Ia menilai, jika pemerintah melakukan intervensi dengan pengaturan harga referensi justru tidak akan memecahkan masalah, dan akan memunculkan masalah lain dengan dimensi yang berbeda. 

“Ini masalanya pada struktural. KSP akan mengkomunikasikannya pada Kementan, termasuk soal batasan pembudidayaan ayam petelur yang dilakukan oleh pihak integrator,” pungkas Bustanul Arifin.

Bagikan artikel ini: