Bakal bikin bisnis jadi 'No Human Touch', begini prospek Metaverse ke depan

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Metaverse adalah penggabungan antara augmented reality, virtual reality, blockchain, dan Web 3.0. Secara sederhana, metaverse menghadirkan jaringan dunia dalam wujud virtual tiga dimensi.

Metaverse dianggap tidak memiliki batas dan saling terhubung. Lantas apa yang menjadi pembeda antara metaverse dan platform yang sudah ada saat ini?

"YouTube, Instagram, Facebook, dan platform lainnya berbasis Web 2.0, di mana semuanya memiliki kesamaan pada aturan kepemilikan, yaitu ‘community ownership’. Sementara itu metaverse yang dibuat dalam sistem blockchain dan Web 3.0 sifatnya individual ownership," jelas Co-founder Digikai Studio, Yoshua baru-baru ini.

Lebih lanjut dia menjelaskan, perbedaan antara community ownership dengan individual ownership, "Community ownership artinya kita harus mematuhi peraturan komunitas yang dibuat oleh platform. Contohnya YouTube bisa menghapus video unggahan kita, bahkan menangguhkan channel kita," terangnya.

"Dalam metaverse tidak demikian, karena sistem individual ownership tadi, kita mendapat hak kepemilikan secara utuh. Sebut saja foto, video, lagu bahkan hingga real estate dan kapal pesiar," tambah Yoshua.

Tak hanya mengubah cara bersosialisasi, metaverse juga disebut memberikan dampak pada aspek bisnis. Lewat akun Instagram-nya, @talktoyosh, Yoshua beranggapan metaverse akan sangat berpengaruh pada kegiatan bisnis di masa mendatang.

"Metaverse akan mengubah segala aspek, terutama dalam hal bekerja atau menjalankan bisnis," kata pria bernama lengkap Yoshua Markus Mariwu ini.

Dia melanjutkan, ke depannya perjanjian bisnis akan disepakati di ruang pertemuan virtual oleh kedua belah pihak menggunakan perangkat VR. "Jika sudah diterapkan, ini akan membuat bisnis menjadi 'No Human Touch' dan transaksinya pun menggunakan kripto," ujar Yoshua yang meyakini bahwa implementasi metaverse akan lebih optimal, dengan memenuhi beberapa hal.

"Untuk bisa mewujudkan hal ini kita perlu teknologi komputasi yang jauh lebih cepat, quantum computing misalnya, dan juga teknologi blockchain yang lebih solid, mata uang kripto yang stabil, dan regulasinya yang matang," lanjut Yoshua.

Dia bilang, ke depannya Metaverse akan membuat mata uang kripto lebih diminati dan digunakan secara masif sebagai alat tukar, bukan sebagai investasi lagi. "Setiap negara mungkin akan meluncurkan mata uang kripto yang sah atau mengeluarkan regulasi atau membiarkan ekonomi dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan yang meluncurkan mata uang kripto," tutupnya.

Untuk diketahui, Facebook telah mengumumkan investasi besar-besaran untuk membangun "Metaverse". Metaverse secara sederhana dapat didefinisikan sebagai realitas digital. Mirip dengan World Wide Web, tetapi menggabungkan aspek media sosial, augmented reality, game online, dan cryptocurrency, untuk memungkinkan pengguna melakukan aktivitas dan berinteraksi secara virtual.

Konsep ini memang masih di tahap awal pengembangan, tapi potensinya dinilai sangat-sangat besar. Fenomena cryptocurrency tahun ini semakin marak di dunia. Hal ini sebagian disebabkan oleh meningkatnya kesadaran publik tentang non-fungible tokens (NFT) --sebuah teknologi yang dapat memainkan peran kunci dalam metaverse. kbc10

Bagikan artikel ini: